Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
(Happy) Ending


Bang Jack. Sekarang aku mesti fokus menata masa depanku bersamanya. Kusimpan kotak perhiasan itu ke dalam tas tanganku, kemudian, Justin menekan bel dan suara Bang Jack terdengar dari dalam sana.


"Rose...?" Dia terpaku setelah pintu terbuka.


"Terima kasih, Tuan Justin."


"Ya, Nyonya. Kalau begitu tugas saya sudah selesai. Saya permisi."


Yeah, tugasnya memang sudah selesai. Selamat tinggal, Tuan Justin.


Well, Bang Jack meraih tanganku dan mengajakku masuk. Dia pun langsung memelukku erat-erat. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya.


"Aku dan James sudah bercerai."


"Serius? Apa yang terjadi?"


"Tidak perlu dibahas, tolong?"


Mengerti. Bang Jack mengangguk. "Baiklah. Aku paham. Yang penting kamu baik-baik saja dan dia tidak berbuat jahat padamu, kan?"


Aku mengangguk. Kuraih tangan Bang Jack dan menaruhnya di perutku. "Aku hamil," kataku.


Sulit untuk kujelaskan, ekpresi keterkejutan mendominasi di wajah Bang Jack. "Hamil? Kamu hamil?"


Kuanggukkan kepala dengan mata berkaca. Tetapi...


"Rose...," suara yang tidak asing memanggilku.


Praktis aku terkejut menyadarinya. "Mama? Mama ada di sini?"


"Aku sudah menyelesaikan tugasku. Sesuai kesepakatan, dia tidak akan lagi mengganggu keluargaku."


Kesepakatan? Apa itu yang dimaksud James saat kami sarapan tadi?


Tidak. Aku harus mengenyahkan semua pikiran yang sudah tidak penting lagi untuk dibahas. Aku harus fokus dengan situasi sekarang. Mama memelukku, dia menangis bahagia. Setelah sekian lama terkurung di rumah sakit jiwa, kini ia kembali kepada keluarganya.


"Mama turut sedih, Sayang. Tapi James harusnya tidak bisa menceraikanmu dalam keadaan hamil."


Aku menggeleng. "Aku tidak apa-apa. Aku sudah bercerai dan artinya pernikahan itu sudah berakhir. Oke?"


"Tapi kehamilanmu...?"


Aku menatap kepada Bang Jack. Dia mengerti, dan dia bertanya tanpa suara, Itu anakku?


Aku mengangguk kepadanya. Tapi ini tidak mungkin bisa kujelaskan kepada Mama. Situasiku malah bertambah rumit. Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan Bang Jack dengan adanya Mama di sini?


"Jack."


"Ya, Ma?"


"Kamu punya pacar?"


Eh?


"Jawab saja, Nak."


"Tidak. Tidak ada, Ma."


"Bisa Mama minta hal yang besar padamu?"


"Apa pun, Jack akan memenuhi semuanya."


Mama tersenyum dalam tangis. Dia meraih tanganku dan meraih tangan Bang Jack. "Nikahi Rose."


"Apa?" aku dan Bang Jack sama-sama terkejut.


Bagaimana mungkin? Apa Mama tahu kalau aku bukan putrinya yang asli? Itu yang terlintas di benakku.


"Tapi, Ma," kataku.


"Maksud Mama bagaimana? Jack tidak mengerti."


"Maafkan Mama, Nak. Kamu bukan anak kandung Mama."


Bagaikan petir di siang bolong. Siapa yang mengira kalau ini kenyataannya?


"Kamu anak sepupunya Papa. Ibumu meninggal sewaktu dia melahirkanmu. Sejak saat itu, Mama dan Papa sepakat untuk merawatmu dan menganggapmu sebagai anak kandung kami. Kami sengaja merahasiakan kebenaran itu darimu karena kami memang tidak ingin kamu mencari tahu asal-usulmu dan siapa orang tua biologismu. Mama juga tidak tahu siapa ayahmu. Ibumu datang ke Indonesia dalam keadaan hamil besar. Dia tidak pernah memberitahu kami apa yang terjadi padanya sehingga dia sampai hamil. Dia takut kalau Papa akan berbuat nekat kalau dia mengetahui siapa lelaki yang menghamili sepupunya."


Setelah mendengar semua penjelasan itu aku menarik kesimpulan: sebelum Rose Peterson lahir, Mama dan Papa berada dalam pernikahan tanpa anak dalam waktu belasan tahun. Mungkin itu yang melatarbelakangi perselingkuhan Papa dengan ibunya James. Cinta lama yang bersemi kembali, selain -- mungkin juga tentang misinya sebagai polisi. Dan ketika Mama hamil, Papa memutuskan meninggalkan ibunya James. Pantas saja Mama pernah mengatakan kalau Rose adalah penyempurna pernikahannya. Rose adalah anak semata wayang Mama dan Papa. Dan wajar saja jika Mama sampai depresi setelah kehilangan putrinya. Penantian lama dalam pernikahan, tetapi malah terampas darinya karena perselingkuhan suaminya sendiri. Malang sekali takdir Mama.


"Maafkan Mama, Jack. Maafkan Mama."


Bang Jack sangat shock, dia tidak bisa mengatakan apa pun. Aku tahu dia kecewa. Setelah puluhan tahun mengabdi sebagai seorang putra keluarga, kenyataan pahit ini yang ia dapatkan. Sementara aku, aku ikut terjebak dalam kemelut keluarga ini.


Andai saja Bang Jack tahu dia bukan anak kandung Mama, dia bisa menikahiku dan membawa Mama pulang saat pertama kali Mama mengira kalau aku putri kandungnya. Dan semua hal buruk yang terjadi kepadaku, juga cinta segitiga ini, semua tidak akan terjadi kalau kami mengetahui kenyataan ini dari awal.


"Mama, bisa aku bicara dengan Bang Jack berdua?"


Mama yang masih menangis mengangguk setuju, dia pun segera pergi ke kamarnya. Kamar yang Bang Jack tempati.


"Abang...."


"Aku tidak tahu harus mengatakan apa."


"Tidak ada yang perlu dikatakan. Hanya satu, nikahi aku. Abang mau menikahiku, kan? Demi anak ini. Anakmu. Anak kita."


Ya Tuhan... Jack Peterson dan James Harding, dua orang pria yang sama malangnya.


"Aku akan menikahimu, bukan hanya demi anak kita, tapi juga demi dirimu, dan demi cintaku padamu. Aku mencintaimu, Rose Emilia Fransiska Peterson."


Aku mengangguk, tersenyum bahagia dan menangis dalam keharuan. "Terima kasih. Terima kasih juga karena Abang sudah bersedia menungguku."


Sungguh aku bahagia, karena sekarang dia tidak hanya akan menjadi kekasihku, tapi juga suamiku, penyelamatku, teman hidup, seorang kakak, sekaligus bodyguard seksi dan tangguh dalam kehidupanku.


Maafkan aku, Rose Peterson. Aku, Emilia Fransiska, aku terpaksa mengambil tempatmu, dan statusmu, untuk melanjutkan kehidupanku. Maafkanlah aku....