
Aku terbangun tujuh jam kemudian dalam posisi nyaman di dalam pelukan Bang Jack. Waktu aku membuka mata, kulihat Bang Jack sedang menatapku. Senyum simpul seketika menghiasi wajahnya.
Aku balas tersenyum. "Abang sedang apa?" tanyaku.
"Memandangimu," katanya, lalu ia mengangkat tangan satunya dan menelusurkan jarinya di pipiku. "Apa sekarang kamu membenciku?" tanyanya.
Aku menggeleng dan memejamkan mataku sejenak. Aku tidak heran dengan pertanyaan Bang Jack mengingat situasi yang telah terjadi di antara kami. "Aku tidak akan pernah bisa membencimu," kataku. "Tidak akan pernah."
"Meskipun...?"
"Yeah."
"Kamu tidak kecewa padaku, atau menyesali yang kulakukan padamu?"
"Abang...," --aku menarik napas dalam-dalam dan jantungku berdegup lebih kencang-- "aku mencintaimu. Melebihi apa pun di dunia ini. Seandainya takdir berpihak kepadaku, kepada cinta kita, aku ingin sesegera mungkin pergi bersamamu, pergi jauh meninggalkan tempat ini."
Lagi. Bang Jack tersenyum dan kali ini lebih semringah dengan semangat jelas menaunginya wajah tampannya. "Akan kulakukan yang terbaik," ujarnya, kemudian ia mengecup puncak hidungku. "Terima kasih untuk tidak menyesali semuanya."
Aku mengangguk. "Em, tidak akan. Hanya saja caranya, harusnya tidak seperti ini."
"Aku mengerti. Tapi tidak usah dipikirkan. Hanya saja, mungkin ke depannya nanti akan terjadi sesuatu yang buruk. Tapi, aku berjanji, sebelum hal itu terjadi, aku akan menyingkirkan James. Aku tidak akan membiarkanmu kembali lagi padanya. Kamu akan tetap selalu berada di sisiku. Aku berjanji."
"Ssst... jangan berkata seperti itu." Jemari Bang Jack menempel di bibirku. "Kebahagiaan tidak untuk sekali. Aku ingin hidup lebih lama denganmu. Meski aku akan mati dalam cinta ini, tapi aku akan selalu berusaha untuk berjuang, oke? Jangan menyerah. Aku sudah terlalu dalam tenggelam dalam cintamu. Aku tidak ingin kita berakhir."
Oh... aku tersentuh. Bibirku tak mampu menahan senyum. "Tidak akan. Tidak akan berakhir semudah itu."
Bang Jack kembali tersenyum, kemudian ia mencium keningku -- hangat dan lama. "Kamu milikku, sampai kapan pun. Hanya milikku."
"Mmm-hmm... kata-katamu sangat manis. Aku suka."
Bang Jack menggeleng. "Tak semanis dirimu," tanggapnya. Ia menatapku dalam tanpa kedip dengan belaian jemari menelusuri wajahku, kemudian jemarinya menuruni bahuku dan meluncur manis ke belakang punggungku sehingga membuat napasku terhenti. Bibirnya turun menutupiku dalam ciuman yang kaya oleh berbagai rasa. Dengan gairah, bibirnya bertemu bibirku, *engulumku dan merasaiku dengan pelan. Bibirnya sempurna, hangat dan manis. Dia menyapukan bibirnya kembali, menggigit ringan, mengisa* lembut, dan ia kembali berada di atasku, seperti yang ia lakukan semalam.
Aku tidak tahu sejak kapan, tetapi ia sudah kembali terbakar oleh hasrat. Pun aku. Tanpa menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh kami, Bang Jack memasukiku dalam satu sentakan keras, dengan kasar mendesakkan tubuhnya ke dalam, menumpukkan tubuhnya di atasku dan membuatku terlalu kaget menerima dirinya. Ini masih sakit. Mataku terpejam sesaat lalu terbelalak lebar.
Dengan tatapan tanpa kedip, Bang Jack mengangkat dirinya dan menunduk menatap wajahku untuk waktu yang lama. "Feel me," bisiknya. "Aku masih punya cukup tenaga sampai matahari terbit. Bagaimana denganmu?"
Haha! Aku tertawa. "Baiklah kalau begitu. Tunjukkan saja kemampuanmu. Abang ingin membuat pagiku lebih indah, bukan?"
"Of course. Because I love you, Baby."
Uuuh... dasar bodyguard gombal! Tapi aku suka. Mumpung kita masih bisa bersama....