Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Hamil?


"Rose... aku... ingin memberitahukan... sesuatu."


"O ya? Apa itu?" tanyaku -- dengan sangat antusias.


"Ini," katanya. James mengeluarkan amplop cokelat dari saku jas-nya. "Ini hasil pemeriksaanmu kemarin. Maaf, aku terpaksa menutupi hal ini darimu. Aku hanya takut... kalau kamu mengetahui soal ini, kamu...."


Deg!


"Ak--aku... aku sakit? Aku sakit apa?"


"Kamu tidak sakit. Baca saja."


"Kamu membuatku takut."


Dengan gemetar, aku membuka amplop itu dan membuka kertas di dalamnya. Hasil pemeriksaanku: positif hamil.


"Ya Tuhan! Aku...?"


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu sampai hamil. Aku salah. Aku tahu aku salah."


"Kenapa...? Kenapa jadi seperti ini? Kenapa aku...?" Tidak seharusnya aku hamil secepat ini. Hubunganku dan Bang Jack sekarang sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana sekarang? Tapi aku tidak mungkin menolak anak ini. Ini anakku. Tapi....


James menggenggam tanganku. Dia menatapku sendu. "Kalau Jack tidak bersedia menerima anak ini, aku bersedia, Rose. Aku akan mempertanggungjawabkan kesalahanku. Aku berjanji."


Aku tahu Bang Jack tidak mungkin menolak anak ini. Ini anaknya. Aku yakin ini anaknya. Tapi aku, aku sedang merasa tidak pantas untuk dicintai olehnya, apalagi menikah dengan Bang Jack dalam waktu dekat. Bagaimana ini? Aku....


"Rose...?"


Aku menggeleng. "Bang Jack tidak mungkin menolak anak ini. Tapi...."


"Kabari aku apa pun yang terjadi. Aku akan selalu ada untukmu. Semua ini karena kesalahanku dan aku akan bertanggung jawab. Jangan khawatir, ya? Ada aku."


Ini bukan kesalahanmu sepenuhnya, James. Ini kecerobohanku sendiri. Kamu hanya menyebabkan momen yang pertama. Tapi anak ini, entah dari momen yang mana benih ini tumbuh di rahimku.


"Rose...."


"Aku akan mencari jalan keluarku sendiri."


"Tapi--"


"Tugasmu kembali kepada keluargamu. Hanya itu."


Terdiam. James tertunduk dengan rasa bersalah dan penyesalannya. Tapi terlepas dari semua penyebab kehamilan ini, aku merasa kasihan pada anak ini. Dia harus tumbuh di rahim perempuan seperti aku, di waktu yang salah, pula.


Kenapa hidupku semalang ini? Oh, Tuhan... jangan buat anak ini ikut merasakan kemalanganku. Aku mohon, Tuhan....


Kuhela napas dalam-dalam dan aku mengangguk. "Terima kasih. Aku percaya padamu."


"Jangan digugurkan, tolong?"


"Hah?"


"Please...?"


"Tidak. Tidak mungkin aku melakukan itu."


"Terima kasih. Aku akan selalu ada untukmu."


"Ya. Lanjutkan... lanjutkan saja sarapanmu sampai habis."


Arrrrrgggggh...! Sungguh aku tidak habis pikir. Selesai masalah satu, malah muncul masalah baru.


"Rileks. Ibu hamil tidak boleh stres. Ya?"


Ah, tatapan itu, sebegitu pedulinya James sekarang kepadaku. Sayang cintanya datang terlambat.


"Rose...?"


"Iya, My James. Iya...."


"Bagus." Dia tersenyum dan menyuapiku lagi. "Sekarang giliranku yang bertanya. Apa boleh?"


Aduh... apa yang ingin dia tanyakan? Tapi aku tidak bisa mengelak. "Oke," kataku. "Kamu mau menanyakan soal apa?"


"Kalau... dalam kehidupan ini, maksudku ke depannya nanti, bukan saat ini. Emm... kalau kita ditakdirkan hidup sendiri-sendiri, entah di umur berapa, apa kamu bersedia menjadi istriku lagi?"


Oow... kali ini aku ingin tertawa. Aku punya jawaban konyol untuknya. Aku pun berdeham. "Tergantung, ya," kataku. "Berapa umurmu saat nanti kamu menduda. Kalau kamu sudah aki-aki, masa kujadikan suami? Memangnya masih kuat?"


Haha!


James terbahak bersamaku. Aku senang melihatnya tertawa lepas. Bahkan, dia mencubit pipiku dengan sayang.


"Jangan berubah lagi, ya? Aku suka dengan James yang sekarang. Aku bahagia untukmu."


Dia mengangguk. "Aku berjanji," katanya.


Sungguh ini keajaiban. Aku sangat bahagia. Di mataku, James bukan lagi sosok monster apalagi seorang iblis. Dia sekarang lelaki yang baik dan seorang ayah yang sempurna. Aku yakin dia akan mencintai anak-anaknya seperti cinta ayahku kepadaku. Ayah yang sempurna.


Yeah. Cinta bisa merubah segalanya. Meski jalan yang harus kutempuh selama ini sangatlah terjal, tapi aku bahagia untuk akhir yang membahagiakan.