
Semuanya berjalan dengan baik. Meski rasa cemasku enggan pergi, namun faktanya aku dalam keadaan baik -- tanpa hukuman James atau pembahasan apa pun yang berhubungan dengan Back Jack dan apartemen.
Malam itu, sewaktu di kapal, James memintaku untuk menemaninya makan malam di geladak atas, di dekat kolam renang. Kami tidak banyak bicara, James hanya bercerita beberapa hal mengenai kenangan antara ia dan mendiang ayahnya, Tuan Johnson. Cerita bagaimana ia bisa menjadi seorang pebisnis muda yang sukses seperti sekarang, semua itu berkat bantuan dari ayahnya. Kata James, ayahnya-lah yang memperkenalkan James pada banyak investor dan menjaminkan namanya sehingga para investor percaya dan bersedia menanamkan modal di usaha pertamanya. Di mana, lambat laun, usaha James itu semakin berkembang dengan pesat. Tentu itu juga berkat Tuan Johnson yang merekomendasikan usaha-usaha James kepada para kliennya yang menggunakan jasa para pekerjanya, seperti untuk check in di hotel James, karaokean, pijat, spa, dan sauna, bahkan untuk berkunjung ke hiburan malam di klub sang anak. "Semuanya berkat Papa," katanya.
Aku diam saja, hanya mengangguk dan menyimak.
"Kamu tahu, sebenarnya aku menyimpan dendam."
Deg!
Saat itulah aku tertegun. "Den...den...dendam?"
"Ya, dendam."
"Pa--pada... pada siapa?"
"Hei, kenapa kamu gugup?"
"Tidak. Aku... aku hanya... hanya mengkhawatirkanmu."
"Oh... manis sekali...." Dia tersenyum, lalu menggenggam tanganku. "Jangan khawatir. Bukan aku yang akan kalah dalam medan perang ini."
Takut. Aku malah gemetar. Justru karena itu, bukan kamu yang aku khawatirkan. "Kamu... kamu... dendam pada siapa?"
"Pada seseorang."
"Siapa?"
"Polisi yang menembak mati ayahku."
Oh Tuhan... untuk sesaat jantungku rasanya berhenti berdetak. Jujur, awalnya aku mengira James akan membahas masa lalunya, dendamnya di masa lalu. Tapi walaupun bukan tentang masa lalu, tetap saja, dendamnya tetap tertuju kepada orang yang sama. "Memangnya kamu tahu si--siapa orangnya? Terus... kamu... kamu mau... melakukan... apa?"
"Persis yang dia lakukan kepada Papa. Menembak dadanya dengan peluru hingga menembus ke jantungnya. Lebih bagus jika dia sudah memiliki anak, anaknya juga akan menjadi yatim. Sama seperti yang dia lakukan kepadaku, seperti yang sekarang kualami."
Dan akulah yang sekarang serasa kena tembak. "Kamu tahu siapa pelakunya?"
"Belum tahu."
Ya Tuhan, katanya dia belum tahu, tetapi dia malah tersenyum misterius. Dia membuatku semakin gemetar ketakutan.
Atau sebenarnya kamu memang sudah mengetahuinya? Mungkin kamu hanya berpura-pura di hadapanku. Mungkin.
"Rose?"
"Ya?"
"Selama beberapa hari ini kita akan berlayar sambil menunggu pengacara-pengacara Papa menyelesaikan tugas mereka. Mudah-mudahan tidak lama. Untuk anak buah Papa yang bersih dari narkoba, mereka pasti akan segera dibebaskan setelah tes urine mereka selesai. Dan untuk mereka yang memakai narkoba, kami akan mengajukan rehabilitasi dan hukuman seringan mungkin. Sementara, tim pengacara yang lain, mereka akan mengurusi pencairan asuransi Papa, juga... pengalihan nama atas aset-aset Papa. Dan untuk penandatanganan dokumen, aku akan turun langsung. Aku akan pergi ke beberapa negara. Selain rumah di Bali dan apartemen mewah di Jakarta, beberapa unit mobil mewah yang ada di sini dan tiga kapal pesiarnya, Papa juga punya banyak aset di luar negeri. Ada rumah, apartemen, villa, juga mobil-mobil mewah. Semua itu akan dialihkan atas namaku."
Otakku konslet. Saking konsletnya aku hanya bisa bengong. Aku tidak tahu apa mesti ternganga saking takjubnya, atau aku mesti senang karena ternyata suamiku yang sudah kaya raya jadi bertambah kaya karena mendapatkan warisan dari ayahnya, atau aku mesti mengatakan yang sejujurnya: Oh James, aku tidak peduli dengan semua itu. Aku hanya ingin bersama dengan Bang Jack, kekasih yang sangat kucintai.
Damn it!
"Rose, aku mengatakan semua ini bukan untuk bermaksud sombong, atau bersyukur atas kematian Papa. Bukan."
Aku menyeringai, keningku berlipat. Aku tidak mengerti apa maksud pria itu. "Aku... aku tahu kamu bukan pria yang seperti itu. Tapi... apa maksudmu yang sebenarnya, apa yang ingin kamu sampaikan padaku?"
"Tentang kita."
"Emm... aku tidak mengerti."
"Tentang kita. Kamu, cintamu, dan anak dari rahimmu."
"Anak?" Lipatan di keningku semakin jadi. "Maksudnya?"
"Percuma aku memiliki banyak harta tapi aku sendiri. Aku memilikimu sebagai istri, tapi tidak dengan cintamu. Juga belum memiliki anak darimu."
Jadi apa maksudmu, James? Bagaimana mau memiliki anak kalau kamu bahkan tidak pernah menyentuhku seutuhnya? Kamu membuatku bingung.
"Aku menginginkan anak darimu, Rose. Buah dari cinta kita. Tapi kalau kamu saja tidak mencintaiku, maksudku belum, atau... mungkin butuh waktu lebih lama bagimu untuk mencintaiku, bagaimana kita bisa memiliki anak, buah dari cinta kita? Bagaimana cintaku bisa tumbuh di rahimmu?"
Apa maksudnya? Apa karena aku belum mencintaimu, karena itu kamu belum ingin menyentuhku seutuhnya? Tapi kamu menyiksaku. Keperawanan ini malah justru menahan hubunganku dengan Bang Jack.
"Mudah untuk sekadar memiliki anak, Rose. Bahkan bisa dengan proses bayi tabung. Tapi buah hati dengan cinta, hanya ketika kita saling mencintai, dia akan tumbuh di rahimmu. Anak dengan cinta. Tapi ya sudahlah." James menghela napas dalam-dalam. "Maafkan aku. Mungkin... aku terlalu terbawa perasaan. Dilema karena nyatanya, darahku, hanya ada di dalam diriku sendiri. Jangankan pewaris harta, pewaris darah pun aku belum punya."
Pewaris darah mungkin kamu belum punya, tapi pewaris harta, ada aku, kan?
Untuk sesaat aku lupa, aku hanya istri di bawah tangan.