Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Hati Yang Terluka


Beberapa menit berlalu, Bang Jack kembali muncul dengan wajah yang lebih lunak. Ketegangan yang tadi kulihat nampak sudah sirna, meski mungkin tidak sirna sepenuhnya. Kurasa.


"Aku sudah memesankan makanan untukmu. Tunggu sebentar lagi."


Aku mengangguk. Dan setelah itu suasana di antara kami kembali hening.


"Maafkan aku," kata Bang Jack setelah keheningan yang terasa sangat lama itu. Menyiksa. Tetapi dia meleburnya dengan menggenggam erat kedua tanganku. Dia menciumi tanganku dengan sayang. Sepenuh perasaan. "Aku hanya tidak bisa menerima kalau kamu... kamu berbuat kriminal. Kamu gadis yang baik. Kamu... kamu lugu. Kamu gadisku yang sederhana. Gadis yang baik. Rasa-rasanya... aku...."


Aku menggeleng pelan. "Aku sudah terlalu muak dengan semua yang terjadi. Mungkin aku bisa menanggung semua yang dilakukan James selama ini terhadapku. Tetapi menukar diriku dengan materi, dia sudah keterlaluan. Dia menghinaku. Dia membuatku seolah aku ini sampah. Aku bukan apa-apa dan sama sekali tidak berharga. Memang benar. Memang benar aku bukan siapa-siapa, aku jalan*. Aku mengkhianati pernikahan kami dan masih... masih menjalin asmara denganmu. Tapi... entah. Yang jelas, aku tidak bisa menerima dia menukarku dengan materi. Dia melukai perasaanku, egoku, dia melukai jiwaku. Dia membuatku sanggup mengenyahkan semua kewarasanku. Aku membencinya. Aku ingin dia mati. Aku ingin dia mati!"


Entah bagaimana, tapi sekarang aku menangis, dan Bang Jack memelukku. "Maafkan aku," ucapnya. "Semua yang terjadi padamu akulah penyebabnya. Tidak seharusnya aku membawamu ke dalam kehidupanku. Harusnya dulu aku meninggalkanmu di rumah sakit. Mungkin... mungkin cerita hidupmu tidak akan seburuk ini."


Itu benar. Siapa yang bisa menepis kebenaran itu? Tetapi takdir ini terjadi bukanlah karena niat dirinya. Jika kita bisa menerawang masa depan, mungkin waktu itu aku tidak akan memilih untuk ikut bersama Bang Jack. Namun, toh semuanya sudah terjadi. Bagaimanapun juga, seburuk apa pun jalan cerita hidupku saat ini, tetap saja Bang Jack seorang pria yang berjasa. Dia yang sudah menyelamatkan hidupku saat itu.


"Semuanya sudah terjadi. Apa gunanya menyesali masa lalu? Aku ingin masa depan -- baik ataupun buruk -- tanpa James. Walaupun aku akan dituduh sebagai penyebab kematiannya dan polisi berhasil membuktikan hal itu, biar saja. Biar aku mendekam di penjara, itu akan lebih baik daripada aku harus terus hidup dan mengingat betapa James menghinaku, di setiap detik yang kulewati. Luka di dalam hati dan ingatan itu tidak akan pernah sembuh kecuali ada harga yang pantas untuk membayarnya. Kematian."


"Ya, aku tidak akan menangis." Kuseka air mataku hingga tak bersisa. "Abang tahu, yang kulakukan dengan melukai pergelangan tanganku ini hanya untuk menunjukkan pada James kalau dia telah melukai perasaanku. Aku tidak ingin dia yang berpura-pura marah padaku saat dia memeriksa apakah aku masih perawan ataukah tidak. Aku tidak ingin dia menggunakan kesempatan itu untuk menyiksamu melalui aku. Dengan sikap depresi yang kutunjukkan ini, aku ingin James berpikir bahwa aku tidak terima kalau aku kehilangan keperawanan dengan cara seperti ini. Tapi aku tidak yakin apa rencanaku akan berjalan dengan mulus. Mungkin tidak mudah menyetir pikiran James seperti yang aku inginkan. Bisa saja dia tidak kembali untuk membawaku bersamanya, atau dia justru akan membiarkan aku tetap bersamamu karena dia senang melihatku depresi, karena itu berarti hal itu akan membuat perasaanmu menjadi semakin sakit. Tapi aku akan berusaha, aku ingin bisa kembali bersamanya, sedekat mungkin."


Mengangguk. Bang Jack membenarkan. "Kita tidak tahu dan tidak bisa memprediksi bagaimana pikiran James menanggapi hal ini."


"Terserah apa pun. Tapi aku akan tetap berusaha untuk kembali padanya. Dan tugas Abang, Abang harus berpura-pura mempertahankan aku karena Abang takut terjadi apa-apa padaku. Buat dia yakin dan percaya bahwa ini bukanlah sekadar permainan. Dia tidak boleh menyadari siasatku. Kalau benar dia akan membiarkanku tetap bersamamu, kita akan lakukan rencana selanjutnya. Abang sendiri yang akan memohon pada James supaya dia meminta maaf padaku karena dia telah melukai perasaanku. Abang harus meyakinkan dia kalau posisi Abang dalam kehidupanku itu sebagai seseorang yang berjasa, yang aku hormati, bukan karena cinta. Abang paham, kan?"


Dia menggeleng. "Kamu mengatakan hal itu... bukan karena kesungguhan, kan? Kamu mencintaiku, ya kan? Bukan karena sekadar rasa terima kasih. Iya, kan?"


Ya ampun, bodyguard sekaligus polisi di depanku ini sekarang seperti seorang Romeo. Sensitif.


"Apa perlu kukatakan kalau aku sangat mencintaimu?"


Hmm... Romeo-ku yang malang. Perasaannya terusik.