
Siang itu aku melepas kepergian Bang Jack ke Thailand dengan air mata. Rinduku belum sirna, namun ia mesti pergi lagi meninggalkanku bersama pria sakit jiwa itu. Beda halnya denganku, James terlihat sangat senang ketika Bang Jack meninggalkan apartemen. Bahkan, dia langsung menarikku dan membawaku ke sofa. Lagi-lagi dia mengajakku bermesraan di depan kamera cctv. Seperti pasangan kekasih pada umumnya, dia mengajakku bermesraan sambil bersantai menonton televisi. Dan, dia juga beralibi, dia memberiku minuman berbahan dasar buah anggur yang katanya bagus untuk persiapan kehamilan. Dan pada akhirnya, minuman itu malah membuatku mengantuk. Pasti James mencampurkan obat tidur ke dalamnya.
Saat aku terbangun ternyata hari sudah malam dan aku masih terbaring di sofa, terbalut selimut, telanjan*, dan seperti biasa: tanda merah di tubuhku semakin bertambah. Aku menatap ke kamera, menangis sedih dan berusaha mengusap air mata.
Aku tidak akan sedih lagi. Tidak akan. Terserah James mau melakukan apa. Terserah.
Yap, aku tahu, aku sangat mengerti. James sengaja melakukan semua kegilaannya itu di depan kamera cctv, dia ingin Bang Jack melihat secara langsung ketika ia menyentuhku. Bagaimana ia menggilai kekasih seorang Jack Peterson yang akan dilihat oleh Jack Peterson itu sendiri.
Kenapa? Ada apa? Kau pun pasti memiliki pertanyaan yang sama dengan pertanyaanku. Dan hal ini membuatku menerka: mungkin James pernah jatuh cinta pada seorang gadis, atau bahkan gadis itu sudah menjadi kekasihnya, lalu kekasihnya itu mengkhianatinya dengan menjalin hubungan asmara dengan Bang Jack? Mungkin saja, kan?
Lalu, pemikiran yang lebih dalam menyusup ke dalam benakku. Setahuku, berdasarkan cerita Bang Jack, satu-satunya gadis yang pernah berhubungan terlalu dalam dengan Bang Jack itu hanya mendiang Rose Emerson.
Apa mungkin dia yang menjadi penyebab kenapa James begitu membenci Bang Jack? Karena Rose Emerson pernah mengkhianati James? Lalu aku, aku hanya dijadikan alat untuk balas dendamnya kepada Bang Jack, karena Bang Jack sangat mencintaiku? Apa mungkin? Lalu... apa mungkin... yang dimaksud James ia pernah memerintahkan anak buahnya untuk menggilir cinta pertamanya, apa mungkin itu Rose Emerson? Kalau benar...? Kejam sekali dia. Dia tega menyiksa perempuan dengan cara sekeji itu.
Oh... aku menggeleng-geleng. Pada akhirnya aku memutuskan untuk berhenti memikirkan semua teka-teki itu. Apa yang kupikirkan itu belum tentu benar. Teka-teki ini masih seperti buntalan benang kusut yang sangat sulit untuk diurai.
Jangan terlalu banyak berpikir, Rose. Nanti pikiranmu malah terperangkap dalam cerita yang tidak jelas dan membuatmu jadi semakin bingung. Kau bisa depresi. Stop dulu berpikir. Oke? Stop.
Kuhela napas dalam-dalam dan pergi ke kamarku. Aku ingin mandi: membersihkan diri dari rasa lengket yang menjijikkan itu.
Tapi tak bisa kupungkiri, pada keesokan malamnya, malam kedua aku di apartemen tanpa James, di saat aku sendirian, walaupun sesungguhnya aku merasa itu lebih baik karena James tidak kembali ke apartemen -- tetap saja ada sedikit perasaan nelangsa ketika aku berpikir bahwa James saat itu pulang kepada istri yang ia cintai, sebab, entah kenapa aku merasa sedih karena aku ini benar-benar seperti istri simpanan: yang ia simpan dan ia kurung di apartemen itu.
Tidak. Aku bukannya cemburu, tapi aku kecewa pada takdir yang menempatkanku di posisi itu. Siapa, sih, yang mau dijadikan sebagai istri simpanan? Hanya mereka yang tidak punya harga diri yang bisa dan dengan senang hati menjadi istri simpanan, ya kan? Hanya mereka yang tidak punya malu dan suka merebut milik orang lain yang tidak akan merasa sedih atau malah justru bangga ketika ia menjadi istri simpanan dari suami wanita lain. Kalau aku, jelas aku tidak mau berada di posisi ini. Sebab itu aku kecewa pada takdirku ini. Aku terpaksa dan dipaksa untuk menjadi yang kedua.
Andai saja aku punya pilihan. Andai....
Tetapi, pada keesokan paginya aku malah merasa Tuhan sedikit berbaik hati kepadaku. Aku menstruasi. Aku sangat bersyukur dengan kenyataan itu. Aku merasa lega karena -- setidaknya -- saat ini aku tidak hamil anak James, dan itu berarti selama seminggu lebih aku akan terbebas dari usaha penanaman benih yang dilakukan James kepadaku. Dia tidak akan meniduriku selama masa liburku. Aku lega sekali.
Tapi kendalaku saat ini satu: aku tidak punya pembalut. Aku terpaksa menelepon James untuk meminta izin keluar dari apartemen. Tapi dia tidak mengizinkan. Yap, mana mungkin, karena bagi James aku ini seperti seorang tawanan. Kalau bukan karena terpaksa, mungkin dia juga tidak akan mengizinkanku pergi ke rumah sakit mengunjungi ibunya Bang Jack.
"Kamu sudah mengenal suara asistenku, si Justin, ya kan? Nanti aku akan menyuruh Justin membeli semua keperluanmu. Kamu tunggu saja di apartemen. Dan ingat, jangan membukakan pintu untuk orang lain selain Justin. Paham?"
Euwwwww... cerewet. Sayangnya aku tidak bisa menghardiknya.
"Iya, aku paham," kataku.
"Bagus."
"Em, terima kasih, My James."
"Tidak. Tidak ada lagi. Kalau begitu--"
Tut!
Sambungan telepon terputus setelah terdengar suara tangisan bayi.
Aku mematung. Terdiam tanpa kata.
Suara tangisan bayi? Bayinya...?
Aku tertegun selama beberapa menit. Tidak tahu memikirkan apa, yang jelas perasaanku saat itu sangatlah kacau.
Sekali lagi, bukan karena aku cemburu, iri, ataupun tidak terima. Kurasa aku hanya bingung: jika dia sudah memiliki anak, kenapa ia masih menginginkan anak dariku? Kenapa?
Sebegitunya James ingin membalaskan sakit hatinya pada Bang Jack? Aku tahu dia sama sekali tidak mencintaiku.
Saat itu aku merasa sangat bodoh karena sejak mengenal James aku terlalu banyak memikirkan hal-hal yang berulang, dan, menduga ini-itu: aku membiarkan pikiranku terperangkap dalam permainan James.
Biarkan saja, Rose, biarkan saja. Pasrah, tunggu dan lihat saja bagaimana akhirnya. Oke? Harus oke.
Ting!
Pesan whatsapp masuk ke ponselku. Dari James.
》 Beritahu aku kalau nanti masa menstruasimu sudah selesai. Aku akan pulang saat kamu dalam keadaan masa subur. Kita akan melanjutkan lagi program hamil-nya. Aku sangat mengharapkan anak darimu.
Hmm... kira-kira, kalau aku tidak memberitahu James saat nanti menstruasiku sudah selesai, apa dia tidak akan pulang? Kalau kubilang menstruasiku lama, lebih dari sepuluh hari, apa dia akan percaya? Semoga saja, Tuhan, semoga. Lebih lama itu lebih baik. Aku bisa tenang tinggal di sini sendirian. Semoga saja.
Tapi perutku sakit karena menstruasi itu. Kupaksakan diriku pergi ke dapur untuk memanaskan air. Mungkin dengan teh hangat perutku bisa lebih baik, pikirku.
Dan itu menjadi keberuntunganku sekali lagi. Di dalam toples gula, aku menemukan lipatan kertas kecil, surat dari Bang Jack.
Aku meninggalkan ponsel baru di bawah bantalku. Hati-hati, jangan dibawa keluar dari kamarku. Kemungkinan James memasang cctv di banyak tempat, tapi kupastikan dia tidak masuk ke kamarku karena dia tahu ada cctv yang mengarah ke kamarku. Dan jangan bawa ponselmu ketika kamu masuk ke kamarku. Ada penyadap suara di bandul mainan ponselmu. Hati-hati, jangan sampai teledor. Jika perlu, kamu tinggalkan saja ponselmu di kamarmu. Oke? Jaga dirimu baik-baik, Sayang. Aku sangat mencintaimu.
Huffft... Lega. Senang sekali rasanya.
Ya Tuhan, terima kasih. Setidaknya aku bisa berkomunikasi dengan Bang Jack tanpa takut ketahuan oleh James. Terima kasih, Tuhan....