
Tapi tidak terlalu mengecewakan ketika Bang Jack memutuskan untuk mengobati kekecewaan itu. Dia berusaha membujukku dengan berkata, "Aku hanya ingin kamu bahagia saat ini, hanya itu. Kebahagiaan," ujarnya, dia tersenyum.
"Jadi?"
"Aku akan mengobati kekecewaanmu."
"Caranya?" Aku tersenyum riang.
"Dasar gadis cerewet!"
"O ya? Aku cerewet? Tapi kamu cinta, kan? Ayo, buktikan cintamu."
"Ya Tuhan, Sayang." Bang Jack tertawa. "Kamu sudah pintar bicara, ya. Oh, atau itu semacam rayuan?"
"Abang... jangan banyak bicara. Tolonglah, tunjukkan saja cintamu yang sebesar jagat raya itu."
Sebuah anggukan kecil ia layangkan kepadaku, lalu ia menunduk untuk mencium keindahan dadaku, lidahnya mencari-cari puncaknya dan menariknya ke dalam mulutnya, sampai aku melengkungkan tubuh dan memekik di puncak kenikmatan. Saat jemari Bang Jack menyapu kulitku yang membara, dia menggigitku dengan lembut, mengisa* hingga kehangatan gairah yang asing itu kembali mengalir turun melewati perut dan di antara kedua kaki.
Masih menggantung di atasku, satu lengan bawah bertumpu di atas bahuku, Bang Jack mengalihkan perhatiannya pada dada sebelah kiri, ia mengulu* dan menyurukkan wajahnya saat tangan satunya menyelinap turun dan membelai lekukan perutku. Memberikan sensasi geli yang menggelitik.
"Geli," kataku, aku menahan senyum bahagia namun tak menghentikan tangannya. Bang Jack juga tidak. Dia hanya mengangkat wajahnya lalu tersenyum, sementara tangannya tetap membelai kulitku sampai satu jarinya menyelinap ke dalam lekukan selembut sutra itu, yang kini... terasa hangat dan lembab karena sentuhan cinta. Jemarinya menyelinap ke dalam tubuhku bagaikan tiupan *rotis, kelembapan menyebar di tubuhku.
"Ouch!"
Aku kembali terkesiap saat jemari Bang Jack kembali menyelinap masuk, terbenam, seketika tanganku tersentak dan mencengkeram seprai. Aku membuka mulut untuk memohon kepadanya, tapi tak bisa mengeluarkan suara. Kemudian, pria itu menyentuhku lebih pasti, bergerak-gerak di kelembapan tubuhku dan dengan hati-hati menyiksaku dengan kenikmatan. Aku menarik napas tajam, sebuah bisikan di tengah keheningan.
Kembali dia mengelusku. Lagi dan lagi, manis dan sempurna. Aku terhilang dalam kenikmatan itu. Perasaan ini terasa begitu melambungkan hingga aku tak mampu mengendalikan diri. "Ya Tuhan!" aku menjerit, mataku terbuka lebar. Tatapan Bang Jack mengunciku, matanya gelap oleh hasrat. Aku memanggil namanya -- atau berusaha untuk itu -- memohon pelepasan saat tubuhku bergerak mendesak di tangan pria itu. "Ah...! Ah...! Abang...!"
Dan pada detik itu ia menyelinap turun di tubuhku dan membenamkan bibirnya di sana.
"Tidak," rintihku. "Aku... aku...."
Aku ingin mengatakan kalau aku malu jika ia *enyesapku yang *asah karena cintanya, tapi apa pantas jika aku mengatakan hal itu: apa aku masih bisa dinilai punya rasa malu? Tidak lagi. Aku sadar aku layak dicap sebagai perempuan yang tidak punya malu. Aku bahkan menodai pernikahanku yang memang tak pernah suci.
"Sssh... Cinta," ia berbisik, mulutnya menakan kuat padaku. "Biarkan saja aku merasakanmu."
Aku menggeleng. "Kamu... tidak jijik?"
Bang Jack meletakkan tangannya di pahaku, membukanya lebar. "Aku mencintaimu," ujarnya. Dengan lembut, ia menenangkanku dengan lidahnya, pertama-tama menggigi* kecil sesuatu yang peka itu, menikmati kemanisannya. Sungguh, dia membuatku merasa dicumbu dengan sepenuh cinta. Dia menyapukan lidahnya dengan ringan di lipatan *ntim tubuhku. Tapi saat ia menghirup aromaku, dia mengeran*. "Aku tersiksa," geramnya.
Aku ingin meringankan siksaanmu jika kamu yang meminta. Maafkan aku, aku tak sanggup menawarkan diri, aku sudah terlalu sering melakukan itu untuk James. Dan denganmu... aku menghormatimu, aku merasa tidak ingin menyentuhmu dengan tangan dan mulutku yang kotor ini.