
"Seperti yang sudah kukatakan, aku melakukan kesalahan sampai membuat seorang gadis hamil. Saat itu... sekitar satu setengah tahun yang lalu, aku baru tahu kalau ternyata ibuku tewas di tangan ayahku sendiri. Aku marah. Aku depresi. Aku mau membalas kematian ibuku, tapi aku tidak bisa melakukannya, seakan... seakan-akan aku tidak berdaya karena lelaki yang membunuhnya itu adalah ayah kandungku sendiri. Akhirnya aku hanya bisa melampiaskan amarahku dengan alkohol, sampai aku mabuk, lalu... terjadilah kesalahan itu. Aku tidak sengaja merenggut keperawan seorang gadis belia, dan akhirnya dia hamil. Sejak itu aku berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama. Aku tidak akan merenggut keperawanan gadis lain. Aku merasa bersalah, dan aku menikahi gadis itu. Meskipun tanpa cinta dan aku tidak tinggal bersamanya, tapi statusnya tetap sebagai istriku, ibu dari anak-anakku. Pernikahan itu demi rasa tanggung jawabku dan demi sahnya status anak-anakku. Mereka tidak bersalah, mereka tetap harus terlahir dalam sebuah hubungan pernikahan. Aku benar, kan?"
Aku mengangguk.
"Dan... tentangmu. Aku... jujur aku tahu aku memiliki hasrat padamu. Kurasa kamu pun tahu soal itu. Hasrat tidak bisa dibuat-buat. Aku memilikinya saat aku bersamamu. Setiap kali aku bersamamu, hasratku selalu menggelora. Aku bergairah. Kamu membangkitkan perasaan yang sudah lama mati di dalam jiwaku. Tapi... janjiku adalah kendala bagi diriku sendiri. Dan bodohnya, aku menentang semua perasaanku. Aku selalu menyangkal kalau aku jatuh cinta kepadamu. Aku minta maaf, aku nekat... aku nekat menjadikan dirimu sebagai... aku minta maaf, Rose... Emilia. Aku sungguh minta maaf. Aku menyesali kesalahanku."
Yah, aku bisa merasakan penyesalan James, seperti aku yang bisa merasakan kalau dia benar-benar mencintaiku. Tapi aku tidak bisa memaafkan kesalahan James yang satu itu. "Aku... aku bisa mengerti. Tapi kamu juga harus mengerti kalau aku belum bisa untuk memaafkanmu tentang kesalahan terbesarmu yang ini. Aku akan mencoba menerima, tapi itu... itu tidak berarti sekarang--"
"Ssst...." Jarinya menempel di bibirku. "Aku tahu. Tidak akan selesai kalau kita membahas hal ini."
"Sebab itu jangan dibahas lagi. Mengingat kejadian itu saja seperti luka ditaburi garam. Aku tidak tahu sampai kapan aku--"
"Aku hanya ingin membahagiakanmu untuk menebus semua kesalahanku. Biarkan aku mencintaimu, Emilia. Please?"
James mengangguk-angguk. Matanya memerah dan kian berkaca. "Kamu ingin kembali pada Jack?" tanyanya, suaranya gemetar. "Katakan dengan jujur."
Jujur, di saat itu aku takut kalau James akan kembali berpikir bahwa dia -- kembali -- seperti pecundang di hadapan Bang Jack. Aku tidak boleh salah bicara. Aku tidak boleh membuat perasaannya tersinggung. "Biar aku jelaskan. Aku ini bukan siapa-siapa. Aku hanya gadis asing yang ia selamatkan dari laut. Aku terdampar di pantai dan dia yang menolongku. Aku punya hutang nyawa padanya, James. Di sana tempat di mana harusnya aku berada. Itulah kenapa... aku... aku harus ada di sana. Dia yang berhak atas diriku. Hidupku bukan tentang cinta, tapi dedikasi dan rasa terima kasih." Aku balas menggenggam tangannya. "Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu, maaf? Please?"
"Aku mengerti. Berarti kita tidak mungkin... tidak mungkin bersama...?"
Aku menggeleng. "Relakan aku. Relakan aku, James."
"Oke. Aku... aku akan melepaskanmu. Aku...."
Luar biasa sakit mendengarnya, walau aku pun menginginkan hal itu, tetap saja... ini sangat menyakitkan.