Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Kekasihku Yang . . .


Tempat terakhir yang kami kunjungi adalah sebuah klinik kecantikan ternama yang menjual berbagai macam jenis produk skincare dan keperluan wanita lainnya -- mulai dari produk-produk untuk keperluan mandi, produk-produk yang digunakan untuk perawatan kulit siang dan malam, juga berbagai jenis peralatan mekap -- yang pada dasarnya tidak ada satu pun yang kumengerti bagaimana pengaplikasiannya.


Awalnya aku hanya mengatakan kepada Bang Jack kalau aku minta dibelikan mekap, aku ingin belajar menghias diri seperti teman-teman SMA-ku dulu yang alisnya dibentuk, bibirnya lebih merah, dan berbulu mata yang lentik. Tidak neko-neko apalagi ingin berhias tebal. Tetapi, di luar dugaanku, Bang Jack malah mengajakku ke klinik kecantikan dan menyuruhku langsung berkonsultasi dengan dokter kulit. Jelas saja pada awalnya aku langsung protes, menurutku itu berlebihan. Tapi seperti biasa, Bang Jack menempatkan dirinya sebagai pemegang kendali -- sepenuhnya -- dalam kehidupanku.


"Kamu jangan coba-coba memakai produk sembarangan. Itu berisiko merusak kecantikanmu. Paham?"


Uuuuuh... seram juga dia kalau sedang tegas begitu.


"Memangnya kenapa kalau nanti aku tidak cantik lagi? Kamu mau membuangku? Hmm?"


"Pertanyaan macam apa itu, Rose? Kalau kecantikanmu bisa dijaga, kenapa harus dirusak?"


"Ya ampun. Kamu tidak mesti seserius itu juga, dong, Abang Sayang. Tidak perlu sensi. Aku hanya... sudahlah. Aku minta maaf, oke?"


Tapi dia tidak menyahut. Well, karena sudah dibuat enak, jadi ya sudahlah. Aku mengorder apa saja yang menurut dokter cocok untukku. Selain skincare untuk perawatan wajah siang dan malam, sekalian saja aku memesan sabun, sampo, luluran, losion, dan peralatan mekap lainnya. Tapi ssst... untuk mekapnya Bang Jack tidak mengizinkanku memakai apa pun jenis foundation dan jenis bedaknya. Dia sendiri yang mengatakan kepada dokter bahwa dia ingin wajahku cantik alami, putih bersih dan bercahaya alias glowing dari kulitku sendiri, bukan disamarkan atau malah ditutup dengan topeng -- maksudnya lapisan bedak dan alas-alasnya itu. Dia ingin kulitku -- kulit anak gadis 18 tahun -- mesti dirawat dan dipertahankan, bukannya ditopeng-topengi dengan bedak dan alas-alasnya yang berpotensi menyumbat pori-pori dan merusak kulit wajahku.


Duh... aku malu dengan kecerewetannya di hadapan dokter.


"Kenapa harus malu?" tanyanya menyadari reaksiku. "Kamu itu milikku. Apa aku salah kalau aku ingin menjaga milikku sendiri?"


Aku menggeleng. "Kamu selalu benar," sahutku. "Dan akan selalu benar. Aku janji aku akan menuruti apa pun perkataanmu. Oke, Abangku yang super bawel?"


Untuk apa aku membantah? Percuma. Dia tidak bisa dibantah dan tidak akan mau dibantah.


"Jangan ngambek. Kalau suatu saat kita bisa hidup bebas dan kita mesti menghadiri pesta atau acara-acara resmi, akan kupanggilkan perias khusus untukmu. Tapi tidak untuk sehari-hari. Aku ingin kekasihku tetap cantik alami. Cantik natural. Hanya itu."


Aku mengangguk. "Aku paham," kataku.


"Bagus. Apa ada lagi yang mau kamu beli?"


"Tidak. Sudah cukup."


"Mau langsung pulang?"


"Em."


"Ayo."


Tapi suasana masih belum mencair sepenuhnya. Bahkan setelah Bang Jack melajukan mobil beberapa kilometer jauhnya, mood-ku masih belum kembali utuh.


"Kamu mau masak di rumah atau mau beli saja? Atau kamu mau kita makan malam di luar?" tanya Bang Jack.


Aku menggeleng. Mood-ku saat ini down, bisa tidak karuan rasa masakanku nanti. "Aku capek," kataku. "Kalau bisa--"


"Bilang saja mau beli."


"Iya."


"Mau beli apa?"


"Aku mau cicip steak, burger, sandwich, pizza, brownis, plus donat aneka topping. Semuanya."


Hahaha! Dasar tidak tahu malu. Sekarang aku malah terkekeh-kekeh sendiri.


Tapi biarlah. Toh, pria di sampingku itu hanya mengulum bibir mati-matian. Dia berusaha menahan tawa sambil mengangguk-angguk. "Baiklah," katanya. "Tapi ada aturan makannya, ya. Kamu boleh mencicipi semuanya, tapi sedikit-sedikit. Jangan dihabiskan langsung karena itu bisa menimbun lemak. Nanti kamu gendut. No, jangan sampai."


Hmm... kuhela napas dalam-dalam. "Kalau aku gendut, memangnya kenapa?"


"Kamu itu cantik, kamu seksi. Untuk apa kamu merusak kecantikanmu itu dengan menimbun lemak, ya kan? Aku suka kamu yang seksi. Pertahankan."


Tapi kalau dipikir-pikir, dia memang benar. Kecantikan dan kelangsingan itu memang mesti dijaga. Lelaki mana yang mau wanitanya sengaja membuat dirinya menjadi jelek dan sengaja membuat dirinya menjadi gendut? Sekali lagi -- dengan sengaja. Kurasa tidak ada. Kalau bisa dan mampu, setiap orang ingin dan akan berupaya semaksimal mungkin agar dirinya bisa tampil lebih cantik dan lebih menarik. Benar, kan?


"Terima kasih atas pujiannya. Aku akan berusaha menjaga diriku agar tetap seperti ini. Seperti yang kamu inginkan."


Kini dia tersenyum. "Sudah seharusnya begitu. Kekasihmu ini kan tampan, jadi kamu harus selalu cantik. Apalagi tubuhku sixpack begini. Kamu juga harus seksi. Jadi... kita selalu serasi, ya kan?"


Hmm... dasar... percaya dirinya tinggi sekali. Maklum, kan dia memang tampan.


"Tapi, seandainya, ya, kalau nanti aku hamil, terus bobot tubuhku bertambah dan barangkali aku jadi gendut seperti kebanyakan ibu-ibu hamil, bagaimana? Kamu akan menyuruhku supaya aku olahraga dengan ekstra? Terus, aku mesti menjalankan diet mati-matian? Hmm? Atau, jangan-jangan kamu akan membuangku?"


Kena cubit, tepat di pipi kiriku. "Kamu pikir aku lelaki apaan? Dari tadi ngomongnya buang-buang, buang-buang. Hmm?"


"Ya maaf. Lagian kamu--"


"Hamil dan menyusui itu beda konteks, Sayang."


"Em, terus?"


"Apanya?"


"Kamu tidak akan protes?"


Menggeleng. Senyum semringah Bang Jack nyaris menyamai terangnya cahaya bulan di langit gelap di atas sana. Dengan wajah cerianya itu, dia berkata, "Kalau hormonmu di saat kamu hamil nanti dan momen kamu menyusui membuatmu jadi gendut, ya mau bagaimana lagi? Terima saja. Aku sama sekali tidak akan protes. Sumpah. Aku janji aku sama sekali tidak akan protes. Kalau kamu tidak percaya, aku bisa membuktikannya. Serius. Mau hamil sekarang? Boleh, yuk?"


"Abaaaaang...!"


Seperti biasa, aku memekik dan dia malah terkekeh kesenangan.


"Jangan ngambek. Aku hanya bercanda."


"Bercanda terus!"


"Kamu tidak mau aku bercanda?"


"Nggak."


"Ya sudah. Kalau begitu aku serius. Ayo?"


"Apanya?"


"Hamil."


"Abaaaaang...!"


"Tidak mau?"


"Nggak."


"Serius, kamu tidak mau punya anak dariku?"


"Mau. Tapi--"


"Kalau gitu ayo, kita bikin."


"Abang...."


Lagi-lagi dia terkekeh kesenangan. Bercandanya tidak lucu, tahu!