
"Abi udah nggak mau ngurusin hidup kamu lagi. Kamu mau ngejar wanita itu atau nggak, terserah!" Jibril hanya meringis mendengar ucapan pedas sang ayah. "Tapi sebaiknya kamu pergi dan jalankan tugas kamu di perusahaan dengan baik, Abi cuma mau itu sekarang dari kamu!"
"Bang Gabriel...." tegur Ummi Firda namun suaminya itu tak mengindahkannya.
Setelah ia menghabiskan sarapannya, ia segera pergi ke kamar meninggalkan Jibril yang masih berkutat dengan rasa bersalahnya. Yang paling marah akan keputusannya adalah ayahnya dan Aira, mereka berdua masih sulit menerima keputusan Jibril apalagi wanita yang di sukai Jibril itu masih tidak jelas asal usulnya.
"Kamu siap-siap gih, hari ini ke Jakarta," titah Ummi Firda yang membuat Jibril menghela napas lesu.
"Aku masih mau disini, Ummi," ucapnya.
"Mau sampai kapan?" Tanya Ummi sembari membereskan meja makan. "Yang ada abi kamu itu makin kesal, jadi sebaiknya kamu pergi dan mulai bekerja dengan baik. Ingat! Bekerja dengan baik, kembangkan perusahaan Abi biar dia bangga lagi sama kmu," tukas Ummi menghibur Jibril yang membuat hati Jibril terenyuh.
"Insyaallah, Ummi." Jibril memeluk ibunya dari belakang, bergelanyut manja layaknya anak kecil. "Aku pasti kangen sama Abi dan Ummi, padahal aku sudah berencana akan tinggal sama kalian sampai aku tua nanti. Tapi Abi malah mewariskan perusahaannya sama aku, padahal 'kan ada kak Micheal sama Aira yang sudah hidup di Jakarta."
"Mereka sudah sibuk dengan hidup mereka sendiri, siapa yang lagi yang bisa Abi tunggu kalau bukan kamu, hm" Jibril mengangguk kemudian ia memeluk ibunya itu hingga terdengar suara Abi yang mengejutkan Jibril.
"Ngapain kamu masih manja-manja sama Ibu kamu, huh?" Desis Abi yang terlihat emosi. "Kamu itu sudah tua, nggak usah bersikap seperti anak kecil." lanjutnya.
"Bang..." tegur Ummi Firda namun sang suami masih tak memperdulikannya.
"Cepat ambil barang-barang kamu!"
Mau tak mau Jibril langsung bergegas ke kamarnya, memasukan beberapa barang yang penting ke dalam ranselnya setelah itu ia kembali keluar. "Mobil sudah di depan," kata Abi dengan dingin.
Jibril menanggapinya dengan senyum, ia memeluk ayahnya dengan lembut kemudian berkata, "Aku tahu Abi marah dan kecewa sama aku, tapi ini jalan terbaik yang bisa aku pilih, Bi. Aku nggak bisa memendam sebuah kebenaran yang bisa menjadi bom waktu." Jibril melerai pelukannya sementara Abi masih mematung. "Aku melihat kebenaran yang di sembunyikan dalam pernikahan kak Micheal dan Aira, Abi lihat sendiri bagaimana dampaknya?"
Abi tertegun saat mendengar kata-kata Jibril, tatapannya yang tadi tajam kini sedikit satu dan raut wajahnya yang tadi tegang perlahan berubah.
"Telfon Abi kalau sudah sampai," ucapnya kemudian.
Jibril hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Tak lupa ia juga berpamitan pada ibunya, memeluknya dan menciumnya. "Jaga diri, Nak."
"Insyaallah, Ummi."
...🦋...
Hanya butuh sedikit waktu untuk membuat Shalwa dan Eliza akur, apalagi keduanya berada dalam keadan yang sama. Patah hati.
Eliza juga memperkenalkan Ruby pada Shalwa, bahkan kini ketiga wanita itu sedang berbelanja untuk mengalihkan fikiran mereka dari pria yang telah mematahkan hati mereka. Setelah itu, mereka pergi makan bersama.
Eliza mendesak Shalwa untuk menceritakan tentang mantan calon suaminya yang telah berbuat jahat itu, awalnya Shalwa menolak karena ia sungguh ingin mengenyahkan Jibril dari dalam benaknya. Namun, Eliza sedikit keras kepala dan berjanji akan menceritakan tentang pria yang ia takir.
Shalwa pun menceritakan bahwa sebenarnya mereka di jodohkan, tak ada kencan, tak ada hubungan istimewa lainnya karena semuanya di putuskan oleh keluarga.
"Astaga ... ini sudah modern, apa masih ada perjodohan seperti itu?" Pekik Eliza.
"Kadang-kadang masih ada," lirih Shalwa.
"Terus? Kamu cinta sama dia?" Hati Shalwa terkesiap mendengar pertanyaan itu. Cinta? Hatinya sungguh mencintai Jibril dengan begitu tulus dan dalam, karena itulah ia rela melepas Jibril agar Jibril tetap bahagia dengan cintanya dan pilihannya.
"Kalau kamu sendiri bagaimana?" Tanya Shalwa.
Eliza pun menceritakan pertemuananya dengan Jibril saat di Pakistan, ia juga menceritakan tantangan yang di berikan padanya untuk melamar Jibril. Mencium Jibril jika bertemu lagi hingga ia mendapatkan tamparan karena ciuman itu, Shalwa meringis seolah ia yang meraskan tamparan itu.
"Kamu di tampar? Udah lapor polisi? Itu kekerasan lho," kata Shalwa.
"Lapor polisi bagaimana?" Sambung Ruby. "Yang ada dia jatuh cinta sama pria itu." Eliza mengangguk meng-iyakan yang di katakan Ruby, membuat Shalwa menganga.
"Namanya juga cinta, gila dan nggak masuk akal," kata Eliza. "Dia cinta pertamaku," imbuhnya sambil menghela napas berat.
"Itu juga terlihat di matamu," ucap Shalwa yang membuat Eliza terkekeh.
"Oh ya, besok hari minggu. Kita jalan-jalan, yuk?" ajak Ruby.
"Besok pagi aku nggak bisa, mungkin sore baru bisa," jawab Eliza. "Gimana, Shal?" Shalwa mengangguk setuju, bahkan ia tampak senang apalagi sejak ada di Jakarta ia memang tak punya teman-teman dan tidak berani pergi kemana-mana sendirian.
...🦋...
Keesokan harinya....
Jibril memilih tinggal di hotel dari pada bersama Aira dan Micheal, ia juga masih butuh waktu sendiri untuk menenangkan hatinya.
Jibril juga sudah mencari tahu siapa Eliza dari pihak hotel, bahkan kini sudah memiliki alamat rumah Eliza.
"Haruskah aku menemuimu?" Gumam Jibril sembari menatap potongan kertas yang tertulis alamat lengkap Eliza. Jibril menarik napas panjang sebelum akhirnya ia menyambar kunci mobilnya.
Jibril harus menemui Eliza, ia ingin mengenal gadis itu lebih dekat dan berharap masih ada kesempatan untuk membalas cintanya.
Jibril melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang hingga akhirnya ia memasuki kawasan perumahan yang cukup mewah. Jibril menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang tak kalah mewah dari rumah Micheal.
"Cari siapa, Tuan?" Tanya security rumah itu.
"Elizabeth, Pak," jawab Jibril. "Apa dia ada?"
"Oh, Non Eliza ke gereja, Tuan. Ini 'kan hari minggu,"
"Hah?"
...🦋...
...Seamin tak seiman, itu lah kisah ini. ...
...Tak ada niat, tak ada maksud untuk memojokan suatu keyakinan. Cerita ini hanya karangan dari seorang author yang ingin membuat cerita dengan tema yang berbeda. ...
...Jika suka, silakan lanjutkan. Jika tidak, bisa tinggalkan tanpa meninggalkan komentar yang dapat menjatuhkan authornya. ...
...Thank you. ...