Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #15 - Cinta Tak Mengenal Perbedaan


Karena pertemuan yang tak pernah terduga itu, kini Shalwa sedikit kehilangan ketenangan hatinya yang susah payah ia dapatkan selama ini. Bayang-bayang Eliza dan Jibril terus berkelana tanpa bisa di cegah dalam benaknya.


Shalwa sungguh tak habis fikir dengan apa yang ada dalam hati dan benak Jibril hingga memilih Elizabeth sebagai pemilik hatinya. Karena terus memikirkan hal itu, Shalwa sampai tak bisa tidur.


Di sisi lain, Eliza juga tak bisa tidur. Namun, bukan karena ia kehilangan ketenangannya. Melainkan karena malam ini ia terlalu bahagia hingga Eliza tak mampu menutup matanya.


Eliza memeluk kotak cokelat yang di belikan Jibril, masih ada sisa beberapa cokelat di dalamnya dan Eliza rasa takkan memakannya. Kapan lagi dia mendapatkan sesuatu dari tuan es batu seperti Jibril?


Eliza teringat dengan kata-kata dr. Alma, cinta itu anugerah dan tidak ada perbedaan dalam cinta. Yang mencintai dan di cintai adalah hati, bukan yang lain.


Sementara itu, Jibril justru kembali merenungi apa yang sudah terjadi. Jibril sangat tidak menyangka Shalwa bisa menjadi teman Eliza, bahkan mereka terlihat sangat akrab layaknya sahabat dekat. Jibril takut kembali menyakiti Shalwa jika Shalwa tahu bahwa wanita yang Jibril maksud adalah Eliza.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?" Jibril mengusap wajahnya dengan kasar.


Jibril membuang napas dengan kasar kemudian menjatuhkan tubuhnya ke ranjang, Jibril menatap langit-langit kamarnya dengan nanar. "Apa yang sedang Engkau rencanakan untuk kami, ya Allah?"


Perlahan Jibril memejamkan mata, hari ini cukup melelahkan baginya. Apalagi dengan segudang pekerjaan yang kini akan selalu menjadi aktifitas sehari-harinya.


...🦋...


Saat matahari menampakkan dirinya, memancarkan cahayanya yang di sambut ceria oleh semua makhluk di muka bumi.


Eliza justru masih bergelut manja dengan selimutnya, ia tampak sangat tenang. Bahkan, bibirnya seolah tersenyum. Darrell yang hendak membangunkankan Eliza sedikit mengernyit bingung melihat keadaan adiknya yang tampak berbeda.


Darrel melambaikan tangannya di depan wajah Eliza, tak ada respon sedikitpun. Ia pun memeriksa obat penenang Eliza dan isinya masih penuh, berarti Eliza sudah lama tidak mengkonsumsi obat penenangnya itu.


Darrel menghela napas panjang, ia duduk di samping Eliza kemudian menepuk pipi sang adik dengan lembut. "Eliza, bangun! Sudah siang, El."


Eliza hanya menggeliat malas sampai selimutnya melorot, kerutan di kening Darrel semakin dalam saat melihat ada kotak cokelat di balik selimut adiknya itu. "Astaga, Eliza! Kamu tidur sama cokelat?" pekik Darrel yang membuat kedua mata Eliza langsung terbuka lebar.


Darrel hendak mengambil cokelat itu tapi dengan sigap Eliza mengambil kembali cokelatnya. "Apaan sih, Darrel! Ini cokelatku, kamu nggak boleh makan tanpa izinku!" seru Eliza dengan begitu tegas yang membuat Darrel terperangah.


"Sejak kapan kamu pelit sama Kakakmu ini, eh? Bukannya barangku itu barangmu? Itu kan yang selalu kamu bilang?"


"Nggak, aku berubah fikiran. Sekarang barangku ya barangku, barangmu ya barangmu."


Darrel semakin tercengang, adiknya sudah banyak berubah. "Sekarang kamu keluar deh, aku mau mandi!" Eliza mendorong Darrel keluar dari kamarnya sementara Darrel tak bisa berbuat apa-apa selain menurut.


"Nggak jadi! Aku malas!" Eliza balas berteriak.


"Terus kamu mau apa? Belajar bisnis nggak mau, kuliah ngagk mau!" teriak Darrel lagi.


Keributan kakak beradik itu menyita perhatian kedua orang tua meraka, Nyonya Jill langsung bertanya ada keributan apa di pagi hari seperti ini. Darrel memberi tahu bahwa lagi-lagi Eliza menolak menemaninya menemui klien.


"Nggak mungkin 'kan selamanya Eliza cuma hidup di antara kita dan Ruby aja, Mom? Dia harus berinteraksi dengan dunia luar, kita sudah mengikuti kemauan dia yang nggak mau kuliah. Tapi masak iya kita juga harus mengikuti kemauan dia yang ngagk mau belajar bisnis?" tutur Darrel panjang lebar.


"Darrel, adikmu itu masih kecil. Biarkan aja dia bersenang-senang dengan hidup yang membuat dia nyaman," jawab Nyonya Jill yang membuat Darrel hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Mom, kita harus paksa Eliza supaya keluar dari zona nyaman dia!" ujar Darrel penuh penekanan.


"Nanti, Darrel! Nanti, kalau dia sudah siap," jawab Nyonya Jill juga penuh penekanan.


Eliza memang sangat ia manjakan apalagi setelah kejadian mengerikan yang hampir merenggut nyawa dan kesucian Eliza saat putrinya itu berusia 12 tahun.


Butuh waktu bertahun-tahun agar Eliza kembali tersenyum seperti sekarang, dan sebagai ibu, Nyonya Jill takkan membuat Eliza tertekan dalam hal apapun.


Di usianya yang memasuki usia 23 tahun ini Eliza memang tak kuliah dan juga tak mau bekerja, kedua orangtuanya tak masalah dengan itu selama Eliza merasa bahagia. Namun, Darrel memiliki pandangan yang berbeda. Ia ingin adiknya melawan traumanya, Darrel mau Eliza bangkit dan menjadi kuat. Tak takut menghadapi dunia luar.


"Terserah kalian saja!"


...🦋...


Jibril kembali bekerja seperti hari kemarin, Erma sudah menyusun jadwalnya yang cukup padat dan itu membuat Jibril sudah sakit kepala.


Saat Jibril fokus bekerja, ia mendapatkan telfon dari seseorang. Jibril mengernyit saat tahu siapa yang menghubunginya. Ia pun menjawab panggilan itu dengan tenang, Jibril mempersilahkan orang itu menemuinya di ruang kerjanya.


Tak berselang lama, pintu terbuka dan Jibril langsung menyambut tamunya dengan senyum hangat. "Ada apa, Shalwa?" tanya Jibril tanpa basa-basi seperti biasa.


Shalwa duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Jibril, masih tampak kesedihan di mata Shalwa. Namun, kali ini perempuan itu terlihat lebih menegarkan diri.


"Aku cuma mau memastikan, apa wanita yang kamu maksud itu adalah Elizabeth?" tanya Shalwa yang juga tak bisa basa-basi.


...🦋...