
"Ini kan Tante yang cium Om Jibril terus di tampar sama Om terus nggak punya uang pas belanja!"
Wajah Eliza langsung merah padam mendengar ucapan Tanvir yang tak di filter sedikitpun itu, apalagi kini kedua wanita yang bersama Jibril juga memandang Eliza dengan tatapan tak biasa membuat Eliza langsung tersenyum kaku dan tampak salah tingkah. Jibril yang melihat reaksi Eliza itu tak bisa menahan senyum gelinya, dan Jibril sudah menduga ini pasti akan terjadi.
Jibril sengaja membawa Aira dan Zenwa karena Jibril tak ingin terbiasa mengahabiskan waktu berdua saja dengan Eliza, karena sekarang ia meraskan betapa menyenangkannya berinteraksi dengan Eliza dan mungkin itu akan membuatnya candu.
"Tanvir, tidak boleh berbicara seperti itu, Sayang," tegur Zenwa.
Aira dan Zenwa tidak terkejut mendengar kata-kata Tanvir karena Tanvir sudah menceritakan semua itu pada semua orang tanpa bisa di cegah, padahal Jibril sudah memperingatkan Tanvir bahwa itu adalah rahasia yang harus di jaga. Namun, rahasia Tanvir adalah memberi tahu semua orang secara berbisik.
"Beneran, Mama. Kan waktu itu Tanvir sudah cerita sama Mama, ini lho Tante cantik tapi nyebelin karena bikin kita menunggu Om Jibril lama," tukas Tanvir dengan begitu lugasnya tanpa beban sedikitpun.
"Bocah ...," geram Eliza antara gemas dan kesal. "Itu hanya masa lalu, Sayang. Nggak usah di ungkit-ungkit lagi, ya!"
"Tanvir bukannya mau ngungkit, Tante. Cuma tiba-tiba ingat aja," balas Tanvir tak mau kalah.
"Eliza, tolong maafkan Tanvir. Dia memang suka ceplas-ceplos kalau ngomong," kata Aira.
"Nggak apa-apa," jawab Eliza santai. "Eh, tapi kok kamu tahu nama aku?" tanyanya kemudian.
"Kak Jibril sudah bercerita tentangmu," jawab Aira sambil tersenyum di balik cadarnya.
"Kak?" Sebelah alis Eliza naik saat mengajukan pertanyaan itu, seolah ia ingin memastikan arti 'kak' itu.
"Iya, Kak Jibril. Aku adiknya, namaku Humaira Emerson." Aira mengulurkan tangannya sementara Eliza justru tercengang dengan wajah yang kembali merah padam. Ia sangat malu, padahal tuduhannya tadi terucap dengan begitu lancar tapi ternyata tuduhannya melenceng.
"Dan ini keponakan Kak Jibril, baby Ali," papar Aira yang membuat Eliza semakin merasa tak punya wajah. Ia hanya tersenyum kaku kemudian menyambut uluran tangan Aira.
"Maaf, ya. Hehe, aku fikir ..." Eliza kini melirik Jibril yang masih mengulum senyum. "Kalau yang ini siapa? Bukan istrinya, kan?" tanyanya pada Zenwa.
"Dia kakak iparku, Mamanya Tanvir," jawab Jibril.
"Aduh! Maaf," ucap Eliza yang langsung tampan sungkan pada keluarga Jibril.
"Nggak apa-apa, nggak usah minta maaf, Eliza" tukas Zenwa.
Tak lama kemudian seorang pelayan datang dan langsung menyapa Jibril dengan hormat, setelah itu mereka di bawa menuju ruang VIP yang sudah di booking oleh Jibril.
"Tante, kali ini Tante punya uang, kan?" tanya Tanvir tiba-tiba yang membuat Eliza semakin gemas pada bocah itu.
"Tanvir! Livia!" tegur Aira dengan tegas. Namun, kedua bocah itu justru memasang wajah seriusnya seakan meraka memang khawatir Eliza tak punya uang.
"Aku harap kamu nggak lupa bawa dompet, kamu udah janji mau traktir aku," ujar Jibril tiba-tiba sambil terkekeh yang membuat Zenwa dan Aira terkejut, kedua wanita itu saling melempar tatapan seolah tak percaya bahwa pangeran Emerson itu bisa bercanda juga.
"Ai, Kakakmu salah makan?" bisik Zenwa.
"Mungkin dia nggak sengaja nonton comedy, Mbak," balas Aira yang juga berbisik.
Sementara Eliza justru tampak menikamati ucapan ketiga manusia yang mengkhawatirkan ia tak punya uang itu. Awalnya Eliza sedikit terkejut karena Jibril membawa banyak orang bersamanya, tapi kedua bocah itu justru membuat suasana hatinya lebih baik meskipun anak-anak itu juga sempat mempermalukannya.
"Sepertinya aku bawa dompet," ucap Eliza sambil mengedikan bahunya.
"Sepertinya?" Tanya Jibril dengan alis yang terangkat.
Kini meraka sudah ada di ruang VIP yang tentu saja sangat nyaman dan terpisah dari orang lain, Aira langsung mendudukan bayinya di sofa dan Tanvir serta Via langsung duduk bersama adik mereka.
"Kalau kita nggak bisa bayar, mungkin kita harus mencuci piring disini seperti yang terjadi di film-film," kekeh Eliza yang membuat Jibril juga terkekeh.
"Aku pastikan kita nggak akan mencuci piring disini, jangan khawatir!" tegas Jibril yang membuat Zenwa dan Aira semakin bingung.
Aira dan Zenwa sudah tahu siapa Eliza, termasuk keyakinan apa yang di pegang Eliza. Mereka tak masalah jika Jibril memang hanya berteman dengan Eliza dan mencoba menahan perasaan cintanya, karena itulah mereka ikut bersama Jibril. Mereka tak bisa melakukan apapun karena baik Zenwa maupun Aira sudah mengalami pahit manis perjalanan cinta. Sehingga mereka tak bisa menyuruh Jibril menghapus cintanya untuk Eliza, karena itu hal yang tak mungkin. Satu-satunya yang bisa mereka lakukan hanya membantu mengawasi Jibril dan mendoakan yang terbaik untuk kedua insan yang sedang di mabuk asmara itu.
Selain itu, Aira dan Zenwa sepakat takkan memberi tahu hal ini pada orang tua mereka karena orang tua mereka pasti terkejut dan khawatir pada Jibril.
Sambil menunggu pesanan makanan mereka datang, mereka mengobrol ringan. Eliza tampak sangat nyaman dan nyambung saat di ajak bicara oleh Zenwa dan Aira, hingga akhirnya perhatian Eliza tertuju pada cara berpakaian Aira yang tampak sangat berbeda.
"Kalau boleh tahu, kenapa kamu memakai ini ...." Eliza menutupi sebagian wajahnya dengan tangannya, mencontohkan Aira yang menutup sebagian wajahnya dengan kain cadar.
"Karena aku cantik, Eliza. Aku ingin hanya suamiku yang melihat kecantikanku apalagi suamiku itu mudah cemburu," jawab Aira yang membuat Eliza sedikit tertegun.
Eliza mengalihkan pandangannya pada Jibril yang saat ini justru sibuk dengan baby Ali, ia menatap Jibril kemudian bertanya, "Jibril, apa kamu juga cemburu kalau ada pria lain yang melihat kecantikanku?"
...🦋...
Sambil nunggu Jibril, mampir dulu kesini yaa 😍