
Sesuai janji Jibril, Eliza tak perduli mencuci apalagi menyetrika baju-baju yang katanya besar dan ribet dipakai. Dulunya Jibril hanya mempekerjakan orang untuk membersihkan rumahnya saja, tapi sekarang ia harus mempekerjakan asisten rumah tangga untuk bekerja 24 jam mengingat Eliza tak bisa masak, tak bisa membersihkan rumah, tak bisa mencuci, apalagi menyetrika.
Jibril sangat tidak masalah dalam hal itu, ia menikahi Eliza karena mencintai wanita itu, bukan mencari pelayanan dari sang istri.
Tak terasa sudah hampir satu bulan pernikahan mereka berjalan, ada banyak yang terjadi dalam hubungan mereka. Apalagi dengan sikap Eliza yang tak ubahnya anak-anak yang masih polos sehingga sering sekali menghadirkan drama yang membuat Jibril harus banyak ber-istighfar.
Eliza sudah memberi tahu kedua orang tuanya juga Darrel tentang keinginannya yang ingin berhenti bekerja dan hanya ingin menjadi ibu rumah tangga saja, kedua orang tuanya tak melarang jika itu yang membuat Eliza bahagia. Namun, berbeda dengan Darrel yang masih sedikit bersitegang dengan Eliza.
Bagi Darrel, Eliza harus tetap bekerja dan berkarir, tak boleh bergantung pada Jibril meskipun Jibril sangat mampu memberikah segala kebutuhan dan keinginan Eliza. Namun, yang Darrel takutkan adalah bagaimana jika terjadi sesuatu nanti dalam pernikahan mereka.
Eliza menjawab ketakutan sang Kaka dengan mengatakan bahwa ia dan Jibril menikah bukan untuk berpisah, dan sampai mati Eliza akan selalu menjadi tanggung Jibril. Jika pun nanti ada sesuatu yang tak diinginkan terjadi, Eliza pasti bisa menghadapinya. Namun, ketika dia masih bersama Jibril dan menjadi istri yang sangat di cintai, kenapa Eliza harus memikirkan perpisahan yang tak pasti itu? Sementara yahh jelas dan pasti adalah Jibril memperlakukannya dengan sangat baik.
Dan hari yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga, resepsi pernikahan yang kata Eliza ingin sederhana tapi harus mengundang semua orang. Alhasil, resepsi pernikahan Jibril dan Eliza tak kalah mewahnya dari resepsi pernikahan Aira dulu.
Eliza tampil sangat cantik dalam balutan gaun pengantinnya yang tertutup, ia bak bidadari yang baru saja turun dari langit dan itu sangat mampu menyita perhatian orang-orang. Begitu pula dengan Jibril, dia sangat tampan seperti seorang penageran membuat setiap wanita yang menatapnya akan terpesona.
Saat ini sang pengantin sedang berdansa dengan mesra diiringi musik yang romantis, tatapan keduanya beradu, menunjukan cinta yang tulus dan dalam.
Kedua keluarga pun menikamati pesta meriah yang menyatukan mereka, tak ada yang terlihat berbeda sekarang. Semuanya sama, sama-sama keluarga Eliza dan Jibril. Para sahabat mereka juga tak mungkin ketinggalan pesta pernikahan yang sangat mereka tunggu-tunggu ini.
"Aku pasti cantik banget malam ini," kata Eliza sambil tersenyum manis.
"Nggak akan ada yang meragukan itu, Sayang," jawab Jibril yang langsung membuat Eliza merona.
"Para tamu pria terus menatapku," goda Eliza yang membuat sang suami menghela napas lesu.
"Karena itulah aku memintamu menutupi sebagian wajahmu, aku benar-benar cemburu," ungkap Jibril sejujurnya yang membuat Eliza terkekeh.
"Aku punya hadiah pernikahan untukmu," ucap Eliza kemudian yang membuat Jibril langsung mengernyitkan keningnya.
"Apa? Dimana hadiahnya?" tanya Jibril karena ia tak melihat sang istri menyiapkan sesuatu untuknya.
"Aku punya sulap," kekeh Eliza kemudian dia melepaskan diri dari Jibril.
"Kadang-kadang tindakan Eliza bikin malu loh," gumam Nyonya Jill khawatir dengan apa yang akan dilakukan Eliza.
"Bukan bikin malu, tapi lucu," sambung Jibril.
"Tapi tingkah anak itu memang absurd, Om," sambung Christie sambil terkekeh.
"Benar." Tanvir menimpali. "Masa dia tiba-tiba cium Om Jibril di mall ya di tampar lah sama Om Jibril. Terus habis itu nggak punya uang pas belanja," imbuhnya yang membuat kedua orang tua Eliza melongo, karena mereka belum tahu cerita yang ini.
Sementara seluruh anggota keluarga Jibril yang tahu hal itu langsung memelototi Tanvir secara bersamaan. "Maksudnya?" tanya Darrel penasaran.
"Itu cuma salah faham di masa lalu," jawab Aira.
"Iya, jangan diungkit lagi, kasian Eliza," sambung Zenwa.
"Tapi kami ingin tahu, kenapa Jibril menampar Eliza?" tanya Tuan Henry penasaran.
"Tante ini tahu," jawab Tanvir sambil menunjuk Ruby yang saat ini sedang makan dengan lahap.
"Nanti aku cerita, aku mau selesaikan makan dulu," ujar Ruby dengan santainya.
Sementara di sisi lain, Eliza melanjutkan aksi sulapnya yang di tunggu oleh Jibril dan tamu yang lain. "Lihat tanganku, kosong, kan?" tanya Eliza.
"Iya," jawab Jibril sambil tersenyum.
"Nah, sini tangan kamu," Eliza menarik tangan Jibril, mengusapnya dengan lembut kemudian mengecupnya yang membuat Jibril langsung merona, apalagi ada ratusan tamu yang menyaksikan hal itu.
Hingga akhirnya tiba-tiba Eliza meletakkan tangan Jibril ke perutnya yang membuat Jibril semakin bingung. "Sulapnya mana?" tanya Jibril.
"Di dalam perut, 9 bulan lagi keluar."