
"Kamu mencintainya?" Eliza terhenyak saat mendapatkan pertanyaan itu dari sang ayah, ia hanya bisa menatap ayahnya sejenak sebelum akhirnya Eliza kembali menunduk.
Orang tua Eliza dan Darrel sudah bisa membawa apa jawaban Eliza saat melihat raut wajah Eliza serta tatapan matanya, hal itu membuat mereka langsung menghela napas berat. Mereka tampak kecewa pada Eliza tapi mereka masih mencoba mengerti perasaan Eliza.
"Eliza! Jawab pertanyaan Daddy!" tegas Tuan Henry, ia ingin mendengar jawaban Eliza dari mulut Eliza secara langsung.
"Iya," jawab Eliza akhirnya dengan lirih.
"Astaga, Eliza!" gumam Nyonya Jill seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia menatap Eliza dengan begitu nanar, begitu juga dengan Darrel dan Tuan Henry yang tak bisa berkata-kata lagi.
"Please jangan marah!" seru Eliza kemudian. "Aku tahu kami berbeda, tapi cinta itu tidak mengenal perbedaan, kan? Kami saling mencintai," imbuhnya dengan suara rendah.
"Elizabeth ...." Nyonya Jill menggenggam tangan Eliza dengan lembut. "Kamu lupakan pria itu! Ini nggak akan berhasil dan hanya akan menyakiti kamu sendiri nanti," tukas ibunya penuh penekanan berharap Eliza mengerti.
"Kami belum mencobanya, Mom. Siapa bilang tidak akan berhasil? Kami saling mencintai, aku yakin kami bisa-"
"Cukup, Eliza!" seru Darrel menyela ucapan Eliza. "Nggak akan berhasil, Sayang! Yang berbeda itu bukan cuma kamu dan dia, tapi keyakinan kalian dan keluarga kalian. Semuanya berbeda!"
"Darrel, kamu nggak ngerti perasaan aku!" Balas Eliza kesal kemudian ia segera berlari ke kamarnya tanpa memperdulikan teriakan Darrel maupun kedua orang tuanya.
Keluarga Eliza begitu terkejut juga cemas akan cinta yang di miliki Eliza, meskipun sebenarnya mereka juga senang karena Eliza banyak mengalami perubahan semenjak mengenal Jibril. Namun, mereka tahu keindahan cinta yang di rasakan oleh Eliza saat ini datang bersama ketidak pastian yang terlalu nyata untuk di tentang.
...🦋...
Jibril terus membaca pesan Aira lagi dan lagi, seolah ia ingin benar-benar meresapi pesan apa yang terkandung di dalam kata-kata itu. Untuk sejenak, Jibril lupa akan tahta cinta pada sang Khaliq yang harus ia jaga. Untuk sejenak, Jibril lupa bahwa di samping hati nurani yang memiliki cinta, manusia juga punya hawa nafsu yang sulit di kenali apalagi di kendalikan.
Tak terasa, jam kini sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Jibril langsung mengambil wudhu kemudian ia melaksanakan sholat malam dengan khusyuk. Di setiap sujudnya, Jibril meminta bimbingan akan cintanya. Ia memohon agar Jibril di berikan petunjuk akan apa yang harus ia lakukan. Karena ternyata Shalwa benar, sesuatu yang Jibril biarkan mengalir apa adanya, mengikuti arus saja, sepertinya justru akan menenggelamkan Jibril.
"Ya Allah, jangan biarkan aku mencintai makhluk-Mu melebihi cintaku pada-Mu. Sesungguhnya hatiku, cintaku, jiwaku, adalah milik-Mu. Tuntun aku jika aku keliru, dan kuatkan langkahku jika langkahku adalah benar."
...🦋...
Pagi ini raut wajah Jibril terlihat lelah karena ia hanya tidur sebentar setelah sholat subuh, walaupun begitu Jibril tetap pergi bekerja seperti biasa. Sesampainya di kantor, Jibril di beri tahu oleh Erma ada seseorang yang menunggunya sejak setengah jam yang lalu.
"Siapa?" tanya Jibril.
"Darrel Whiteney," jawab Erma yang membuat Jibril terkejut karena ia tahu pria itu adalah kakak Eliza. Jibril pun meminta Erma agar membawa Darrel ke ruangannya.
Saat bertemu Darrel, Jibril langsung menyambutnya dengan ramah dan Darrel pun menyapanya juga dengan ramah.
"Maaf karena aku menemuimu tanpa membuat janji," kata Darrel.
"Tidak masalah," jawab Jibril.
"Kamu pasti tahu siapa aku," tukas Darrel kemudian yang hanya di jawab anggukan kecil oleh Jibril. "Itu bagus, berarti aku tidak perlu basa-basi," ucap Darrel kemudian sambil mengubah posisi duduknya lebih tegak. "Aku ingin kamu menjauhi adikku, Jibril Emerson!"
...🦋...