
"Eliza nggak mau jawab telfonnya," gumam Ruby cemas. Shalwa yang mendengar itu tampak merasa bersalah, ia merasa terlalu menghakimi Eliza dan ikut campur tentang perasaan Eliza dan Jibril. Padahal, kedua insan itu selama ini tak ikut campur dalam perasaan Shalwa.
"Dia pergi kemana, ya? Aku jadi cemas deh, aku harus bilang apa sama orang tua Eliza nanti?" Ruby kembali mencoba menghubungi sahabatnay itu.
"Mungkin dia cuma butuh waktu sendiri, Rub. Aku yakin dia nggak akan apa-apa kok, Eliza sudah dewasa jadi pasti bisa jaga diri," tukas Shalwa meyakinkan agar Ruby tak cemas.
Ruby berdecak kesal, padahal ia ingin bersenang-senang hari ini dengan kedua sahabatnya. Namun, lagi-lagi Eliza membuat semuanya kacau dan semua itu hanya karena perasaan yang namanya cinta.
"Eliza banyak berubah semenjak kenal sama Jibril, Shal. Aku khawatir sama dia," lirihnya kemudian.
"Jibril pun sudah banyak berubah sejak kenal dengan Eliza, Rub. Aku seperti tidak mengenali Jibril yang sekarang," Balas Shalwa.
Sementara di sisi lain, Aira dan yang lainnya sedang menikmati kue yang di pesan oleh Aira. Namun, Eliza tak lagi merasa nyaman berada di antara keluarga Jibril karena Aira kini bersikap dinginnya. Aira seolah menunjukan perbedaan yang ada di antara keluarganya dan Eliza, adik dari Jibril itu memperlihatkan dengan sangat jelas ia tak menyambut cinta Eliza untuk Jibril.
"Tante?" Eliza tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya yang membuat Jibril bingung, begitu juga dengan kedua orang tuanya. "Aku mau pamit," ujar Eliza.
"Kamu belum makan kuenya, Elizabeth. Makan dulu sedikit," seru Ummi Firda sembari memotong kue itu sedikit.
"Nggak usah, maaf ya sudah buat kue Tante rusak," ucap Eliza dengan tulus.
"Iya, nggak apa-apa. Maaf juga tadi tante marah-marah, soalnya tante lagi capek," Balas Ummi Firda yang membuat hati Eliza tersentuh, ia menyunggingkan senyum mendengar istri dari seorang pengusaha bisa minta maaf dengan begitu tulus pada orang yang jauh lebih muda.
Ummi Firda memang kesal pada Eliza. Namun, dia tak sungguh-sungguh marah pada wanita itu. Meskipun sebenarnya ia cukup terkejut melihat penampilan Eliza dan ia tak habis fikir apa yang membuat putranya jatuh cinta pada wanita itu.
Apapun alasannya, Ummi dan Abi tak keberatan sama sekali selama kedua insan itu saling mencintai serta tidak melanggar batasan yang da di depan mereka.
"Kenapa kamu buru-buru, Eliza?" tanya Jibril kemudian. Ia bahkan lupa bertanya maksud kedatangan gadis itu ke Hotelnya.
"Nggak apa-apa, aku cuma pengen pulang aja," elak Eliza. Ia pun segera pergi dari tempat itu dengan hati yang semakin resah.
Kemanapun Eliza pergi, siapapun yang di temuinya, mereka semua seolah menolak cinta Eliza dan Jibril terang-terangan. Seolah seluruh semesta memang menentang perasaan mereka.
Jibril segera menyusul Eliza tak perduli Aira yang mencoba mencegahnya. "Biarin mereka bicara, mungkin ada hal penting," tukas Abi Gabriel yang membuat Aira menghela napas kasar.
"Bi, tolong bicara sama Kak Jibril supaya menjauhi Eliza," pinta Aira yang membuat kedua orang tuanya itu terperangah.
"Kenapa, Ai?" tanya sang ibu bingung. "Keliatannya gadis itu baik, ceria, apa karena masalah pakaiannya?"
"Lebih dari itu," jawab Aira lirih.
Sementara di luar, Jibril mengejar Eliza yang hampir saja masuk ke dalam lift. "Elizabeth?"
Eliza mengucek matanya yang sudah berembun kemudian ia menoleh dan melempar senyum pada Jibril, seolah ia ingin memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja meskipun hatinya terasa begitu kacau.
"Ada apa?" tanya Eliza.
"Kamu datang ke hotel ini untuk apa?" tanya Jibril tanpa basa-basi yang membuat Eliza sedikit tercengang. Namun, kemudian ia kembali tersenyum tenang.
"Tadinya aku mau ketemu sama kamu, aku nggak tahu kalau kamu ternyata ada di rumah Aira," jawab Eliza sejujurnya.
"Sekarang kamu sudah ketemu aku, terus setelah itu kamu pulang?" Eliza menaikan alisnya mendengar pertanyaan Jibril yang tak ia fahami itu. "Eliza, aku 'kan sudah bilang ingin memperkenalkan kamu sama orang tuaku. Dan ternyata takdir justru mendahului keingananku, aku benar-benar senang sebenarnya. Apalagi aku lihat Ummi dan Abi menyukai kami," tutur Jibril panjang lebar dengan mata yang berbinar.
Benar-benar bukan Jibril seperti biasanya. "Terus kenapa sekarang kamu tiba-tiba mau pulang? Kamu nggak mau mengenal orang tuaku lebih dekat?" tatapan Jibril yang biasanya begitu tajam dan dingin kini justru terlihat begitu sendu saat melontarkan pertanyaan itu.
"Aku mau banget, Jibril. Tapi aku rasa mungkin lain kali aja," jawab Eliza menghindar.
"Kamu menyembunyikan sesuatu?" tebak Jibril. "Ada apa? Apa orang tuamu mengatakan sesuatu? Atau..."
"Semua orang menentang perasaan kita," ujar Eliza akhirnya yang membuat hati Jibril langsung terkesiap. "Orang tuaku, teman-temanku, bahkan Aira. Dan tentu juga orang tuamu pasti akan menentang perasaan kita jika dia tahu apa yang membuat kita berbeda." dada Eliza terasa begitu sesak saat melontarkan kata-kata itu, Jibril pun merasakan hal yang sama.
"Semua orang akan memojokan kita seolah kita melakukan kesalahan yang sangat besar," lirih Eliza kemudian dengan kepala tertunduk dan air mata yang akhirnya tumpah.
Jibril maju selangkah mendekati gadis itu, ia mengeluarkan sapu tangan dari sakunya kemudian menyerahkan sapu tangan itu pada Eliza dan berkata, "Hapus air matamu, Eliza."
"Mau di hapus ribuan kali juga akan percuma karena nanti aku akan menangis lagi," balas Eliza yang membuat Jibril hanya bisa menghela napas berat. Ia pun menyeka air mata Eliza menggunakan sapi tangan tersebut.
"Kalau begitu kamu harus tetap menyeka air matamu sampai air mata itu tak akan keluar lagi," tukas Jibril dengan begitu lembut.
Sementara di dalam ruangan, kedua orang tua Jibril tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat Aira bercerita tentang latar belakang keluarga Eliza. Tentu mereka tak masalah jika Eliza hanya berteman dengan Jibril apapun latar belakang keluarga Eliza. Namun, mereka tak bisa menerima jika ada cinta di antara kedua insan itu.
"Aku mencoba menyadarkan Kak Jibril, Ummi. Tapi yang namanya orang jatuh cinta nggak akan mendengarkan siapapun, mereka berdua sama-sama naif."
Ummi Firda dan Abi Gabriel tak tahu harus mengatakan apa saat ini, mereka terhenyak. Bagaimana bisa putra mereka jatuh cinta pada seorang yang keyakinannya berseberangan dengan mereka?
Tak berselang lama Jibril kembali, ia duduk di samping Tanvir dan Livia. "Ada apa?" tanya Jibril yang meraskan atmosphere berbeda di ruangan itu.
"Jibril, Ummi mau minta sesuatu sama kamu," ujar ummu Firda tiba-tiba. "Tolong jauhi Elizabeth jika kamu masih menghormati Ummi sebagai ibu kamu!"