Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #69 -


Jibril tak bisa berhenti tersenyum saat Eliza tidur di pelukannya dengan berbantalkan lengan Jibril, ia sungguh tak menyangka wanita yang dulu sempat menarik perhatiannya walau sekilas kini sudah sah menjadi istrinya.


Wanita yang dulu menciumnya di tempat umum tapi justru ia balas dengan tamparan secara spontan, wanita itu kini telah sah menjadi istri yang sangat ia cintai dan Jibril sudah memberikan ciuman lembut untuknya.


Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi, tapi Jibril tak ingin menutup mata karena ia masih tak puas menikmati pemandangan indah di depannya. Setelah ia dan menuntaskan kewajibannya, memberikan hak dan kewajiban masing-masing sebagaimana semestinya, Eliza jatuh tertidur mungkin karena kelelahan.


Wanita itu mengakui bahwa ia lelah tapi ia sangat suka dimanja oleh Jibril, Jibril pun berkata demikian. Ia mengakui saat menyukai cara Eliza menyentuhnya dan menciumnya dengan lembut, membuat Jibril merasa terbang ke angkasa.


Dua insan itu sama-sama tak pernah jatuh cinta, tak pernah menjalin hubungan asmara apalagi mengenal yang namanya bermesraan. Sehingga saat keduanya bermesraan untuk pertama kalinya, mereka merasa itu pengalaman yang sangat indah dan sangat berkesan.


Eliza menggeliat dalam tidurnya, ia mencari posisi paling nyaman di pelukan sang suami. Namun, Jibril meringis saat merasakan kulitnya kembali bergesekan secara langsung dengan kulit Eliza.


"Sabar, sabar ... ini ujian," gumam Jibril mencoba menahan hasrat yang di terpancing dalam jiwanya. Jibril pun mencoba tidur karena ia juga sangat lelah sebenarnya.


Tak berselang lama, tiba-tiba Eliza membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah sang suami yang telah mengenalkannnya pada surga dunia, Eliza menatap wajah Jibril yang memejamkan mata.


"Jibril?" panggil Eliza lirih, Jibril yang belum benar-benar tertidur langsung membuka mata.


"Ada, Sayang? Kamu butuh sesuatu?" tanya Jibril yang langsung membuat Eliza terkekeh.


"Hem," jawab Eliza sambil mengeratkan pelukannya pada sang suami yang langsung membuat Jibril meringis. "Kenapa?" tanya Eliza langsung mendongak, menatap wajah suaminya yang tampak memerah dan tersiksa.


"Nggak apa-apa, cuma kalau kamu nyentuh begini terus, aku jadi pengen, Sayang," ungkap Jibril sekujurnya yang membuat wajah Eliza langsung merona, ia langsung menyembunyikan wajahnya di dada Jibril.


"Tapi masih capek dan sakit," lirih Eliza dengan suara yang bahkan hampir tak terdengar oleh dirinya sendiri.


Jibril yang mendengar hal itu terkekeh, ia mengusap kepala Eliza dengan lembut kemudian memberikan kecupan hangat di ubun-ubun sang istri.


"Aku tahu, Sayang, karena itulah aku menahan diri dan mencoba tidur. Tapi kamu kamu malah bangunin aku," ujar Jibril. "Sekarang sebaiknya kamu tidur, udah jam 3 sekarang."


"Tapi habis ini kita masih sholat lagi, kan?" tanya Eliza dengan pupil mata yang melebar.


"Iya, sholat subuh" jawab Jibril "Nanti aku bangunin kamu kalau sudah adzan," imbuhnya.


****


Saat pagi menjelang, Ummi Firda langsung ke dapur setelah ia selesai sholat bersama sang suami. Ummi Firda membuat sarapan untuk mereka semua. Saat sarapan hampir siap, Abi Gabriel datang dan ia langsung menanyakan keberadaan putra dan menantunya.


"Udah jam 7, Sayang. Jibril sama Eliza belum keluar?"


"Namanya juga pengantin baru, Bang," kekeh Ummi Firda.


"Pengantin baru sih pengantin baru ... tapi masa nggak keluar sampai matahari tinggi begini?"


Sementara di kamarnya, Jibril dan Eliza masih tertidur pulas. Keduanya tidak bangun bahkan saat adzan subuh berkumandang. Jibril menggeliat dan melenguh pelan sebelum akhirnya ia membuka mata, seketika Jibril terbelalak saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 7.


"Astagfirullah!" pekik Jibril.


Eliza yang mendengar suara suaminya langsung terbangun, sambil mengucek matanya dia bertanya, "Ada apa?"


"Kita kesiangan, Eliza. Sudah jam 7," jawab Jibril.


"Hah? Subuhnya hilang dong?" pekik Eliza terbelalak.


"Iya, maaf, Sayang. Aku benar-benar nggak bangun," kata Jibril.


"Yah, dosa dong kita."


"Nggak, kan kita ketiduran dan sama sekali nggak bangun, nggak dengar suara adzan juga."


"Tapi kamu sendiri yang bilang kalau nggak sholat itu dosa, sekarang karena kamu telat sholat malah bilang nggak dosa."


"Bukan begitu maksudku, Sayang."


"Jelasinnya nanti aja, jadi gimana ini biar kita nggak dosa?"