
Mungkin benar, wanita adalah makhluk yang paling sulit untuk dipahami. Selain memiliki emosi yang begitu sensitif, cara berpikir wanita pun jauh berbeda dengan pria. Namun, wanita adalah salah satu makhluk terindah yang merupakan anugerah dan sangat dibutuhkan oleh seorang pria. Itu juga yang dirasakan oleh Jibril, awalnya dia berfikir yang paling sulit dalam hidupnya adalah menjalani bisnisnya, melupakan Eliza saat cinta mereka tak mendapatkan restu. Akan tetapi Jibril salah besar, rupanya hal tersulit dalam hidupnya adalah menghadapi mood booster sang istri saat hamil. Dan hal itu harus Jibril lalui selama 9 bulan.
Tak hanya waktu yang harus Jibril korbankan demi sang istri, tapi ego, emosi dan harga diri benar-benar harus dia kesampingkan demi menciptakan kedamaian rumah tangga yang ia impikan. Namun, Jibril juga tak bisa memungkiri kebahagiaan yang hanya bisa diberikan oleh sang istri. Yaitu keturunan
Saat ini Jibril dan Eliza berada di rumah sakit yang ada di desa, lebih tepatnya mereka sedang ada di ruang persalinan sejak 25 menit yang lalu. Elizabeth berusaha sebaik mungkin melahirkan anak pertamanya ini, ia juga tak menangis meskipun sebenarnya dia merasa seolah sedang sekarat. Akan tetapi, yang menangis tanpa henti justri Jibril karena dia tidak tega melihat istrinya yang begitu kesakitan.
"Lora Jibril, saya rasa sebaiknya kamu pergi deh, kami jadi nggak fokus liat kamu menangis begini," ujar Dokter yang menangani Elizabeth. Ini sudah ketiga kalinya Jibril diusir tetapi pria itu enggan beranjak di tempatnya.
"Aku mau nemenin istriku, Dok, kasihan dia kesakitan," jawab Jibril sembari menyeka air mata dengan punggung tangan kirinya sementara tangan kanannya masih menggengam tangan Eliza dengan erat.
"Husshh, sabar ya," kata Eliza dengan napas yang tersengal. Seluruh tubuh Eliza sudah basah karena keringat, perjuangan melahirkan ternyata benar-benar mengerikan dan sekarang Eliza tahu kenapa seorang ibu punya tingkat kemuliaan lebih tinggi dibanding seorang ayah.
Hamil selama 9 bulan lebih tentu bukanlah hal yang mudah, itu sangat menyiksa bahkan Eliza tak bisa tidur nyenyak. Namun, ia tetap merasa begitu bahagia menjalani masa kehamilan pertamanya apalagi Jibril yang selalu ada untuknya, memperlakukannya bak seorang ratu.
Dokter dan suster yang menemani proses persalinan Elizabeth hanya bisa geleng-geleng kepala karena yang ditenangkan justru Jibril dan yang menenangkan justru Elizabeth.
Ini juga adalah sebuah kejutan untuk mereka karena Jibril yang selama ini terlihat dingin dan kaku ternyata bisa menangis seperti anak kecil.
"Kamu yang kuat ya, Sayang," bisik Jibril sembari mengusap keringat Eliza.
"Dorong lagi, Neng El," seru Dokter. "Abaikan suami cengengmu itu," gumamnya kesal.
"Ayo, Sayang, dorong, bismillah."
Eliza kembali mendorong sekuat tenang, dia mengikuti instruksi Dokter yang juga menyuruhnya menarik napas dan menghembuskannya.
Sementara di luar, Abi, Ummi dan keluarga yang lainnya menunggu dengan tidak sabar. Tak henti-hentinya mereka berdo'a, meminta persalinan Eliza dimudahkan. Ibu serta anaknya selamat dan tetap sehat.
Kedua orang tua Eliza yang saat ini masih ada di Jakarta juga memantau putri mereka yang sedang melahirkan dengan cara video call dengan Ummi Firda.
"Masih lama, Mbak?" tanya Nyonya Jill, ia tampak cemas.
"Inysaallah sebentar lagi, Mbak," jawab Ummi Firda padahal dia sendiri tidak tahu kapan perjuangan Elizabeth akan selesai.
Di dalam ruang persalinan, suasana terasa begitu mencekam, Jibril terus menyemangati sang istri sembari sesekali dia menyeka air matanya sendiri. Baru kali ini Jibril menyaksikan secara langsung proses melahirkan yang benar-benar tak mudah, bahkan setiap detik nyawa bisa terenggut.
Sementara Dokter terus memberikan instruksi pada Eliza.
Setelah hampir satu jam bertarung dengan maut, akhirnya terdengar suara tangisan itu bayi yang seketika membuat segala rasa sakit yang Elizabeth rasakan menguap begitu saja. Kini Eliza dan Jibril sama-sama menangis haru, mereka seperti musafir yang menemukan air saat berada di tengah pada pasir di hari yang begitu terik.
"Alhamdulillah, ini malaikat kecil yang sangat cantik," kata Dokter sambil tersenyum, dia menunujukan bayi yang masih berlumuran darah itu pada Jibril dan Eliza.
"Masya Allah, dia cantik sekali, Sayang, secantik kamu," puji Jibril sambil menatap Eliza penuh cinta, ia mengecup kening istrinya itu berkali-kali. "Terima kasih atas," lirihnya.
"Sama-sama," jawab Eliza sambil terkekeh yang membuat Jibril juga terkekeh. Eliza juga begitu bahagia, sampai ia tak tahu harus berkata apa untuk menunjukan kebahagiaannya.
Dokter meminta suster segera membersihkan bayi itu, setelah selesai, Jibril segera meng-adzani putrinya tak lupa ia membacakan doa-doa terbaik untuk tuan putri kecilnya itu.
Setelah itu, Eliza pun juga di persiapkan untuk dipindahkan ke ruang rawat biasa, sementara Jibril kini keluar menemui sang ibu.
"Ummi..." panggil Jibril dengan suara gemetar.
"Bagaiamana, Nak?" tanya Ummi Firda. Namun, bukannya menjawab pertanyaan sang ibu, Jibril justru langsung bersimpuh di kaki ibunya sambil menangis hingga air mata jatuh di kaki sang ibu.
"Jibril, ada apa?" Ummi Firda langsung berjongkong, dia memegang pundak anaknya yang bergetar karena terus menangis. Aksi Jibril itu rupanya menarik perhatian orang-orang di sana.
"Maafin aku," lirih Jibril. "Aku belum bisa menjadi anak yang berbakti untukmu, padahal Ummi sudah melahirkanku dengan mempertaruhkan nyawa." Ummi Firda tersenyum mendengar apa yang diucapkan oleh putranya itu. Ia menarik Jibril hingga pria itu mau berdiri.
Yang mendengar keluhan Jibril ikut tersenyum sambil geleng-geleng kepala, bahkan mereka mulai berbisik tentang pria itu. "Jika anak yang sholeh seperti Jibril saja merasa tak berbakti pada ibunya, apa kabar anak-anak yang masih sering membangkang bahkan membentak orang tuanya?"
"Kenapa dia merasa nggak berbakti sama ibunya? Kalau bicara sama ibunya suaranya sangat rendah."
"Mungkin benar, semakin sholeh seseorang, dia justru semakin merasa banyak yang kurang dalam dirinya."
Bahkan, sang ayah pun merasa tak habis fikir dengan apa yang ada dalam benak Jibril. Dulu, dia sempat takut akan menjadi seperti apa anak keturunannya mengingat dia sendiri dilahirkan dan tumbuh dengan berlumuran darah manusia dan dosa pada manusia apalagi pada Tuhan. Namun, dia memiliki istri bak malaikat sehingga anak keturunannya pun adalah orang-orang yang baik.
"Aku minta maaf atas semua kesalahanku, Ummi," lirih Jibril lagi sembari mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Kamu adalah anak yang sangat berbakti, Nak," kata Ummi Firda. "Dan semoga kamu juga dikarunia anak-anak yang berbakti padamu sebagaimana kamu berbakti pada kami."
"Aamiin." Ayahnya mengaminkan dengan cepat karena memang itulah yang juga selalu ia minta dalam doanya.
"Oh ya, ibu mertuamu mau bicara. Dia bertanya keadaan Eliza," kata Ummi Firda sembari menyerahkan ponselnya pada Jibril.
"Eliza sedang dipindahkan ke ruang rawat, Mom, alhamdulillah dia dan putri kami selamat dan sehat," ucap Jibril.
"Puji Tuhan!" seru sang ibu mertuanya sambil bernapas lega.
"Kami menunggu kalian di sini, Elizabeth pasti senang jika kalian datang."
"Kami akan ke sana sekarang juga, Jibril."