Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #68 - Menjadi Makmummu


Acara makan malam berjalan dengan lancar meskipun Arsyad dan Aira serta Micheal dan Zenwa sedikit datang terlambat. Ini juga pertama kalinya baik Eliza maupun keluarganya bergabung dengan keluarga Jibril.


"Oh ya, Om, mau rencana bulan madu kemana?" tanya Tanvir di tiba-tiba.


"Belum ada rencana, apalagi jadwalku cukup padat dan nggak bisa dibatalkan gitu aja," jawab Jibril.


"Pasti bisa lah, Om, masa bos nggak bisa libur sesuka hati?" cetus Tanvir yang langsung mendapatkan teguran dari sang ibu.


"Tanvir!" Tanvir hanya menatap ibunya sekilas, kemudian ia menatap Eliza yang duduk di samping Jibril.


"Habis ini Tante mau tinggal sama Om Jibril?" tanya Tanvir lagi yang membuat semua orang tertawa.


"Iyalah, aku 'kan istri Jibril, Tanvir. Masa tinggal sama bapak kamu," sahut Eliza sungguh di luar dugaan yang membuat semua orang terhenyak.


Terutama Zenwa, wanita itu hanya melongo sambil menatap Micheal seolah memperingatkan akan sesuatu, membuat Micheal hanya bisa tercengang.


"Eliza, jaga bicaramu," tegur Nyonya Jill. "Maaf ya, Eliza terkadang memang begini," ucapnya pada Zenwa dan Micheal.


"Nggak apa-apa, Tante, Tanvir juga sering begini," ucap Zenwa.


Sementara Eliza dan Tanvir tak merasa ada yang salah dengan omongan mereka, sehingga kedua orang itu tetap santai dan hanya mengedikan bahu saat semua orang menatap mereka.


Jibril pun menatap istrinya itu, ia juga terkejut mendengar kata-kata Eliza tadi. Namun, Jibril tahu Eliza tak bermaksud apa-apa.


Makan malam kembali berlanjut dengan beberapa obrolan ringan, kedua keluarga yang sangat berbeda itu begitu nyambung dan merasa nyaman satu sama lain. Mereka seperti sudah seperti saling mengenal sejak lama. Warna dalam obrolan itu lebih banyak karena adanya Tanvir, Livia dan kedua adik mereka yang selalu membuat semua orang gemas sekaligus kesal.


Setelah acara makan malam usai, mereka pun pamit pulang satu persatu hingga di rumah tinggal Jibril, Eliza dan tentu kedua orang tua Jibril.


Eliza membantu ibu mertuanya membersihkan dapur, sesekali keduanya juga mengobrol ringan dan sesekali juga Ummi Firda menasihati Eliza dalam beberapa hal.


"Aku harap kamu selalu mencintai Jibril, El, karena dia sangat mencintai kamu," ucap Ummi Firda penuh harap.


"Aku juga sangat mencintai dia, Ummi," jawab Eliza dengan nada bicara yang lebih lembut dari biasanya.


Tak berselang lama, Jibril datang ke dapur. Dia memanggil istrinya untuk sholat isya karena mereka belum sholat.


"Sudah tadi tuh sama Abi dan Ummi," jawab Eliza.


"Itu maghrib, Elizabeth. Sekarang sholat isya," ujar Jibril yang langsung membuat Eliza menepuk jidatnya sendiri.


"Oh ya, aku lupa, maaf," ucapnya sambil meringis.


"Ya udah, kalian sholat aja, ini juga sudah selesai," kata Ummi Firda.


Tentu saja hal itu membuat Eliza semangat, ia pun segera menarik tangan Jibril dan membawanya ke kamar mereka padahal tadi Jibril yang mengajak Eliza.


Jibril mengajak Eliza berwudhu, membaca bacaannya dengan benar setelah itu mereka pun sholat bersama.


Sebagaimana semestinya seorang makmum, Eliza mengikuti gerakan Jibril sebisanya. Meskipun terkadang ia harus Jibril mengintip saat sujud, karena Eliza tidak bisa memperkirakan kapan Jibril akan bangun.


Hingga saat sujud terkahir, Jibril sujud lebih lama seperti biasanya dan hal itu rupanya membuat Eliza sedikit bingung. Ia sudah mengangkat kepalanya, tapi ternyata Jibril masih sujud. Selang beberapa detik, ia kembali mengangkat kepalanya dan Jibril masih saja sujud. Hal itu membuat Eliza akhirnya memutuskan untuk sujud dan tak mengangkat kepalanya lagi padahal Jibril sudah duduk, tahiyat hingga Jibril salam/taslim.


Setelah itu Jibril menoleh dan ia mengernyit bingung karena Eliza masih sujud. "Eliza?" panggil Jibril dengan suara rendah, tiba-tiba Eliza langsung mengangkat wajahnya.


"Sudah?" tanya Eliza yang membuat Jibril semakin bingung.


"Iya, sudah," jawab Jibril. Eliza pun tersenyum senang dan langsung duduk bersila. "Kamu udah salam?" tanya Jibril kemudian.


"Belum," jawab Eliza dengan raut yang sedikit bingung.


"Salam dulu, Sayang," pinta Jibril biar Eliza tetap melakukan urutan sholat dengan benar, setidaknya biar wanita itu ingat. Namun, Jibril tercengang saat tiba-tiba Eliza menarik tangannya dan mencium punggung tangannya. "Ini namanya salim, Eliza," tukas Jibril dengan gemas.


"Terus?" tanya Eliza.


"Menoleh ke kanan dan ke kiri seperti tadi waktu sholat maghrib, Sayang."


"OHHH"