Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Ba#54 - Impian


Jibril bertemu dengan teman ayahnya yang selama ini sangat ingin bekerja sama dalam sebuah proyek dengan perusahaan Jibril. Namun, saat proyek itu berlangsung, Jibril justru membuat kerugian yang sangat besar hingga ia berhutang pada teman ayahnya itu. Dan kini Jibril kembali membuat sebuah proyek untuk mengganti kerugian di masa lalu. Kali ini Jibril melakukannya dengan benar, bahkan mereka bisa mendapatkan keuntungan tiga kali lipat lebih banyak dari keuntungan proyek yang sebelumnya.


Saat berbicara tentang bisnis, teman ayahnya itu justru membelokan obrolan pada kehidupan pribadi Jibril. Tampaknya ia ingin menjodohkan Jibril dengan putrinya. Tentu saja hal itu langsung Jibril tolak dengan sangat halus.


Hal seperti apa ini bukan kali pertama terjadi saat Jibril bertemu dengan rekan bisnisnya, teman orang tuanya atau bahkan teman Aira, Micheal atau Arsyad. Ada saja wanita yang ingin di jodohkannya.


Setelah meeting itu selesai, Jibril ingin langsung kembali ke Hotelnya. Ia harus beristirahat karena besok pagi-pagi sekali ia harus kembali melakukan penerbangan ke London.


Sementara di sisi lain, Christie terus mengoceh pada Eliza tentang betapa sempurnanya seorang Jibril. "Dia ramah, mudah tersenyum, menghargai orang lain, tampan, pintar, kaya..."


"Rajin nabung, berbakti sama orang tua dan bla bla bla..." sambung Eliza sambil memutar mata.


Sejak kemarin, Christie terus saja membicarakan Jibril tanpa henti membuat Eliza merasa jengah sekaligus cemburu.


Cemburu? Benarkah?


"Jangan-jangan kamu yang naksir sama dia, Chris. Awas, ya! Aku aduin ke Darrel nanti," gertak Eliza.


"Aku sudah cerita sama Darrel," sahut Christie dengan enteng nya yang yang membuat Eliza berdecak. "Kamu beneran normal 'kan, El? Kamu nggak belok arah, kan?" tanya Christie mungkin untuk yang ke seribu kalinya. "Soalnya kamu itu kayak nggak tertarik gitu sama cowok, ada aja alasan kamu nggak tertarik sama mereka. Jangan-jangan kamu cuma mengada-ngada lagi, alasan, biar nggak ada yang tahu kalau sebenarnya kamu itu..."


Christie langsung membungkam mulutnya saat menyadari tatapan Eliza saat ini, wanita itu seperti macan betina yang hendak menerkam mangsanya.


"Dokter-dokter yang aku kenal itu biasanya bawaannya kalem, anggun, irit bicara, bukan berceloteh terus kayak kamu deh, Chris," tukas Eliza yang membuat Christie langsung tertawa.


"Orang-orang yang baru mengenal agama lain juga biasanya aktif bertanya sama orang yang ahli, El. Nggak kayak kamu, cuma mendem sendiri dan searching di Internet," balas Christie.


"Ya bukan maksud aku nggak mau cari tahu, Chris. Aku cuma... Aku cuma bingung mau cari tahu dari mana, ya udah lah, nanti pelan-pelan aku juga tahu sendiri," jawab Eliza.


"Kenapa? Masih takut? Masih ragu? Masih bimbang?" tanya Christie lagi.


"Entahlah, aku cuma merasa jalanin aja dulu, nanti pasti akan ada arus yang membawaku kok. Karena... Karena kalau aku menunjukan perubahanku, orang-orang akan bertanya kenapa? Bagaimana? Dan sebagainya. Aku bingung harus jawab apa," tutur Eliza. "Meskipun kalian mau menerima keyakinan baru yang aku ambil, tapi lingkunganku kan engga, teman-teman dan orang yang mengenalku, mereka pasti akan banyak bertanya dan menghakimi. Aku nggak sanggup menjawab mereka." Eliza berkata dengan begitu lirih sambil tertunduk dalam.


"Eliza?" Christie duduk di sisi adik iparnya itu, menggengam tangannya dan menatap matanya dengan lembut "Aku tahu orang-orang akan bereaksi seperti kami jika mereka tahu perubahanmu, mereka akan menghakimi kamu seperti yang kami lakukan. Mereka akan mencari kamu dengan berbagai pertanyaan seperti yang kamu lakukan setiap hari sama kamu, mereka juga akan shock sama seperti kami. Tapi, keyakinan itu sama seperti cinta. Itu urusan hati yang sebenarnya nggak perlu di hakimi oleh siapapun. Awalnya, memang sulit untuk menyadari hal ini. Tapi pada akhirnya, orang yang mengerti tentang keyakinannya sendiri akan mengerti keyakinan orang lain bahwa itulah yang ada dalam hati mereka. Dan kita nggak bisa apa-apa."


Eliza menatap mata kakak iparnya itu, mencerna nasihat yang baru saja ia dengar darinya. "Karena itulah aku merasa Jibril akan sangat cocok untuk kamu, kalau dia nikah sama kamu, dia nggak akan membedakan diri dari keluarga kamu hanya karena keyakinan kita berbeda. Aku yakin banget akan hal itu karena saat di pesawat, aku nggak sengaja menginjak jaket dia dan dia dengan sengaja nggak negur atau mengatakan apapun hanya karena aku lagi baca Bible. Dia tahu aku sedang berkomonikasi sama Tuhan yang aku percaya dan dia nggak mau ganggu."


"Oh ya?" gumam Eliza lirih yang langsung di jawab anggukan cepat oleh Christie.


"Tadi selama dalam pesawat, aku juga liat dia itu berdo'a, sambil mengobrol aja dia masih berdo'a pakai tasbihnya, terus dia juga tipe laki-laki yang terlihat sangat menghormati ibunya. Bukannya seperti itu pria impian kamu?