Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #22 - Yang Bertahta Dalam Hati


"Jibril, apa kamu juga cemburu kalau ada pria lain yang melihat kecantikanku?"


Jibril yang di todong pertanyaan seperti itu hanya bisa melongo, ia menatap Eliza sejenak kemudian ia mengalihkan tatapannya pada Aira dan Zenwa yang saat ini menatap Jibril dengan tatapan tak biasa. Seolah mereka berdua tak sabar menunggu jawaban Jibril.


Eliza pun memberikan tatapan yang sama, ia gugup tapi juga tak sabar ingin tahu jawaban Jibril. Hal itu membuat jantung Jibril berdetak lebih cepat dari biasanya, apalagi saat tatapannya kembali dengan tatapan Eliza yang sendu.


"Jibril...?" panggil Eliza karena pria itu tak kunjung menjawab.


"Ak-"


"Pasti cemburu lah, Tante," sela Tanvir tiba-tiba memotong ucapan Jibril. "Semua orang rumah mudah cemburu, kakek, papa, om Arsyad, Tanvir, Om Jibril juga. Semuanya gampang cemburu, makanya nenek, Mama, Tante Aira dan Livia tidak boleh punya teman laki-laki," papar Tanvir panjang lebar yang membuat Jibril menyentil hidung anak itu dengan gemas.


Sementara Eliza yang mendengar jawaban Tanvir justru merasa sangat senang, matanya kembali berbinar dan ia tak bisa menahan senyum sumringah yang mengembang di bibirnya.


"Sayang, tidak boleh menyela ucapan orang dewasa!" tegur Zenwa dengan lembut tapi juga tampak tegas.


"Habisnya Om Jibril lama jawabnya, Ma," jawab Tanvir membela diri.


"Betul itu, dia lama jawabnya," sambung Eliza. "Terima kasih, bocah. Kamu sudah bantu jawab, tapi aku mau dengar jawaban dari Jibril," ungkap Eliza yang membuat Jibril tampak gelagapan.


Aira menatap kakaknya itu seolah memberi isyarat agar Jibril tak menjawab pertanyaan Eliza atau mengelak saja. Sementara Jibril sungguh bingung harus menjawab apa, karena jelas dia cemburu jika ada orang lain yang dekat dengan Eliza. Namun, apa haknya cemburu? Eliza hanya wanita yang mengisi hatinya, bukan lah pendamping hidupnya. Tapi... Bukankah alasan cinta jauh lebih kuat untuk cemburu?


Apalagi Eliza telah bertahta di hatinya tanpa permisi.


"Kalau kamu istriku, tentu aku sangat cemburu," jawab Jibril akhirnya.


Kalau menjadi istri? Eliza tersenyum tipis mendengar jawaban Jibril yang tak ia duga itu. jawaban yang simple, elegan dan penuh makna.


Aira sendiri bernapas lega karena Jibril memberikan jawaban yang cukup netral, ia juga senang melihat Eliza yang apa adanya.


" Oh ya, kenapa kamu cemburu sama Livia, bocah? Dia kan adik kamu, bukan pasangan kamu," tukas Eliza kemudian pada Tanvir.


"Kalau kakek pasangannya siapa, tante?" Tanvir balik bertanya yang membuat Eliza langsung mengerutkan keningnya.


"Ya nenek," jawab Eliza.


"Kalau papa pasangannya siapa?" tanya Tanvir lagi. Kini bukan hanya Eliza yang bingung, Aira, Zenwa dan Jibril juga tampak bingung. Apalagi yang ingin di katakan bocah itu?


"Ya pasangannya mama," jawab Eliza.


"Kalau kakak pasangannya siapa?" seketika Eliza tertawa karena ia mengerti kemana arah pembicaraan Tanvir.


"Kakak sama adik, begitu?" kekeh Eliza. Yang lain pun ikut tertawa, akhirnya ada yang sabar menjawab ocehan Tanvir selain ayahnya sendiri.


"Eh, bocah. Aku memang pintar, tapi kakak sama adik itu nggak bisa jadi pasangan yang bisa di cemburui," balas Eliza.


"Bisa dong, Tanvir sama Livia neh," balas Tanvir tak mau kalah yang membuat Zenwa meringis, sementara Aira dan Jibril hanya bisa tertawa kecil. Beda halnya dengan Eliza yang semakin gemas karena bocah itu tampaknya tak mau kalah, keras kepala juga, fikirnya.


"Eliza, kamu nggak akan menang kalau beradu argumen sama dia," kata Jibril memperingatkan.


"Hebat, ya. Dia cerdas anaknya," puji Eliza dengan tulus. "Jangan-jangan nanti kalau udah geda si Livia bakal di lamar sama bocah itu," imbuhnya.


"Nggak lah, Tanvir begitu karena nggak punya adik sementara dia sangat menginginkan adik," ungkap Zenwa.


Tak berselang lama pesanan mereka datang, Eliza tampak senang begitu juga dengan kedua bocah itu.


"Ini masih panas," ujar Jibril sembari mendorong piring pasta pada Eliza.


"Thank you, kamu memang ngerti deh," kata Eliza sambil mengedipkan sebelah matanya yang membuat Jibril langsung tertawa.


Aira dan Zenwa kembali saling melempar tatapan, rasanya bukan hal yang mudah untuk membuat Jibril tertawa. Namun, entah mengapa kata-kata sederhana dari Eliza justru berhasil membuat Jibril tersenyum dan tertawa. Bahkan, Aira merasa kakaknya itu sudah tak seperti kakaknya.


Sambil makan, Jibril dan Eliza banyak mengobrol. Tentu juga dengan Tanvir dan Livia yang berceloteh ria tentang sekolah mereka dan teman-teman mereka. Eliza yang mendengar cerita kedua anak itu tampak murung, sebenarnya ia juga merindukan masa-masa sekolah, bermain dan mengerjakan tugas bersama teman-temannya. Namun, Eliza masih tak berani.


"Ada apa?" Tanya Jibril yang menyadari raut wajah Eliza.


"Nggak apa-apa," jawab Eliza sambil tersenyum kaku.


Setelah selesai makan, Eliza hendak menghubungi Darrel supaya menjemputnya. Namun, Aira justru mengajak Eliza pulang bersama. Tentu saja Eliza takkan menolak, karena dengan begitu ia punya waktu lebih banyak bersama Jibril walaupun tak hanya berdua saja.


***


Sementara di sisi lain, Shalwa menghubungi kedua orang tuanya untuk memberi tahu penolakannya akan perjodohan yang mereka atur. Awalnya, kedua orang tua Shalwa sedikit mendesak tapi kali ini Shalwa bersikeras menolak.


"Setidaknya, izinkan aku menata hatiku kembali, Ummi," lirih Shalwa memelas.


"Ummi cuma kasihan sama kamu, Sayang," jawab sang ibu dari seberang telfon.


"Kalau Ummi memang kasihan sama aku, tolong kasih aku sedikit waktu," pinta Shalwa.


Terdengar ibunya yang menghela napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Ya udah, terserah kamu aja. Tapi Farid sudah setuju, dia bilang dia memang menyukai kamu sejak dulu, Shalwa."


Shalwa mengulum senyum samar mendengar ucapan ibunya karena sudah sudah banyak yang mengatakan bahwa Farid menyukai Shalwa, tapi rupanya tak semudah itu menerima orang lain meskipun orang itu mencintainya jika masih ada nama orang lain dalam hatinya.


Sekarang Shalwa mengerti kenapa Jibril harus berkata jujur padanya, karena membohongi diri sendiri itu sangat sulit, lebih sulit dari membohongi orang lain.