
"Kenapa kamu mencariku sampai ke rumah, hm? Apa kamu berubah fikiran? Atau jangan-jangan kamu sebenarnya juga suka sama aku dan nggak bisa lupain aku, iya 'kan?"
Jibril sudah membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Eliza, namun kemudian ia kembali menutup mulutnya saat ia tidak tahu harus menjawab apa. Eliza yang menyadari hal itu justru tersenyum puas penuh kemenangan." Kenapa? Nggak bisa jawab, ya? Atau kangen sama aku?"
"Eliza, ada perlu apa kamu menemuiku?" Tanya Jibril dengan suara beratnya, wajahnya masih dingin seperti biasa dan tatapannya pun masih tajam.
"Ck...."Eliza berdecak sambil cemberut. "Aku duluan yang tanya, kamu ada perlu apa sampai cari aku ke rumah? Kamu bikin orang tuaku shock, tahu? Selama ini aku tuh nggak punya teman, terus tiba-tiba ada pria tampan yang mencariku ke rumah, pasti shock lah mereka," tukas Eliza dengan serius yang membuat Jibril meringis.
"Jadi ... kenapa kamu mencariku, Tuan es batu? Atau kamu sudah cair sekarang, hm? Makanya sampai cari aku," celoteh Eliza sambil terkekeh yang membuat Jibril tak bisa menahan senyumnya.
"Aku memang mencarimu, karena..." Jibril teringat saat melihat Eliza keluar dari gereja. "Tidak apa-apa, aku hanya teringat sama kamu."
"Masa?" Pekik Eliza. "Kalau orang nyari orang sampai kerumah, berarti ada keperluan penting," ujar Eliza dan lagi-lagi Jibril hanya bisa mengulum senyum. "Jadi jujur aja sama aku, Kenapa, hm?" Eliza menatap tepat di manik mata Jibril yang hitam, membuat jantung Jibril seketika berdebar lebih cepat namun ia segera mengalihkan pandangannya.
"Aku hanya mau minta maaf karena aku sudah menyakitimu saat terkahir kali kita bertemu." seketika wajah Eliza berubah mendung, ia teringat bagaimana Jibril menolaknya saat itu karena dia sudah punya calon istri.
"Jadi ... apa kamu sudah menikah?" Tanya Eliza dengan suara lirih. Jibril sudah membuka mulut untuk menjawab namun tiba-tiba Eliza kembali berkata, "Belum, ya? Batal apa belum?" Tanya Eliza yang membuat Jibril melongo.
"Ak—" tiba-tiba Eliza menarik tangan Jibril yang membuat Jibril sedikit terkejut. "Nggak ada cincin pernikahan, kamu jadi menikah atau nggak?" Tanya Eliza tak sabar, secara spontan Jibril menggelengkan kepala.
"Sepertinya kami belum jodoh," kata Jibril kemudian yang justru membuat Eliza memekik girang.
"Beneran? Apa jangan-jangan jodohnya sama aku, hm."
"Eliza, bukannya kamu sudah pacar?" entah itu pertanyaan atau pernyataan, namun Eliza sedikit terkejut mendengarnya.
"Nggak, belum. Kamu 'kan nolak aku waktu itu, gimana aku mau pacar?" Tanya Eliza.
"Yang tadi di gereja? Pria itu?" Tanya Jibril.
Eliza sedikit mengerutkan keningnya, gereja? Pria di gereja? "Darrell? Dia kakakku," jawab Eliza. "Tapi kok kamu bisa ada di gereja? Kamu berdo'a juga disana? Kok nggak nyapa aku? Jemaat yang datang hari ini cukup banyak, aku pasti nggak liat kamu," celoteh Eliza sambil tersenyum.
Jibril senang mengetahui pria itu adalah kakak Eliza, namun tetap saja masih ada benteng lain yang begitu tinggi, besar dan kokoh. Tanpa sengaja pandangan Jibril tertuju pada sebuah kalung salib yang menggantung di leher Eliza, hal itu sedikit membuat Jibril sedih. Cintanya bersambut, namun tak mungkin mereka melangkah bersama dalam iman yang berbeda.
"Aku muslim, Eliza. Aku ke masjid, bukan ke gereja."
...🦋...