Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #55 -


"Iya, Ummi. Aku ... aku ...." napas Jibril tersengal saat ia lagi-lagi berlari di Bandara karena Jibril kembali terlambat bangun. "Kayaknya aku nggak mau beli tiket pagi lagi, Ummi. Capek, capek banget," keluh Jibril yang memang sedang berbicara dengan sang ibu di telfon.


Namun, sang ibu bukannya prihatin pada Jibril, ia justru terkejut, menertawakan Jibril yang sudah dua kali hampri ketinggalan pesawat." Ya udah, sabar aja. Bekerja itu sebagian dari ibadah, anggap aja saat ini kamu sedang beribadah," kekeh Ummi Firda dari seberang telfon.


"Jibril, apa kamu butuh jet pribadi sendiri? Yang khusus buat kamu kerja," sambung sang ayah.


"Nggak usah, Bi. Kan sudah ada," jawab Jibril sembari mengatur napasnya yang masih terengah. "Ya udah, aku udah check in, nanti aku telfon lagi kalau sudah ada di London," tukas Jibril kemudian.


"Hati-hati ya, Jay. Di sana itu negara yang besar dan bebas banget," seru sang ibu yang membuat Jibril terkekeh.


"Iya, Ummi. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


🦋


"Semua kursi sudah terisi, tapi kenapa belum terbang juga ya, Mom?" tanya Ayesha pada sang ibu yang saat sibuk dengan ponselnya. "Mom ..." rengek Ayesha sembari menarik tangan ibunya.


"Tunggu sebentar lagi, Sayang," jawab Christie.


"Masih belum ada yang datang, Ay. Kursi di sisi Aunty ini masih kosong," sambung Eliza karena memang belum ada yang menduduki kursi di sampingnya itu. "Ayesha duduk manis dulu, ya. Jangan lupa pasang sabuk pengaman pengamannya."


"Oh, okay," jawab Ayesha kemudian ia duduk tenang di kursinya sendiri.


Eliza menyenderkan punggungnya di sandaran kursi, ia membuka ponselnya dan ada banyak sekali pesan masuk dari beberapa orang. Saat Eliza fokus membalas pesan itu satu persatu, menumpang terakhir yang mereka tunggu akhirnya sudah datang dan kini sudah duduk di sisi Eliza.


Kedua insan itu sungguh kehilangan kata-kata saat ini, sehingga keduanya hanya bisa saling pandang. Christie yang menyadari hal itu justru hanya mengulum senyum, apalagi terlihat jelas dari tatapan kedua insan itu bahwa mereka memiliki sesuatu dalam hati mereka.


Bukankah ada yang bilang bahwa mata adalah jendela hati?


Jibril segera mengalihkan pandangannya begitu juga dengan Eliza saat tiba-tiba Ayesha memanggil Jibril. "Om mau pulang juga?" tanya Ayesha.


"Iya, em mau pergi bekerja," jawab Jibril sedikit gelagapan, ia mengerjap beberapa kali, memastikan ini bukan hanya mimpi. Tadinya Jibril mengira pertemuannya dengan Eliza di Bandara dua hari yang lalu kemudian di lanjutkan dengan minim kopi bersama itu akan menjadi pertemuan terakhir mereka.


Tapi sepertinya takdir masih ingin terus mempermainkan keduanya, menikamati hati dan fikiran mereka yang kini kembali terganggu.


"Nggak nyangka kita akan bertemu lagi di sini, Jibril. Dunia ini sempit juga, ya." Christie terkekeh sembari menatap Eliza. Sedangkan Eliza justru membuang pandangannya ke luar jendela, ia berusaha mengatur jantungnya yang berdetak sangat cepat.


Ingin rasanya Eliza bertukar posisi duduk dengan Christie, tapi ia takut Jibril merasa tersinggung. "Hai," sapa Jibril akhirnya yang membuat Eliza langsung menoleh dan melempar senyum kaku. "Aku nggak nyangka kita bertemu lagi di sini," ujar Jibril kemudian yang hanya di tanggapi dengan senyum tipis oleh Eliza.


Melihat reaksi cuek Eliza membuat Jibril merasa salah tingkah sendiri, ia bertanya-tanya apakah Eliza sengaja bersikap acuh karena hubungan mereka di masa lalu? Ataukah ada alasan lain?


Karena merasa dirinya di acuhkan, Jibril pun menutup mulutnya rapat-rapat. Ia memasang sabuk pengamannya dengan benar, setelah itu Jibril duduk bersender dan menutup wajahnya dengan jaket.


"Dia mengabaikanmu, abaikan dia Jibril!" batin Jibril berkata dengan sinis. "Anggap saja memang orang asing, itu jauh lebih baik."


Sementara Eliza justru hanya bisa termangu melihat sikap dingin Jibril, apalagi pria itu kini menutup wajahnya, seolah ia benar-benar tak mengenal Eliza. "Kata Christie kamu orang yang ramah, tapi kok sikapnya sama aku masih sama? Kayak es batu, dasar tuan es batu."