
Ruby mengajak Shalwa menjenguk Eliza yang masih di rawat di rumah sakit, Shalwa membawa sekeranjang buah untuk sahabatnya itu dan sesampainya disana Eliza justru langsung ingin makan jeruknya.
"Manis nggak, ya?" tanya Eliza pada Shalwa yang mengupas jeruk untuk Eliza. Bersamaan dengan itu, kedua orang tua Eliza yang tadi pergi menemui dokter kini kembali ke ruang rawat Eliza.
"El, masak tamu kamu suruh kupas jeruk," tegur Nyonya Jill yang melihat Shalwa mengupas jeruk untuknya.
"Aku bukan tamu, Tante," ucap Shalwa sambil terkekeh.
"Terima kasih, Shalwa. Eliza bercerita banyak tentang kamu," tukas Nyonya Jill yang juga terlihat menyukai Shalwa. "Kamu adalah orang kedua yang dekat dengan Eliza selain keluarga kami," imbuhnya.
Seketika Shalwa terdiam, berfikir bahwa orang pertamanya adalah Jibril. "Cuma kamu dan Ruby yang berhasil membuat Eliza merasa nyaman dan aman," lanjut Nyonya Jill yang membuat Shalwa sedikit bernapas lega. Ia pun hanya bisa menyunggingkan senyum kakunya.
"Oh ya, Mom. Bagaimana dengan orang yang aku tabrak mobilnya? Apa dia malapor polisi atau meminta ganti rugi?" tanya Eliza.
"Enggak, Sayang. Yang kamu tabrak ternyata Jibril Emerson, pria yang waktu itu kamu cari itu lho, yang bayarin belanjaan kamu," jawab Nyonya Jill yang seketika membuat Eliza dan Shalwa terkejut.
"Jibril?" pekik keduanya bersamaa. Eliza dan Shalwa saling memandang. "Terus bagaimana keadaan dia, Mom? Apa dia terluka?" tanya Eliza cemas.
Rasa cemburu kembali menggelitik hati Shalwa saat ada wanita lain yang begitu mencintai Jibril mencemaskan pria itu, pria yang juga sangat ia cintai.
"Dia baik-baik aja dan dia nggak nuntut apapun," jawab Nyonya Jill. "Ah, pantas tadi aku melihat dia di rumah sakit," gumam nya.
Sementara Eliza kini justru merona saat ia mengingat mimpinya yang terasa begitu nyata saat Jibril menenangkannya. "Jadi dia benar-benar ada di sini? Hem, Tuan es batu mulai sedikit mencair."
"Shalwa ...," panggil Eliza karena Shalwa terlihat melamun, Shalwa langsung menoleh dan melemparkan senyum kaku. "Tetanggamu nggak apa-apa, jangan cemas," ucap Eliza yang membuat Shalwa lagi-lagi hanya bisa tersenyum kaku.
"Sayang, Mom mau pulang dulu, ya. Mau mandi dan mengambil barang-barang kamu," ujar Nyonya Jill kemudian.
"Memangnya aku akan di rawat sampai kapan, Mom?"
"Besok siang kita bisa pulang kalau dokter sudah memastikan keadaanmu baik-baik saja."
Eliza hanya mengangguk pelan, sebenarnya ia sangat benci berada di rumah sakit. Namun, Eliza tahu ia butuh perawatan ini.
Setelah orang tua Eliza pergi, kini tinggal Shalwa dan Ruby yang menemani Eliza. Ruby menanyakan apa yang terjadi hingga Eliza menabrak mobil yang juga sedang berjalan.
Eliza bercerita apa yang ia lihat dan itu kembali membuatnya teringat akan masa kecilnya. Raut wajah Eliza tampak sangat sedih, tatapan matanya menyiratkan luka yang belum sembuh. "Sabar ya, Eliza. kamu pasti kuat melewati semua ini," ucap Shalwa sembari mengusap pundak Eliza.
"Aku bisa melewatinya, tapi aku nggak bisa melupakannya, Shalwa. Hal itu sangat mengerikan," lirih Eliza. "Setiap malam aku seolah mengalami hal itu lagi dan lagi. Waktu itu masih kecil, aku masih lemah—"
"Kamu sangat kuat," potong Shalwa meyakinkan. "Waktu itu kamu masih kecil tapi sudah sangat kuat, kamu berhasil menyelamatkan diri saat itu. Dan sekarang kamu lebih dewasa, kamu jauh lebih kuat dari yang kamu fikir. " Shalwa berkata dengan begitu lembut dan meyakinkan.
"Yeah, dr. Alma juga selalu bilang begitu," lirih Eliza.
Shalwa yang mendengar itu hanya bisa mengulum senyum tipis, hingga tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang membuat mereka mengernyit. "Siapa yang mengetuk pintu kamar di rumah sakit?" kekeh Ruby.
"Masuk!" Teriak Eliza.
Pintu terbuka dan seketika Eliza tersenyum sumringah saat melihat siapa yang datang, "Panjang umur," gumam Ruby sambil menyikut Eliza. Sementara Shalwa sudah menduga bahwa yang datang pasti Jibril.
"Maaf, apa aku mengganggu?" tanya Jibril. Bukan basa-basi, ia hanya merasa datang di waktu yang salah apalagi ketiga wanita itu sedang berpelukan. "Aku cuma ingin tahu keadaanmu, Eliza." lanjutnya.
"Aku baik-baik aja, bagaimana keadaan mobil kamu?" tanya Eliza.
"Rusak," jawab Jibril jujur.
"Parah?" tanya Eliza lagi.
"Lumayan," jawab Jibril lagi.
"Kalau begitu, biar nanti daddy belikan mobil baru sebagai gantinya."
"Aku sudah menyuruh orang memperbaikinya, terima kasih."
Eliza mengangguk mengerti sambil memutar otak, kira-kira ia harus bertanya apa lagi?
"Kalau begitu aku pergi dulu," ujar Jibril kemudian yang membuat Eliza melongo.
"Kamu bilang mau menjenguk aku?" protes Eliza.
"Sudah, kan? Kamu baik-baik aja," jawab Jibril datar seperti biasa yang membuat Rubby cekikikan sementara Eliza mengulum senyum.
"Ya sebenarnya aku nggak baik-baik aja, kepalaku luka dan sakit. Kamu nggak liat?"
"Aku melihat kepalamu di perban dan tadi dokter memang sudah mengobatinya, sakitnya memang nggak akan langsung hilang dan lukanya nggak akan langsung sembuh. Tapi kamu harus sabar, nggak ada opsi lain."
Eliza menganga, begitu juga dengan Ruby sementara Shalwa justru terkekeh mendengar jawaban Jibril yang cukup panjang." Okay, aku pulang dulu," seru Jibril kemudian ia benar-benar keluar dari ruang rawat Eliza.
"Astaga! Kenapa aku bisa terpesona sama pria robot seperti dia?" gumam Eliza kesal dan gumaman itu terdengar oleh Shalwa yang langsung membuat Shalwa kembali terdiam.
"Shalwa, tetanggamu itu aneh," seru Eliza kemudian. "Oh ya, dia punya calon istri sebelumnya. Kamu kenal nggak?"
...🦋...