
Ada berbagai pertanyaan yang berkelana dalam benak Jibril saat ini, pria itu sangat ingin bertanya pada Eliza karena rasa penasaran dalam hatinya begitu membuncah. Namun, Eliza benar-benar tampak tak ingin berbicara dengan Jibril. Wanita itu kembali bersikap acuh padanya, bahkan Eliza hanya menggumam saat Jibril mengatakan sesuatu.
Sementara Eliza benar-benar harus memastikan bahwa dirinya dan Jibril kini harus tetap memiliki jarak, karena Eliza takut tak bisa mengendalikan perasaannya.
Setengah perjalanan telah mereka lewati hanya dengan sedikit cerita, sedikit obrolan dan juga sedikit basa-basi tak penting. Tingkah kedua insan itu tak luput dari perhatian Christie yang membuat wanita itu gemas.
Kini Eliza tidur dengan begitu nyaman di kursinya, sementara Jibril begitu gelisah di tempat duduknya. Bagaimana ia tak gelisah? Sekarang ia mengerti arti istikharahnya selama ini, dia tidak salah dalam mengartikan petunjuk itu. Tapi sekarang ia telah salah dalam mengambil langkah untuk menciptakan jarak antara dirinya dan Eliza.
"Elizabeth?" panggil Jibril dengan lembut. Namun, wanita itu tak merespon karena dia sudah tenggelam dalam alam mimpinya. "Aku...aku tadi bercanda loh," ujar Jibril berharap Eliza hanya pura-pura tidur.
"Aku belum berkeluarga, Azmi itu putranya Aira," ucap Jibril lagi. "Dan aku masih mencintai kamu," imbuhnya dengan suara lirih. Ungkapan cinta itu sekarang terasa begitu berbeda dari yang dulu, seperti ada debaran tak biasa meskipun Eliza saat ini tidak menatapnya seperti dulu.
Dan untuk yang kedua kalinya dalam hidup, Jibril mengungkapkan cinta yang sama pada wanita yang sama. Namun, masih tak ada respon dari Eliza yang memang benar-benar sudah tidur.
Jibril melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Eliza, wanita itu masih tak bereaksi yang membuat Jibril hanya bisa menghela napas lesu.
"Ya sudah lah, kalau jodoh juga nggak akan kemana," gumamnya kemudian dengan begitu pasrah.
Selang beberapa saat, Jibril membangunkan Eliza karena sudah waktunya mereka mendapatkan jatah makan lagi. Eliza yang masih merasa mengantuk hanya menggumam lirih kemudian dia kembali tidur dengan nyenyaknya. Jibril yang melihat hal itu hanya terkekeh, ia pun membiarkan Eliza tidur tapi Jibril tetap mengambil jatah makan Eliza agar bisa di makan nanti.
Saat semua penumpang sudah makan, Jibril justru kembali sibuk dengan bukunya hingga ia di tegur oleh Christie. "Kenapa nggak makan?" tanya Christie.
"Nanti aja, aku belum lapar," jawab Jibril padahal sebenarnya ia hanya menunggu Eliza bangun. Entah kenapa Jibril ingin menemani wanita itu makan.
"Oh, gitu. Si Eliza nggak mau bangun?" tanya Christie.
"Mungkin dia ngantuk banget," sahut Jibril sambil tersenyum lembut.
Tak berselang lama Eliza pun bangun dari tidurnya karena ia memang sudah merasa lapar. "Mau makan?" tanya Jibril penuh perhatian tapi sayangnya hal itu justru membuat Eliza merasa kesal.
"Nggak usah sok perhatian deh, Mas. Nanti kalau istrinya tahu bisa cemburu loh," ucap Eliza dengan suara seraknya, Jibril yang tiba-tiba di panggil Mas itu hanya bisa melongo. Apalagi melihat raut wajah Eliza yang seolah jengah dengan dirinya.
Eliza bersiap melahap makanannya tapi tiba-tiba Jibril mencegahnya. "Apalagi?" ketus Eliza.
"Berdo'a dulu sebelum makan," ujar Jibril.
Eliza yang baru teringat dengan hal itu langsung mengambil buku doa dari dalam tasnya, ia pun langsung mencari doa sebelum makan dan aksinya itu berhasil membuat Jibril terkekeh.
"Kenapa ketawa?" tanya Eliza. "Eh, nggak boleh menertawakan orang yang sedang belajar lho ya. Itu namanya mengejak," tegur Eliza.
"Wudhu juga?" tanya Jibril saat Eliza kembali ke kursinya.
"Hm," sahut Eliza.
"Wudhu itu batasnya sampai siku," ujar Jibril yang membuat Eliza mengerutkan keningnya. "Neh, sikumu nggak basah," ucap Jibril lagi dan Eliza pun langsung memperhatikan sikunya sendiri.
"Oh, gitu. Ya udah, nanti aku basahin lagi," jawab Eliza santai yang membuat Jibril kembali terkekeh. "Kamu belum makan?" tanya Eliza yang melihat makanan Jibril masih tak tersentuh.
"Tadi belum lapar," jawab Jibril.
Eliza kembali menggumam sebagai jawaban, ia pun duduk di kursinya dan Eliza melirik Jibril yang kini berdoa sebelum makan. Jibril mangadahkan tangannya dan ia dengan sengaja membaca do'a sebelum makan kata demi kata agar bisa di ikuti Eliza. Benar saja, diam-diam wanita itu mengikutinya.
"Aku penasaran akan sesuatu," ujar Jibril tiba-tiba saat keduanya kini sudah menikamati makanan mereka masing-masing. "Sejak kapan?" tanya Jibril.
"Sudah lama, sekitar 6 bulan yang lalu," jawab Eliza yang mengerti kemana arah pertanyaan Jibril. "Aku harap kamu nggak menghakimi aku sama seperti orang lain, aku meyakini hal ini setelah mengalami banyak hal, mempelajari banyak hal dan bukan dari satu tempat aja, tapi setelah aku melakukan perjalanan ke beberapa tempat," papar Eliza panjang lebar.
"Kemana?" tanya Jibril lagi.
"Awalnya aku ke Aceh, itu mungkin 2 atau 3 tahun yang lalu, dan sekitar 6 bulan yang lalu aku ke Palestina bersama beberapa orang, di sana aku bertemu anak kecil yang sangat cantik, dia berhijab dan di tengah sulitnya kehidupan yang dia jalani, dia tetap tersenyum, tetap kuat dan banyak hal yang terjadi, banyak yang aku pelajari di sana hingga aku begitu tersentuh. Ada gejolak dalam hatiku yang nggak bisa aku tahan." Jibril tersenyum mendengar cerita Eliza.
"Lalu?" Eliza langsung menoleh saat Jibril bertanya seperti itu.
"Lalu aku memiliki keyakinan yang sedikit berbeda dari sebelumnya, itu perjalanan yang berat," lirih Eliza sembari tersenyum masam saat mengingat masa-masa yang tak mudah dalam hidupnya. "Kembali terjadi perdebatan antara aku dan keluargaku, tapi kamu tahu sendiri kan? Keyakinan dan cinta itu urusan hati dan kita nggak akan bisa paksa orang agar sama dengan cinta dan keyakinan kita."
Sekali lagi Jibril tersenyum mendengar cerita Eliza, mungkin dulu Eliza merasa itu perjalanan yang begitu berat. Namun, sekarang Eliza menyadari perjalanan itu begitu manis dan indah.
"Apa saat itu kamu sudah melupakanku?" Pertanyaan Jibril itu berhasil membuat hati Elizabeth terkesiap, ia menatap Jibril dengan nanar.
"Aku fikir aku sudah melupakanmu sejak 4 atau 5 tahun yang lalu," jawab Eliza yang membuat Jibril kembali mengulum senyum.
"Lalu ternyata?" Jibril kembali bertanya yang membuat Eliza berdecak kesal.
"Lalu ternyata apa? Dari tadi nanya kamu terus," ketus Eliza.
"Ternyata kamu nggak bisa melupakanku, kan? Sama seperti aku," ungkap Jibril sejujurnya yang membuat Eliza terperangah.
"Elizabeth, kamu tahu apa yang dulu memisahkan kita? Dan sekarang alasan itu udah nggak ada, gimana kalau kita nikah aja?"