
"Aku ingin kamu menjauhi adikku, Jibril Emerson!"
Jibril yang mendengar peringatan keras Darrel justru tersenyum tenang karena ia tak merasa berusaha mendekati Eliza dengan sengaja. Namun, takdir lah yang terus mempertemukan mereka dalam segala keadaan dan situasi. Seolah takdir ingin menyatukan mereka yang berbeda itu.
"Sebenarnya aku sedang memikirkan hal yang sama," ucap Jibril kemudian dengan tenang yang membuat Darrel langsung mengernyitkan dahinya. tadinya Darrel menduga mungkin Jibril akan mengelak atau melawan, tapi apa yang keluar dari mulut Jibril sama sekali tak pernah ia duga.
"Kamu juga mencintainya?" tanya Darrel dengan tajam.
"Iya." Jibril menjawab dengan cepat tanpa ragu. Tatapan mata Jibril tampak berbeda, tegas tapi tulus. Darrel bisa merasakan itu. Jibril bahkan tak terlihat marah meskipun Darrel tiba-tiba datang dan langsung meminta Jibril menjauhi Eliza tanpa basa-basi, Jibril masih terlihat tenang.
"Kalau begitu, tolong tinggalkan dia sebelum perasaan kalian semakin dalam dan itu pasti semakin menyakiti diri kalian juga!" Kini nada bicara Darrel lebih santai karena Jibril seolah tak terpancing amarahnya. melihat sikap Jibril yang seperti ini Darrel seoah mengerti kenapa Eliza bisa nyaman dengan pria ini.
"Maafkan aku, Darrel. Bukan maksudku merusak ketenanganmu dan keluargamu. Hanya saja apa yang terjadi antara aku dan Eliza benar-benar di luar kendali kami, aku juga tidak mendekatinya dengan sengaja. Namun, selalu ada alasan yang membuat kami bertemu dan berinteraksi." Darrel mendengarkan penjelasan Jibril tanpa menginterupsi sedikitpun dann Jibril pun berbicara sejujurnya.
"Kalau begitu tolong jauhi dia sebelum langkah kalian terlalu jauh,aku tidak bisa meminta adikku menjauhimu karena itu akan membuat dia semakin sedih," tukas Darrel yang hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh Jibril, meskipun sebenarnya hati pria itu menolak apa yang di minta Darrel.
"Terima kasih," ucap Darrel dengan tulus.
Sementara Jibril kini hanya bisa menghela napas berat, Aira dan Darrel kini sama-sama telah memberikan saran mereka yang sangat tepat.Namun, Jibril masih bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
Jibril menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi, ia memejamkan mata dan merenungi kembali perasaannya. "Okay,aku akan menjauhinya!" seru Jibril kemudian dengan yakin.
***
Kening Eliza berkerut saat ia memeriksa ponselnya dan tak ada pesan satu pun dari Jibril, padahal pria itu sudah membaca pesan yang di kirim Eliza. "Apa dia marah? Tapi kenapa?" gumam Eliza cemas.
Ia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang, tatapannya lurus menatap langit-langit kamarnya. Tiba-tiba Eliza merasakan kantuk yang teramat, ini pasti karena ia sudah meminumĀ obat yang di berikan oleh dokter. Perlahan tapi pasti Eliza pun mulai terlelap. Namun, seketika ia kembali membuka matanya saat tiba-tiba ia seolah melihat Jibril dalam benaknya.
Eliza menyambar ponselnya dan ia langsung menghubngi Ruby dan Shalwa, Eliza mengajak mereke bertemu karena Eliza butuh teman curhat saat ini. Kedua sahabat Eliza itu mau menemui Eliza, mereka akan bertemu di tempat biasa mereka menghabiskan waktu satu jam lagi karena saat ini Shalwa sedang menemani neneknya ke Dokter untuk mengecek darah.
Karena masih ada satu jam lagi, Eliza pun berselancar ria di sosial media untuk mengalihkan fikirannya. Eliza menemukan akun Jibril yang tak terkunci, tapi sayangnya tak ada postingan yang berarti. Yang memenuhi beranda akun Jibril justru teman-teman Jibril yang menandai Jibril.
"Dasar tuan es batu, hidupnya benar-benar monoton," gumam Eliza sambil terkekeh. Namun, seketika senyumnya hilang saat ia melihat postingan teman Jibril yang bernama Arkan. pria itu memposting undangan pernikahan Jibril "Shalwa?"