
Eliza berusaha keluar dari zona aman dan nyamannya selama ini, ia mencoba berinteraksi dengan orang asing. Walaupun awalnya terasa begitu sulit untuk tidak mencurigai mereka, tapi Eliza mengingat apa yang di katakan Jibril sangat benar. Lagi pula apa yang di katakan Jibril memang masuk akal.
Eliza terkekeh sendiri saat yang ia ingat hanya nasehati Jibril, padahal semua orang sudah sering memberikan masukan yang seperti itu. Bahkan, psikiaternya pun dengan begitu rutin memberikan suntikan motivasi pada Elizabeth. Namun, entah mengapa yang masuk hanya nasehat dari Jibril padahal pria itu hanya pernah menasehatinya sekali.
Saat berada di lampu merah, Eliza bertemu dengan sopir taksi yang pernah mengantarnya ke hotel Jibril. Seperti biasa sopir taksi itu memberikan uang dan nasi pada pengamen di sana. Eliza pun mengajak sopir itu menemaninya menemui anak-anak jalanan yang lain, sebagai gantinya Eliza akan memberikan sejumlah uang pada sopir itu untuk di setorkan pada atasannya agar mereka tak merugi.
Setelah selesai dengan aktivitas barunya itu, Eliza pergi ke rumah Ruby. Tentu sahabatnya itu langsung memeluk Eliza dengan erat dan mengungkapkan ke khawatirannya pada Eliza.
"Sudah beberapa hari kamu itu enggak bisa di telfon lho, El. Kamu marah sama aku?" tanya Ruby cemberut yang membuat Eliza justru tertawa.
"Nggak, Memangnya kenapa aku harus marah? Ponsel ku rusak," jawab Eliza sembari pergi ke dapur Ruby, tanpa permisi ia mengambil minuman dingin dar kulkas kemudian meneguknya. Ruby yang melihat tingkah sahabatnya itu sedikit bingung apalagi wajah Eliza tampak memerah.
"Kamu dari mana, El? Kayak haus banget, udah gitu wajah kamu merah-merah lagi, udah kayak terbakar matahari," tukas Ruby.
"Memang kena matahari ini, aku habis bagi-bagi barang sama anak jalanan," jawab Eliza sembari berjalan menuju ruang keluarga, Ruby pun mengikuti sahabatnya itu.
"Kamu bagi-bagi barang sama anak jalanan? Sama siapa?" pekik Ruby tak percaya sekaligus bingung.
"Di temani sama sopir taksi," jawab Eliza lagi sembari menjatuhkan tubuhnya di sofa. "Astaga, aku kok capek ya?" keluhnya.
Ruby memperhatikan Eliza yang kini memang tampak lebih kurus dari sebelumnya, wajah sahabatnya itu bahkan terlihat sangat berbeda. Ruby pun duduk di samping Eliza, ia sudah membuka mulut hendak bertanya bagaimana keadaan Eliza. Namun, tiba-tiba Eliza mengatakan sesuatu yang membuat Ruby tercengang.
"Sebentar lagi aku akan ke London," tukas Eliza. Tentu saja Ruby melotot terkejut, sejak pulang dari London, tak pernah sekalipun Eliza mengatakan akan kembali ke kota itu. Eliza justru pernah mengatakan takkan lagi kembali ke kota yang memberinya kenangan buruk.
Selama ini orang tua Eliza maupun Darrel sudah sering bolak-balik London tapi tak pernah sekalipun Eliza mau ikut.
"Kamu serius? Mau ngapain?" pekik Ruby.
"Entahlah, Rub. Mau mencari jati diri dan arti kehidupan mungkin," kekeh Eliza.
"Aku serius, El!" seru Ruby gemas.
"Aku juga serius, Ruby. Selama ini hidupku abu-abu, aku hidup hanya sekedar tutup mata dan buka mata, melewati siang dan malam tanpa tahu arti kehidupanku apa, hidupku mau di bawa kemana. Aku bahkan nggak sekolah, nggak kerja, aku nggak punya cita-cita, bahkan aku nggak punya hobi yang bisa di tekunu seperti orang lain," tukas Eliza panjang lebar.
"Terus kenapa harus di cari ke London, Eliza?" Ruby kembali bertanya penuh penekanan.
"Karena dari sana aku kehilangan hidupku, Rub." Eliza menjawab dengan begitu lirih.
Ruby hanya bisa menghela napas berat, ia menelisik wajah Eliza yang kini juga terlihat pucat dan kusam. "Oh ya, El. Jib—"
"Kamu punya makanan apa?" tanya Eliza dengan cepat karena ia sudah tahu apa yang ingin di tanyakan oleh sahabatnya itu.
"Aku nggak masak, Mama juga ke luar kota. Kamu mau aku belikan makanan?" Ruby balik bertanya.
"Nggak deh, aku nggak lapar," jawab Eliza karena ia memang hanya mencoba mengalihkan perhatian Ruby.
"Nggak ada," jawab Eliza singkat, raut wajahnya seketika berubah dan kini Ruby menyadari apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
"Kamu mau ke London demi menghindari dia?" tanya Ruby lagi.
"Bisa tolong berhenti bertanya, Rub? Aku benar-benar nggak mau bahas itu." pungkas Eliza semakin kesal, ia pun beranjak dari tempatnya tapi Ruby segera menariknya hingga Eliza kembali duduk.
"Okay, aku minta maf, jangan marah lagi. Aku cuma penasaran," ungkap Ruby. "Tapi aku senang kalau kamu mau pergi dari dia," imbuhnya yang membuat Elliiza tersenyum kecut karena ternyata perpisahannya dengan Jibril seperti sebuah anugerah bagi orang di sekitar mereka.
"Aku cuma mengikuti permainan takdir, Rub. Lagi masih banyak misteri takdir yang akan menjadi kejutan di masa depan. Sekarang aku, Jibril maupun Shalwa melangkah di jalan kami masing-masing."
...🦋...
"Kamu sudah dengar tentang perjodohan Farid dan Shalwa?" tanya Micheal pada Jibril. Namun, adiknya itu justru melamun, seolah tak mendengar pertanyaan Michael.
"Jibril?" Micheal menyentil tangan Jibril yang sejak tadi hanya mengaduk-ngaduk makanan nya.
"Hah? Kenapa?" tanya Jibril gelagapan.
Setelah melihat Eliza tadi fikiran Jibril kembali melayang pada gadis itu, ia juga bertanya-tanya apakah Eliza sudah tidak takut lagi dengan orang asing? Jika itu memang benar, maka Jibril akan sangat senang untuknya.
"Aku tanya, kamu udah dengar belum kalau Farid sama Shalwa di jodohkan?" Micheal mengulangi pertanyaan itu.
"Sudah, aku tahu dari Arkan," jawab Jibril kemudian ia kembali menikmati menu makan siang yang di suguhkan padanya.
"Terus perasaan kamu bagaimana?" tanya Micheal yang membuat Jibril langsung mengerutkan dahinya.
"Bagaiamana apanya?" Jibril bertanya dengan bingung.
"Ya mungkin kamu merasa menyesali keputusanmu yang dulu, atau apa gitu?" Micheal menatap wajah adiknya itu dengan rasa penasaran.
"Ya nggak lah, Kak. Apa yang perlu di sesali? Aku senang kalau Shalwa menikah sama Farid, dia laki-laki yang baik, sangat serasi dengan Shalwa." Jibril memberikan jawaban yang pasti dan terdengar tulus, bahkan matanya pun memberi tahu hal yang sama. Ia tak terlihat tersaingi apalagi cemburu karena memang I hati Jibril tak ada cinta untuk Shalwa. Yang ada hanya rasa kagum.
Sementara Micheal hanya manggut-manggut mendengar jawaban adiknya itu. "Semoga kamu dapat jodoh yang terbaik dari Allah, nggak apa-apa tidak datang di cepat asal datang di waktu yang tepat," ujar Michael yang lagi-lagi membuat Jibril terkekeh..
"Aamiin, aku memang menyerahkan semuanya sama Allah, Kak. Aku sudah hampir menikah, tapi gagal. Sudah jatuh cinta, lagi-lagi gagal. Jadi sekarang biar Allah sendiri yang menuntunku pada jodohku."
...🦋...
Udah tahu belum? Aku punya cerita baru di paijo. 😁 Mampir ya, judulnya Elzara My Obsession, genrenya kebalikan kisah Jibril ini loh.
Nama pemerannya Jayden Edinburgh dan Elzara Hillary. Mampir yuk 😘