Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #52 - Tak Terduga


"Eliza..." Jibril hanya bisa menggumam lirih saat melihat wanita yang selama ini coba lupakan muncul kembali di hadapannya. Jibril merasa tak percaya, ia berharap ini hanya mimpi. Namun, suara Christie yang memanggil nama Eliza menyadarkan Jibril bahwa semua itu nyata.


"Jibril, ayo!" ajak Christie.


Jibril hanya bisa melangkah pelan mengikuti Christie, Jibril tak bisa mengalihkan pandangannya dari Eliza yang saat ini masih sibuk dengan bocah berusia 4 tahun itu.


"Habis ini kita langsung pulang ya, Chris. Aku ngantuk banget," ujar Eliza yang memang matanya terlihat sayu dan mengantuk.


"Kita pergi minum kopi dulu sebentar sama temanku," jawab Christie.


"Teman? Kamu bilang cuma berangkat sen-" ucapan Eliza terhenti saat ia melihat siapa yang muncul dari belakang kakak iparnya itu. Kedua bola mata Eliza membulat sempurna, detak jantungnya berpacu lebih cepat.


Apakah ini mimpi? ataukah hanya halusinasinya saja? Namun, Eliza tahu itu semua nyata saat Christie memperkenalkan diri teman yang ia maksud. "El, dia ini Jibril. Kami baru bertemu di pesawat tadi." Eliza kehilangan kata-kata untuk menyambut perkenalan itu, begitu dengan Jibril. Ia bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa akan permainan takdir yang tak pernah bisa ia tebak itu.


"Oh ya, Jibril. Ini lho adik ipar yang aku ceritain itu, namanya Elizabeth," kekeh Christie tanpa menyadari kecanggungan yang ada antara Jibril dan Eliza.


"Dan ini putri ku, namanya Ayesha Whitney, berikan salam, Sayang," pinta Christie pada Ayesha.


"Halo, Om. Salam kenal, namaku Ayesha." Ayesha memperkenalkan diri dengan begitu antusias, ia mengulurkan tangannya pada Jibril. Hal itu membuat hati Jibril mencair dan perhatiannya sedikit teralihkan, ia pun menyambut uluran tangan Ayesha dan memperkenalkan diri dengan senyum ramah.


"Namaku Jibril, Ayesha. Ngomong-ngomong, nama Ayesha sangat cantik, secantik dirimu," puji Jibril.


"Oh, nama itu pilihan Aunty Eliza," jawab Ayesha sambil mendongak, menatap Tantenya yang sejak tadi hanya menatap Jibril tanpa berkedip barang sedikitpun.


"Hai." sapa Eliza yang tak bisa menyembunyikan rasa canggung nya. Christie yang melihat itu mengira Eliza naksir pada Jibril, sehingga ia menyikut Eliza dan mengedipkan matanya yang membuat Eliza sedikit bingung.


"Hai," sahut Jibril yang juga tampak canggung.


"Setelah hai hai selesai, ayo kita pergi!" seru Christie kemudian. "Biar aku yang nyetir, El. Kayaknya kamu ngantuk, bahaya." lanjutnya.


Eliza hanya mengangguk pasrah, ia pun membawa Chrstie dan Jibril ke mobilnya. Baik Eliza maupun Jibril masih tak bersuara lebih dari 'hai' itu. Keduanya benar-benar kehilangan kata-kata atas pertemuan yang sangat jauh di luar praduga mereka. Setelah 6 tahun, mereka berpisah dan bertekad saling melupakan satu sama lain. Kini takdir justru membawa mereka kembali bertemu dengan begitu mudahnya.


Saat Eliza hendak duduk di depan, Christie melarangnya, ia memberi isyarat agar adik iparnya itu duduk di belakang bersama Jibril. Namun, Eliza tentu menolak mentah-mentah, jantungnya bisa melompat dari tempatnya jika ia duduk di sisi pria yang selama ini menguasai hatinya tanpa bisa ia cegah.


"Ayesha duduk di belakang sama Om ya, Sayang," seru Eliza pada keponakannya itu.


"Masa Jibril di suruh duduk sama bocil, El? Nggak enak lah, kamu aja yang di belakang," sahut Chrstie yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Eliza.


"Nggak apa-apa, aku duduk sama Ayesha aja di belakang," sambung Jibril yang juga tak siap jika harus duduk berdekatan dengan Eliza. Hanya dalam satu mobil seperti ini saja membuat jantung Jibril berpacu tak karuan, apalagi jika mereka duduk berdampingan.


Christie pun melajukan mobilnya menuju salah satu cafe yang sering ia kunjungi jika ia ada di LA, selama dalam perjalanan Christie kembali mengobrol dengan Jibril. Hal itu membuat Eliza sedikit mengerutkan dahinya, karena yang Eliza tahu Jibril itu sangat irit bicara bahkan terkesan takkan bersuara kecuali ia mendapatkan pertanyaan dari lawan bicaranya.


Sesekali Eliza mencuri pandang pada Jibril dari spion, wajah pria itu tak berubah meskipun mereka sudah berpisah selama bertahun-tahun. Satu-satunya yang berbeda hanya wajah Jibril yang terlihat lebih berbinar dari biasanya. Dia tak lagi seperti tuan es batu yang Eliza kenal dulu.


"Apa dia sudah punya istri makanya dia berubah cair begitu? Jadi ramah dan nyambung di ajak ngobrol, pasti karena terbiasa dengan istri dan anak-anaknya?"