Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #29 - Bersamanya


"Kamu tunggu di ruanganku sampai aku selesai meeting, atau kalau kamu mau minta jemput sama Darrel juga boleh." Jibril berkata sembari membawa Eliza ke ruangannya. Sementara Eliza hanya mengangguk pasrah.


Erma datang untuk memberi tahu Jibril bahwa meeting akan segera di mulai." Erma, tolong pesankan makanan untuk eliza terlebih dahulu, dia lapar katanya, "ujar Jibril.


"Baik, Pak," jawab Erma.


Setelah itu Jibril segera pergi ke ruang meeting, meninggalkan Eliza yang kini hanya memandangi ruangan Jibril yang cukup besar. Eliza duduk di sebuah sofa yang berada dekat dengan jendela, Eliza menarik napas dan menghembuskannya dengan perlahan.


Tadinya, Eliza ingin melupakan Jibril. Selain karena mereka berbeda keyakinan, Eliza juga tak mungkin merebut pria yang di cintai temannya. Karena itu lah Eliza tak menghubungi Jibril sedikitpun. Namun, entah kenapa di saat ia sangat membutuhkan seseorang seperti tadi, justru Jibril yang datang padanya.


Eliza mengirimkan pesan pada Darrel memberi tahu bahwa ia ada di kantor Jibril, Eliza ingin di jemout secepatnya. Namun, pesannya itu tampaknya tak masuk membuat Eliza berdecak kesal.


"Kaka macam apa yang nggak ada buat adiknya," gumam Eliza kesal.


Tak berselang lama, Erma kembali ke ruangan Jibril dengan membawa sarapan untuk Eliza. Eliza tak bisa bersikap ramah dengan wanita paruh baya itu, ia sedikit canggung.


"Terima kasih," ucap Eliza kemudian.


"Sama-sama, Nyonya," jawab Erma sambil tersenyum lembut.


Erma pun segera menyusul Jibril ke ruang meeting, dan kini Eliza tinggal sendirian di ruangan yang besar itu.


***


"Aku cuma minta satu kesempatan, Shal. Aku ingin kita mencobanya." Shalwa menghela napas berat mendengar permintaan Farid untuk yang kesekian kalinya. Pria itu kembali melamarnya, memohon agar di berikan kesempatan untuk mencoba memulai hubungannya dengan Shalwa.


Saat ini Farid dan Shalwa sedang berada di rumah nenek, Farid menghampiri Shalwa sebelum ia berangkat bekerja.


"Aku menolak bukan karena apa, Farid. Tapi karena aku sangat menghormati kamu sebagai saudaraku, kalau pernikahan ini kita paksakan bisa saja berakhir tidak baik," pungkas Shalwa.


"Aku yakin kalau kita sama-sama mau berusaha menciptakan rumah tangga yang bahagia, maka akhirnya akan indah kok," ucap Farid meyakinkan yang membuat Shalwa tak tahu harus berkata apa lagi. "Aku tahu kamu masih mencintai Jibril, aku nggak akan memaksa kamu melupakannya. Tapi aku juga tahu, bahwa kamu wanita yang baik dan akan mencintai pria yang harus kamu cintai, yaitu suami kamu."


Sebenarnya Shalwa begitu tersentuh dengan cinta yang Farid tunjukkan padanya, usaha Farid untuk mendekatinya juga begitu gigih. Ia tak menyerah meskipun Shalwa mengungkapkan bahwa saat ini ia masih belum bisa melupakan mantan calon suaminya.


"Okay, nggak apa-apa. Maaf jika aku terkesan mendesak, Shalwa. Aku cuma mau kamu tahu, aku siap menerima kamu apa adanya, aku siap membantu kamu melupakannya dan belajar mencintaiku." sebagai seorang wanita, tentus Shalwa sangat tersentuh mendengar kata-kata Farid itu. Wanita mana yang tak ingin dengan tangan yang begitu terbuka seperti itu?


Shalwa melempar senyum hangat pada pria tampan itu sebelum akhirnya Farid menghampiri nenek yang saat ini sedang ada di dapur, Farid berpamitan pada nenek seperti biasa.


Sebenarnya, tak ada yang kurang dari Farid. Ia juga hampir sempurna sama seperti Jibril, tapi hati jatuh cinta pada siapa yang di kehendaki bukan pada siapa yang terlihat sempurna.


🦋


Eliza yang sudah menghabiskan makanannya tiba-tiba merasa mengangguk, ia arlojinya berkali-kali. Kakinya mengetuk lantai, Darrel sudah membalas pesannya, dia bilang sebentar lagi akan menjemput Eliza.


Namun, tiba-tiba terdengar pintu ruangan yang terbuka. Eliza menoleh dan ia meliat dua orang pria yang masuk ke ruangan Jibril kedua pria itu menutup pintunya. Seketika Eliza panik, apalagi kedua pria itu terlihat garang dan galak. Eliza langsung berdiri dari sofa, ia gemetar dan meremas tali tasnya.


"Maaf, Nyonya. Kami mau mau memeriksa cctv karena kata tuan Jibril cctv ruangan ini rusak," kata salah satu pria itu pada Eliza.


Bayangan masa lalu Eliza kembali berputar dalam benaknya, ia bahkan seolah tak mendengar apa yang di katakan pria itu. Eliza bahkan kini mulai berhalusinasi, ia melihat pria itu sebagai sopirnya dulu yang melakukan kekerasan padanya. Eliza takut, napasnya mulai terasa berat. Bahkan, keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya.


Pria itu mendekati Eliza yang membuat Eliza berteriak histeris, ia lari ke pojok ruangan. Eliza berjongkok, menutup kepalanya seolah ia sangat ketakutan. Bahkan, Eliza kini mulai menangis.


Kedua pria itu tentu bingung, mereka mencoba mendekati Eliza dan berusaha menenangkan Eliza. Namun, Eliza justru semakin menjadi.


Karena panik, kedua pria itu pun hendak meminta bantuan. Saat keluar dari ruangan Jibril, mereka berpapasan dengan Jibril dan memberi tahu bahwa kekasih Jibril menangis.


"Kekasih Tuan nangis ketakutan, Tuan. Kami nggak tahu kenapa, dia menjerit," adu pria itu panik.


Jibril pun ikutan panik, ia segera berlari ke ruangannya. Dan benar saja, Eliza menangis di pojok ruangan. Jibril segera menghampiri wanita itu, ia berjongkok di depan Eliza dan memanggil Eliza dengan lembut.


"Eliza?" panggil Jibril dengan lembut, Eliza tak merespon.


"Elizabeth, kamu kenapa?" tanya Jibril lagi, Eliza yang mendengar suara Jibril langsung mendongak dan seketika ia berhambur ke pelukan Jibril hingga membuat Jibril terduduk. Sementara Eliza menangis tersedu-sedu di pelukan Jibril yang kini mematung sempurna.


...🦋...