Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #9 - Bertemu Lagi


Ruby dan Shalwa sudah menunggu Eliza di restaurant, namun sayangnya Eliza justru mengabarkan ia tak bisa ikut. Eliza juga sudah minta maaf dan menjelaskan bahwa ia ada urusan dengan pria yang sedang di taksir.


"Sepertinya dia berubah fikiran, makanya dia datang dan mencariku," ucap Eliza dari seberang telfon yang membuat Shalwa dan Ruby terkekeh.


"Iya deh, semoga pangeranmu kali ini nggak lari lagi, ya," jawab Shalwa.


"Bener." Ruby menimpali. "Karena aku sudah pusing liat kamu uring-uringan cuma gara-gara tuan es batu itu," imbuhnya.


"Hehe, tuan es batu yang membuat hatiku berdebar, Rub." Ruby dan Shalwa saling pandang hingga akhirnya keduanya sama-sama tertawa. "Udah dulu, ya. Aku lagi nyetir neh, mau samperin dia," ujar Eliza lagi.


"Okay," jawab Ruby kemudian memutuskan sambungan telfonnya.


"Eliza orangnya ceria banget ya, Rub. Kayaknya aku belum pernah ketemu orang yang energik seperti Eliza, teman-teman dia pasti senang punya teman seperti dia. Asyik, nyambung kalau ngobrol. Nggak jaim, pokoknya the best deh," ulas Shalwa yang justru membuat Ruby tampak sedih.


"Apa yang dia perlihatkan itu kebalikan apa yang sebenarnya dia rasakan, Shal," ucap Ruby.


"Maksudnya?" Tanya Shalwa tak mengerti.


"Eliza itu nggak punya teman selain aku, sahabat terbaiknya adalah aku dan kakaknya-Darrell. Dia terlihat ramah dan tersenyum pada semua orang, tapi sebenarnya dia lakukan itu untuk melatih dirinya sendiri dan menyembunyikan rasa takut dia pada orang asing." Shalwa terlihat semakin bingung mendengar apa yang di katakan Ruby.


"Apa terjadi sesuatu padanya?" Tanya Shalwa penasaran.


"Iya, waktu dia di London dan saat itu usianya masih 12 tahun. Dia mengalami penculikan dan kekerasan oleh beberapa orang, bahkan dari orang yang awalnya dia kenal dengan baik. Sejak saat itu, Eliza takut pada semua orang. Kecuali sama kamu dan sama tuan es batu, sepertinya," tutur Ruby sambil terkekeh saat melihat bagaimana Eliza terpesona pada tuan es batu yang tak lain adalah Jibril itu.


"Innalillah, semoga kejadian ini nggak terulang," gumam Shalwa yang ikut sedih.


"Sampai sekarang dia nggak bisa keluar dari traumamya, setiap malam dia bermimpi buruk bahkan berteriak ketakutan dalam tidurny. Dan setiap dua minggu sekali dia harus bertemu dengan psikiater, tapi sejak bertemu dengan tuan es batu itu, sepertinya perhatian Eliza sedikit teralihkan. Dia terus memikirkan pria itu hingga alam bawah sadarnya tak punya lagi punya kesempatan untuk memikirkan masa lalu. "


"Semoga saja pria itu bisa terus mendampingi Eliza jika dia memang menjadi obat untuk Eliza."


"Aamiin, itu juga yang selalu aku minta pada Tuhan."


...🦋...


"Terus kenapa kamu tinggal di hotel, Jay? Kalau kamu memang nggak mau tinggal sama Micheal atau Aira, kamu 'kan bisa tinggal di apartement yang nggak jauh dari kantor itu," sambung Ummi Firda.


"Aku malas, Ummi. Lebih enak di hotel, pengen apa-apa tinggal telfon," jawab Jibril sambil terkekeh.


Tak berselang lama terdengar suara ketukan pintu yang cukup keras dan berulang-ulang yang langsung mengejutkan Jibril, Jibril pun segera menyudahi panggilannua dengan kedua orang tuanya. Jibril bergegas membuka pintu dengan sedikit kesal, namun saat tahu siapa yang datang, seketika Jibril hanya bisa terdiam dengan pupil mata yang sedikit melebar.


"Wow, akhirnya aku menemukan kamu setelah aku puny foto kamu."


"Eliza...."


Eliza tersenyum penuh kemenangan karena informasi yang dia dapatkan ternyata akurat dan kini sang pangeran sudah ada di depannya.


"Halo, Jibril Emerson...." Eliza menyapa sambil tersenyum sumringah sementara Jibril masih tampak shock karena kedatangan Eliza yang tak pernah ia duga. "Kamu fikir cuma kamu yang bisa mencari rumahku, hm? Aku juga bisa, apalagi setelah mengambil gambar kamu dari rekaman cctv. Astaga, bodohnya aku yang nggak menyadari siapa kamu. Padahal semua orang sudah pasti tahu kamu dan keluarga kamu, keluarga Emerson. Bahkan, 3 bulan yang lalu kita ketemu di hotel ini saat Mommy ingin melihat dan menyewa hotel ini. Kemudian, dua bulan lalu orang tuaku menyewa hotel ini untuk acara mereka dan saat itu lah kita bertemu lagi. Tapi bodohnya aku yang masih nggak sadar kenapa kita selalu ketemu di hotel, ya karena kamu pemiliknya. Astaga... "


Jibril terperangah, tercengang dan hanya bisa melongo mendengar ocehan Eliza yang tak ada habisnya itu. "Aku fikir Tanvir adalah satu-satunya makhluk yang banyak bicara, tapi ternyata ada yang lain. Astagfirullah."


Setelah Eliza mengambil gambar Jibril dari rekaman cctv di rumahnya, ia menyebarkan foto itu pada beberapa orang kenalan orang tuanya dan juga kenalan Darrell. Dan siapa sangka, mereka justru mengenali Jibril sebagai putra Gabriel Emerson dan adik dari Micheal Emerson. Bahkan, salah satu teman Darrel memberi tahu bahwa Jibril kini mengambil alih seluruh perusahaan ayahnya termasuk hotel yang di pernah di sewa orang tua Eliza.


Saat mendapatkan kabar itu, Eliza tertawa. Menertawakan dirinya sendiri yang mencari Jibril seperti orang bodoh padahal ternyata segampang ini mencari identitas anak pengusaha. Cukup sebarkan satu foto, semua informasi dengan mudah ia dapatkan.


"Hey, kenapa kamu bengong..." Eliza melambaikan tangannya di depan wajah Jibril yang memang masih bengong.


"A-ada apa?" Tanya Jibril gelagapan yang membuat Eliza terkekeh.


"Kenapa kamu mencariku sampai kerumah, hm? Apa kamu berubah fikiran? Atau jangan-jangan kamu sebenarnya juga suka sama aku dan nggak bisa lupain aku, iya 'kan?"


...🦋...