Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #65 -


Terkadang manusia dan pola pikir mereka membuat orang lain hanya bisa geleng-geleng kepala, bagaimana tidak? Saat seseorang belum menikah, mereka akan di todong dengan pertanyaan yang sama setiap kali bertemu. Kapan menikah?


Saat menikah pun itu tak membuat mereka berhenti bertanya, karena jika ada orang yang cepat menikah maka pertanyaan mereka adalah "Hah, beneran mau menikah?" Jika pun ada yang menikah setelah usia mereka cukup tua, pertanyaan mereka masih akan sama. "Wah, beneran menikah?" Setelah menikah, pertanyaan tak serta berhenti. Orang-orang masih akan bertanya, "Kapan punya anak?" Setelah punya anak, pertanyaan masih berlanjut. "Kapan mau ngasih adik untuk kakak?"


Karena itulah tak ada gunanya melakukan sesuatu karena omongan orang lain. Seperti Jibril yang tak gentar dengan ke-jombloan-nya meskipun banyak orang menyindir, bertanya atau bahkan mengejeknya secara terang-terangan. Jibril hanya melakukan apa yang menurut hatinya benar, dan sekarang inilah yang ia dapatkan.


Menikahi seorang wanita yang menjadi cinta pertamanya, wanita pertama yang berani mencium dan memeluk Jibril. Wanita pertama yang berhasil memberikan warna berbeda dalam hidup pria itu.


Ia sangat berharap pernikahan ini akan memberikan warna lebih banyak lagi, bukan hanya dalam hidup Jibril atau Eliza. Namun, juga untuk hidup keluarga mereka berdua yang sangat berbeda.


Akad nikah Jibril berjalan dengan lancar, disaksikan oleh oleh kedua keluarga. Meskipun ayah Eliza tak bisa menjadi wali nikah putrinya, tapi tentu saja mereka ingin melihat putri mereka saat melakukan akad nikah.


Acara akad cukup sederhana, karena memang ini yang di inginkan oleh Eliza dan Jibril.


Saat Jibril mengucapkan nama Eliza dalam akadnya, Tuan Henry menitikan air mata. Putrinya yang selama ini selalu manja, masih sering merengek layaknya anak kecil, selalu meminta perlindungan dan kasih sayangnya, kini sudah dewasa dan punya pelindung sendiri.


Ada perasaan haru dan cemburu pada Jibril yang telah berhasil memenangkan hati Eliza.


Ummi Firda dan Abi Gabriel pun ikut bahagia karena putra mereka kini menemukan belahan jiwanya, menemukan jawaban istikharah yang selama ini mereka ragukan. Micheal dan Aira juga hadir dalam acara akad itu, mereka sangat ingin menyaksikan akad nikah Jibril. Teruma Micheal yang mengatakan ia penasaran apakah Jibril bisa gugup apa tidak.


Dan benar saja, sebelum akad dimulai pria itu terlihat sangat gugup. Jibril juga mengaku dia merasa panas dingin sehingga itu menjadi bahan tertawaan Micheal.


Setelah akad selesai, Tuan Henry menghampiri Jibril. Ia menatap pria yang kini berstatus menjadi menantunya itu dengan tajam. "Selama ini aku selalu mencintai putriku apapun yang terjadi, Jibril. Aku nggak pernah ninggalin dia sekalipun, kami juga melakukan apapun demi kebahagiaan dia, aku harap kamu melakukan hal yang sama. Jika kamu nggak sanggup membahagiakan dia, atau jika cinta kamu punya kecacatan, segera kembali dia pada kami!"


Jibril yang mendengar kata-kata ayah mertuanya itu merinding, ia teringat dengan apa yang di katakan Abinya pada Arsyad saat hendak merelakan Aira untuknya.


Sementara Eliza merasa begitu terenyuh mendengar kata-kata sang ayah, selama ini ia begitu di cintai dengan tulus dan ayahnya benar, kedua orang tua Eliza selalu memberikan yang terbaik demi kebahagiaan Eliza dan mereka tidak pernah meninggalkannya dalam keadaan apapun. Sementara sebagai anak, Eliza belum bisa memberikan aapapun untuk orang tuanya.


"Inysaallah, Om, aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk Eliza," ucap Jibril penuh keyakinan. Ia menatap sang istri yang duduk di sisi nya. "Aku juga nggak akan ninggalin dia dalam keadaan apapun, selama aku masih hidup, aku akan mencintai dan menjaga dia."


Eliza tersenyum haru mendengar kata-kata Jibril, jantungnya berdebar kencang. "Aku juga hanya akan selalu mencintai kamu sampai napas terakhirku," kata Eliza sembari menarik tangan Jibril, menggengamnya dengan lembut kemudian mengecupnya. Membuat darah Jibril berdesir hangat.


"Sepertinya Jibril nggak akan pernah bisa romantis," bisik Micheal pada Aira. "Liat aja tuh, yang sejak tadi keliatan romantis justru Eliza. Kalau begini terus, bisa-bisa Eliza merasa bosan sama Jibril yang kaku kayak kanibo kering." lanjutnya yang membuat Aira langsung menegur sang kakak.


"Nggak boleh ngomong gitu, Kak. Doakan saja semoga hubungan mereka langgeng dan hanya maut yang bisa memisahkan," tukas Aira.


"Siapa tahu nanti dia bisa berubah, namanya kalau udah cinta, yang nggak bisa jadi bisa," ujar Aira.


"Iya sih," gumam Micheal akhirnya.


"Mommy masih sulit percaya sekarang kamu sudah menikah, El," ujar Nyonya Jill sembari mengusap kepala Eliza yang terbungkus jilbab putih pemberian Jibril. "Sekarang kamu sudah dewasa, Mommy harap kamu bisa menjadi istri yang baik untuk suamimu, Sayang."


"Iya, Mom," sahut Eliza sambil tersenyum lembut.


"Sekarang kamu tanggung jawab Jibril, El," tukas Ummi Firda. "Jika suatu hari kamu menemukan kekurangan dalam diri Jibril, jangan ceritakan itu pada ibumu ya, Nak. Ceritakan itu pada Ummi, biar Ummi bisa langsung berbicara dengan Jibril." Ummi Firda kemudian menatap Jibril dan melanjutkan. "Begitu juga dengan kamu, Jibril. Jika kamu menemukan apa yang tidak kamu inginkan dari Eliza, jangan cerita sama Ummi, Abi atau saudaramu, tapi bicaralah langsung pada orang tua Eliza dengan kata-kata yang pantas. Tapi, alangkah lebih baiknya jika masalah rumah tangga kalian hanya sampai di pintu rumah kalian. Kecuali jika kamu membutuhkan seseorang sebagai penengah."


Jibril merasa begitu terharu mendengar nasihat sang ibu yang tidak pernah bosan memberi tahunya.


"Insyaallah, Ummi," jawab Jibril.


"Selamat menempuh hidup baru ya, El," ucap Aira pada Eliza. "Maaf jika dulu aku pernah mengatakan sesuatu yang membuatmu sakit hati," imbuhnya.


"Sakit banget sih, Ai," sahut Eliza yang membuat Aira terhenyak. Tapi tiba-tiba Eliza terkekeh dan berkata, "Waktu itu baru jatuh cinta, Ai. Aku juga belum dewasa, nasihat kalian seperti sebuah desakan dan ejakan yang membuatku sakit hati, bahkan aku merasa kalian membenciku hanya karena perbedaan keyakinan. Tapi setelah aku berfikir ulang, menyingkirkan ego dan mengesampingkan perasaan pribadiku, aku sadar nasihat kalian semua benar."


Aira tersenyum mendengar jawaban Eliza yang memang jauh lebih bijak. "Oh ya, El, Kak Jibril memang sedikit kaku dan nggak bisa romantis. Tapi bukan berarti dia nggak cinta sama kamu, aku harap kamu nggak bosan sama dia," tukas Aira Kemudian yang membuat Jibril tersipu malu karena itu memang fakta.


"Kalau itu mah aku sudah faham, Ai," kekeh Eliza. "Kalau dia nggak romantis, biar aku yang romantis."


"Oh ya, jadi apa kalian sudah merencanakan punya anak?" sambung Micheal tiba-tiba yang membuat semua orang terkekeh. "Maaf, aku nanya bukan karena apa, tapi karena Tanvir sangat ingin adik perempuan sejak dulu."


"Secepatnya, doakan saja," jawab Jibril.


"Ho'oh, secepatnya kami akan berusaha memiliki anak sebelum Jibril ubanan." Eliza menimpali dengan entengnya.


*********


Sederhana aja akadnya ya, hehe. Nanti deh resepsi aku undangan kalian semua. Btw, sambil nunggu Jibril dan Eliza bikin adik bayi, mampir dulu ke cerita Kak Rini Sha.