
Hingga akhirnya tiba-tiba Eliza meletakkan tangan Jibril ke perutnya yang membuat Jibril semakin bingung. "Sulapnya mana?" tanya Jibril.
"Di dalam perut, 9 bulan lagi keluar."Jibril terbelalak mendengar kata-kata Eliza, ia tercengang dan raut wajah suaminya itu justru membuat Eliza terkekeh.
Orang-orang yang mendengar ucapan Eliza juga tercengang, antara bingung sekaligus tak percaya. Hingga akhirnya Nyonya Jill segera menghampiri putrinya itu untuk menanyakan kebenaran yang sedang mereka semua pikirkan.
"Kamu hamil, El?" tanya Nyonya Jill yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Eliza.
"Beneran hamil, Sayang?" tanya Jibril.
"Iya," kekeh Eliza.
"Kok aku nggak di kasih tahu?" protes Jibril. "Sejak kapan? Udah periksa ke Dokter? Usianya berapa?" Eliza kembali tertawa mendengar pertanyaan sang suami yang beruntun itu.
"Dua hari yang lalu, Sayang, aku juga udah periksa ke Dokter dan taraaaa aku hamil," ujar Eliza dengan girang.
Bukan hanya Jibril yang terharu dengan berita itu, seluruh anggota keluarga mereka juga begitu terharu. Anugerah ini sangat indah dan sangat cepat datangnya.
Tanpa terasa Jibril menitikan air mata bahagianya, apakah seperti ini rasanya akan jadi seorang ayah? Ternyata sangat indah, pantas saja semua orang selalu menyuruh Jibril menikah selama ini, fikir Jibril. Namun, Jibril tak menyesali apa yang terlambat dalam hidupnya karena dia percaya Tuhan memberikan anugerah bukan di waktu yang cepat tapi di waktu yang tepat.
"Hey, jangan nangis," lirih Eliza sembari menyeka air mata sang suami dengan lembut.
"Aku terlalu bahagia makanya aku nangis," ucap Jibril sambil terkekeh, kemudian ia membelai wajah Eliza dengan lembut dan mengecup kening sang istri penuh cinta. "Terima kasih, Sayang, terima kasih banyak atas hadiah terindah di hari terindah ini," ucap Jibril penuh haru.
"Aku yang terima kasih," balas Eliza, ia mengecup punggung tangan Jibril dengan lembut. "Aku sangat mencintaimu, Sayang, dan setiap hari kami selalu membuatku merasa jatuh cinta lagi dan lagi. Aku sampai tidak punya sisa cinta untuk diriku sendiri karena kamu terus mengambilnya," tutur Eliza yang membuat Jibril semakin terharu.
"Sayang, selamat ya!" Nyonya Jill pun tak kuasa menahan air mata bahagia mengiringi kesempurnaan hidup putrinya saat ini, ia memeluk Eliza dan mencium wajah Eliza berkali-kali. "Mommy benar-benar sangat bahagia sekarang, Sayang. Sangat."
"Terima kasih, Mom, terima kasih untuk semua yang Mommy kasih buat aku," balas Eliza.
Ummi Firda pun memeluk putranya sembari mengucapkan selamat. "Sebentar lagi kamu akan jadi ayah, Nak, tugas kamu semakin berat tapi Ummi yakin hidup kamu akan semakin indah," ujar Ummi Firda.
"Ingat, Jibril. Setelah ini yang harus kamu jaga bukan cuma Eliza tapi juga calon cucu kami," sambung Abi Gabriel. "Tidak perlu mencoba menjadi pria yang sempurna, Nak, tapi berusahalah menjadi suami dan ayah yang baik."
"Inysaallah, Bi," jawab Jibril.
Ayah Eliza pun memberikan do'a dan ucapan selamat pada mereka yang "Belajarlah bersikap dewasa, Elizabeth," pinta sang ayah dengan mata yang berkaca-kaca. Putri kecilnya kini akan menjadi seorang ibu, dan mungkin setelah ini waktu serta kasih sayang Eliza akan terbagi untuk keluarga kecilnya sehingga kedua orang tuanya harus mengalah akan hal itu.
Suasana pesta yang tadi penuh suka cita, canda tawa, kini berubah penuh haru.
"Selamat ya, Sayang." Ummi Firda pun tak ketinggalan memberikan selamat pada menantu tersayangnya itu. "Sekarang apa yang kamu mau sudah Allah kabulkan, kalian punya anak sebelum Jibril ubanan," kekeh Ummi Firda sembari mengucek matanya yang juga berkaca-kaca.
"Hehe, iya, Alhamdulillah. Soalnya kami rajin, Ummi, jadi cepat deh di kasihnya," jawab Eliza.
"Hush!" tegur Nyonya Jill.
Darrel, Micheal, Arsyad bahkan Farid dan yang lainnya juga memberikan selamat serta mendoakan yang terbaik untuk Eliza dan Jibril. Tak terkecuali Tanvir, Livia, Ali juga Azmi. Jangan lupakan juga ketiga sahabat Jibril yang kini juga sudah punya istri dan anak. Mereka bertiga tampak sangat bahagia karena kini sahabat mereka yang datar seperti papan sudah memiliki hidup yang sempurna.
Aira, Zenwa, Shalwa serta Ruby juga memberikan selamat dan mereka semua memeluk Eliza dengan gemas. Mereka tak bisa menyembunyikan kebahagiaan karena melihat Eliza dan Jibril juga bahagia. Kebahagiaan mereka seperti magnet yang menarik perhatian semua orang dan menularkan kebahagiaan itu pada mereka.
"Sekarang Om Jibril sudah jadi bapak rumah tangga," ujar Ali. " Berarti Om Jibril nggak boleh tidur siang lagi, harus kerja biar bisa menafkahi anak istrinya kayak Abi," lanjutnya yang membuat semua orang langsung tertawa.
"Semoga kali ini cucunya Ummi perempuan, kembar sekalian biar Livia punya teman," ucap Tanvir yang langsung di aminkan oleh semua orang.
"Terima kasih banyak, Sayang, sekarang aku benar-benar bahagia," ucap Jibril sembari menggengam tangan Eliza dengan erat.
"Aku juga sangat bahagia," balas Eliza penuh hari.
"Bagaiamana dengan sesi foto bersama?" tanya Arkan kemudian padahal sejak tadi dia sudah merekam kebersamaan Jibril dan keluarganya.
"Ayo!" ajak Tanvir dengan semangat.
Mereka pun berkumpul bersama, memasang senyum terbaik mereka dengan mata yang berbinar.
Dulu semua orang bukan hanya meragukan cinta meraka, tapi semua orang dengan terang-terangan bahkan tanpa ragu mengatakan cinta mereka adalah ketidak mungkinan yang nyata. Bahkan, ketidak mungkinan yang ragu untuk di semogakan.
Namun, ketika mereka berdua pasrah, ikhlas, dan berserah pada permainan takdir, maka takdir lah yang akan mengalah dan membawa mereka kembali bersama tanpa kesulitan apapun.
...TAMAT...
MASIH AKAN ADA BONCHAP DAN EPILOG YA, DI TUNGGU AJA DULU. PENASARAN KAN DENGAN MASA-MASA KEHAMILAN ELIZA?