
"Elizabeth..."
Eliza menarik bantal dan menutup telinganya saat mendengar panggilan sang ibu. Wajah Eliza begitu sembab, matanya bengkak karena semalaman ia menangis. Yeah, Eliza menangisi kisah cintanya yang harus di hempaskan ke dasar jurang tanpa di berikan sedikit saja kesempatan untuk naik ke permukaan.
Eliza baru tidur satu jam lalu setelah ia sudah lelah menangis dan air matanya pun seolah sudah kering.
"Eliza, sudah bangun belum, Sayang? Sarapan sudah siap!" seru sang ibu yang begitu mencemaskan Eliza karena sejak kemarin Eliza enggan keluar dari kamar.
Bahkan Eliza enggan menemui Ruby yang datang tadi malam untuk melihat keadaan Eliza. "Eliza, kami minta maaf," tukas Nyonya Jill kemudian dengan tulus.
"Kami nggak bermaksud mengekang kamu, Eliza. Kami cuma mau kamu sadar kalau kamu itu mencintai orang yang salah!" Eliza berdecak kesal mendengar apa yang di katakan ibunya. Dengan kesal ia pun segera turun dari ranjang, bergegas membuka pintu dan seketika Nyonya Jill termangu melihat penampilan Eliza yang sangat kacau.
"Eliza, kamu nggak tidur? Memangnya obat kamu habis?" tanyanya dengan cemas yang membuat Eliza tersenyum kecut.
"Obatnya banyak, Mom. Sudah aku minum 3 butir tapi aku tetap nggak bisa tidur, tahu nggak kenapa?" Nyonya Jill menekuk keningnya mendengar ocehan Eliza. "Aku sibuk mencoba menghapus perasaanku, seperti yang kalian kamu!" desisnya dan kini ibunya yang tersenyum kecut.
"Bagus kalau kamu sadar diri bahwa kamu harus melupakan perasaan itu," tukas Nyonya Jill yang membuat Eliza terperangah. Ia menatap ibunya itu, menggelengkan kepala seolah tak habis fikir bagaimana bisa sang ibu tak bersimpati padanya.
"Mom, tega sekali!" desis Eliza, bibirnya kembali bergetar dan kedua matanya kembali berkaca-kaca. Ah, sepertinya air mata Eliza belum kering, masih ada banyak stok.
"Justru Mommy itu perduli sama kamu, Eliza! Kami melarang kamu karena kami perduli, kami nggak mau nanti kamu patah hati di tengah jalan!" seru sang ibu dengan nada yang lebih lembut. "Dan kamu fikir keluarga Jibril akan merestui kamu, huh? Nggak akan! Sama seperti kamu yang mendapatkan pertentangan dari kami, keluarga dia juga akan menentang perasaan dia! Jangan bodoh kamu!"
Eliza terdiam mematung, karena apa yang di katakan oleh ibunya itu sangat benar. Jibril mengalami nasib yang sama dengannya, di tentang dengan begitu keras.
"Jadi kamu pilih sekarang, Eliza! Memilih melawan perasaan kamu atau melawan restu kami semua?"
Air mata Eliza kembali tumpah mendengar tantangan sang ibu, hatinya seperti di cabik-cabik. Begitu sakit hingga ke tulang-tulangnya.
***
Sementara di sisi lain,, Ummi Firda pun hanya bisa merenungi apa yang sudah ia minta pada Jibril. Karena hal itu ia juga tak bisa tidur. Di satu sisi ia merasa kasihan pada Jibril, apalagi ini pertama kalinya Jibril jatuh cinta. Namun, di sisi lain ia harus menyadarkan Jibril bahwa putranya itu telah jatuh cinta pada orang yang salah.
Ummi Firda tak pernah melihat putranya itu menangis dan sekarang dia menangis hanya karena seorang wanita, perasaan Jibril pastilah sudah sangat dalam pada Elizabeth.
"Sayang ..." Ummi Firda sedikit tersentak saat sang suami menyentuh pundaknya. "Jangan terlalu memikirkan hal itu, aku yakin Jibril tahu apa yang harus dia lakukan," pungkas Abi Gabriel.
"Aku nggak tega aja sama dia, Bang. Ini pertama kalinya dia nangis, kan?" Ummi Firda menatap suaminya itu dengan sendu.
"Hmm," gumam sang suami sembari duduk di sisi sang istri. "Cinta memang seperti itu, menguatkan yang lemah, melemahkan yang kuat. Menggilakan yang waras dan mewaraskan yang gila."
Ummi Firda membuang napas kasarnya kemudian berkata, "Haruskah kita menjodohkan Jibril dengan wanita lain biar dia bisa melupakan Eliza?"
"Itu ide yang sangat buruk, Sayang. Jibril pasti akan memberi tahu calonnya nanti kalau dia mencintai wanita lain, kita belajar dari masa lalu aja bagaimana Jibril dengan tanpa ragu mengakui perasaannya di depan Shalwa dan keluarganya. Jadi sebaiknya kita biarkan Jibril melangkah di jalannya sendiri, biarkan dia berusaha sendiri melupakan Eliza. Kalau kita paksa dia belok arah, nanti perasaan dia makin memberontak karena apapun yang di paksa hasilnya pasti buruk."
"Aku mau ke kamar Jibril, Bang. Mau liat keadaan dia," ujar Ummi Firda kemudian.
"Dia sudah berangkat ke kantor," jawab Abi Gabriel yang membuat Ummi Firda terkejut.
"Sepagi ini?" pekiknya dan Abi hanya mengangguk. "Memangnya ada pekerjaan penting apa sampai dia ke kantor jam 7 pagi?"
"Aku rasa dia hanya ingin menghindari kita."
***
Pagi-pagi sekali Jibril sudah keluar dari kamar hotel, ia butuh waktu sendiri dan Jibril tahu orang tuanya pasti berusaha menemuinya. Ini pertama kalinya Jibril menghindari Ummi dan Abinya. Mau bagaimana lagi? Jibril benar-benar butuh waktu dan ia tak ingin mendengarkan apapun atau siapapun saat ini.
Semalaman Jibril juga tak bisa tidur, lagi pula siapa yang bisa tidur saat sedang patah hati?
Lingkaran hitam terlihat jelas di bawah mata Jibril yang sayu dan tampak kelelahan,
Jibril menepikan mobilnya di pinggir jalan, ia menyembunyikan wajahnya di setir. Perlahan ia menutup matanya dan tanpa sadar ia jatuh tertidur.
Sekitar tiga puluh menit kemudian Jibril kembali terbangun, ia pun melanjutkan perjalanannya ke kantor. Sesampainya di kantor, Jibril langsung mencuci wajahnya agar ia lebih segar. Setelah itu ia meminta di buatkan kopi pada Erma. Namun, Erma justru datang membawa makanan.
"Aku minta kopi, Mbak," kata Jibril.
"Kata Nyonya besar Anda belum sarapan dan katanya Anda tidak boleh minum kopi sebelum sarapan," tukas Erma yang memang mendapatkan pesan seperti itu dari Ummi Firda.
"Buatkan aku kopi, aku ngantuk," tukas Jibril sembari mendorong makanan itu menjauh darinya. Jibril kehilangan selera makannya. Bahkan, sejak kemarin ia hanya sedikit meminum air putuh sehingga bibirnya kini tampak kering dan pucat.
"Tapi-"
"Sekarang, Mbak!" seru Jibril yang tak ingin di bantah.
Erma pun dengan cepat membuatkan kopi untuk Jibril. "Terima kasih," ucap Jibril kemudian.
"Sama-sama, ada yang lain?" tanya Erma yang hanya di jawab gelengan kepala oleh Jibril.
Saat Erma keluar, ia berpapasan dengan Aira yang datang sendirian untuk menemui kakaknya. "Apa Kak Jibril sibuk?" tanya Aira.
"Tidak, Bu. Tuan Jibril baru saja sampai," jawab Erma yang membuat Aira mengernyit bingung karena ia mendapatkan kabar dari orang tuanya kalau Jibril sudah pergi sejak tadi.
"Apa Kak Jibril masih menemui Eliza?"