
Takdir? Haruskah semua yang terjadi di kembalikan atas nama takdir? Bisakah itu di salahkan jika tak sesuai dengan harapan? Atau ... bisakah takdir itu di tawar agar sesuai dengan harapan?
Tak ada yang mengerti takdir, tak ada yang bisa menerkanya. Dan saat takdir itu datang menyapa, yang bisa di lakukan hanya menerima dengan lapang dada.
Seperti Shalwa, awalnya sulit bagi dia untuk menerima kenyataan bahwa ia harus melepaskan pria yang sudah ia cintai sejak dulu. Sulit juga baginya untuk menerima perjodohan yang sudah di atur oleh orang tuanya dengan Farid. Namun, pada akhirnya Shalwa mengalah pada takdir.
Setelah memikirkan banyak hal, Shalwa memutuskan untuk menerima pinangan Farid. Tentu dengan semua kejujuran dan keterbukaan yang sudah sangat jelas, Farid pun mau menerima Shalwa apa adanya dan bersedia menunggu Shalwa mencintainya.
Sementara Eliza, Shalwa sungguh tidak tahu apa yang terjadi pada sahabat barunya itu karena sampai detik ini Eliza masih tak bisa ia hubungi. Ruby pun mengatakan bahwa Eliza juga enggan menemuinya.
Ada perasan bersalah dalam dirinya saat mengingat apa yang sudah ia katakan pada Eliza, Shalwa sadar ia terlalu cepat menghakimi Eliza dan Jibril. Sudah pasti kedua insan itu tidak menyukai hal itu apalagi keduanya sama-sama baru meraskan cinta. Bahkan, perasaan asing untuk Jibril dan Eliza.
Sementara di sisi lain, Aira pun tak bisa menepis rasa bersalahnya atas apa yang sudah ia lakukan pada Jibril. Aira selalu terngiang-ngiang tentang ungkapan hati Jibril saat itu. Ungkapan hati yang tak pernah Aira duga sebelumnya, apalagi untuk pertama kalinya Jibril berbicara penuh emosi dan panjang lebar. Pastilah kakaknya itu sudah tak bisa menekan perasaan pahit yang ada dalam hatinya.
Aira sadar apa yang di katakan Jibril sangat benar, seharusnya ia memberi sedikit waktu untuk sang kakak agar menyelami perasaannya sendiri apalagi ini pengalaman pertama Jibril dalam kisah cinta. Namun, Aira terlalu cepat menyimpulkan sesuatu sehingga tanpa sadar ia pun memojokan Jibril.
Dan Jibril juga benar, tanpa sadar Aira memandang rendah kakaknya sendiri hanya karena Jibril telah jatuh cinta pada seorang wanita, padahal sampai detik ini cinta itu masih hanya sekedar CINTA. Bagaimana bisa Aira meragukan Jibril padahal dia sangat mengenal kakaknya itu?
"Seharusnya aku tahu, nggak mungkin kak Jibril mengikuti nafsunya sendiri," gumam Aira penuh rasa bersalah. "Kalau memang dia mau melakukan itu, mungkin sudah sejak dulu dia melakukannya." Aira menghela napas panjang kemudian menghembuskannya secara perlahan.
Aira sungguh merasa bersalah, merasa lancang telah mendahului kakaknya. "Ada apa?" Aira terperanjat saat tiba-tiba sang suami menepuk pundaknya.
"Eh, nggak, Mas," jawab Aira lirih.
"Tanvir sama Livia sudah cerita apa yang terjadi di hotel," kata Arsyad kemudian yang membuat Aira meringis.
"Seharusnya aku nggak bawa mereka kesana," gumam Aira.
"Emang bener kalau Jibril nangis?" tanya Arsyad penasaran, sejak ia mengenal Jibril, tak pernah sekalipun ia melihat adik iparnya itu menangis. Sehingga saat ia mendengar pengaduan Tanvir dan Livia itu membuatnya sangat terkejut.
"Iya, dan semua itu karena aku." Arsyad yang mendengar jawaban istrinya itu langsung mengernyit bingung. Aira pun menceritakan apa yang terjadi, hingga pertemuannya dengan Jibril di kantor kakaknya itu.
Arsyad yang mendengar cerita istrinya itu tentu sangat terkejut, ia terperangah dan sungguh tak menyangka Aira bisa melakukan hal itu. "Aku nggak bermaksud memojokan dia, Mas. Aku cuma takut bagaimana kalau nanti dia justru terjerumus dalam nafsu? Eliza itu bukan mahram dia dan setan bisa saja hadir di antara," tukas Aira yang justru membuat Arsyad terkekeh. Aira mengerutkan dahi melihat respon suaminya itu.
"Sayang, sejak kapan mencintai orang lain itu bisa di kategorikan nafsu?" tanya Arsyad yang membuat Aira justru semakin bingung. "Aira, nafsu itu ketika kamu menyentuh orang yang bukan pasangan halal kamu atas dasar keinginan. Nafsu itu ketika pria mencium dan memeluk pacarnya mengatasnamakan cinta, memangnya Jibril melakukan itu?"
"Kamu pernah tanya nggak sama Jibril dan Eliza, apakah mereka melakukan itu? Apa keinginan mereka? Atau pernah mereka mencoba saling melupakan?"
Aira kembali terperangah mendengar pertanyaan-pertanyaan suaminya itu, karena semua jawaban pertanyaan itu adalah 'tidak!'
"Aku fikir kamu dan Micheal adalah orang yang paling mengerti Jibril karena kalian berdua selalu mengatakan sangat menyayangi Jibril. Tapi sepertinya rasa sayang kamu begitu berlebihan sampai kamu lupa bahwa Jibril juga punya hati dan perasaannya sendiri."
"Sebenarnya bukan itu maksud aku, Mas. Tapi aku cuma khawatir kalau nanti kak Jibril akan semakin tenggelam dalam perasaannya, bagaimana?" ungkap Aira.
"Kita hanya perlu ingatkan, Humaira. Tak perlu menyudutkan, dan Kakakmu itu bukan orang bodoh yang akan menulikan telinganya dari nasehat orang-orang di sekitarnya. Dan wajar jika seorang manusia itu pernah berada di jalan yang salah, pernah tenggelam dalam nafsu atau pernah lupa diri karena mencintai seorang makhluk. Karena itu manusia, bukan malaikat," jawab Arsyad panjang lebar.
"Hanya karena seseorang memahami ilmu agama, bukan berarti dia akan selalu berjalan di atas ajaran agama itu, Humaira. Kalau begitu, tidak akan ada yang namanya orang-orang bertaubat. Dan taubat itu bukan hanya di lakukan orang yang terlahir sebagai pendosa, tapi banyak yang orang terlahir dengan segala kebaikan kemudian dia tergelincir dan dia pun akan bertaubat. Dan hidup pun akan terasa semakin manis, karena orang yang tak pernah melakukan kesalahan takkan mengetahui manisnya pertaubatan."
"Dan manusia itu bukan iblis, yang akan selalu melakukan kesalahan meskipun sudah menemukan jalan yang benar. Manusia adalah manusia, punya akal yang sehat, hati nurani dan hawa nafsu."
"Kalau aku sih nggak akan meragukan Jibril, kamu tahu kenapa? Karena aku percaya dia masih memegang ilmu-ilmu yang dia pelajari dari orang tuanya maupun dari sekolahnya, jika dia sempat melupakan ajaran itu menurut aku itu wajar. Itu artinya kakak iparku adalah manusia normal."
...🦋...
Jibril duduk di jendela kamarnya, menikamati pemandangan kota yang sangat indah dan memanjakan mata. Jibril memegang ponselnya, sesekali dia memeriksa kontak Eliza yang masih ia simpan. Ingin rasanya Jibril menghubungi wanita itu untuk sekedar bertanya keadaannya. Namun, Jibril sudah berjanji pada orang tuanya untuk melupakan Eliza.
Jibril membuka jendela kamarnya kemudian tanpa ragu dia menjauhkan ponselnya, sudah pasti ponselnya itu akan hancur setelah di jatuhkan dari lantai 25.
Sementara di sisi lain, Eliz saat ini sedang berada dalam mobil bersama keluarga, Eliza memandangi kontak Jibril yang sering ia ganti-ganti nama kontaknya. Kadang Jibril, kadang Jibril Emerson dan kadang tuan es batu.
Perasaan Eliza bergejolak, ia sangat ingin tahu keadaan pria itu. Apakah dia baik-baik saja? Katanya, orang patah hati tidak akan semangat melakukan apapun. Bahkan, banyak orang mengabaikan pekerjaannya karena patah hati. Bagaimana jika tuan es batu itu mengabaikan pekerjaannya karena patah hati? Sedangkan dia adalah pemimpin perusahaan.
Eliza sendiri tak perlu merasa khawatir meskipun dirinya juga patah hati, ia tidak bekerja dan takkan merugikan siapapun, ia hanya merugikan dirinya sendiri karena ternyata patah hati merenggut selera makannya dan ketenangan tidurnya.
Eliza membuka kaca mobilnya kemudian membuang ponselnya begitu saja.
Sekarang Eliza dan Jibril takkan saling mencari tahu karena keduanya sudah memutuskan untuk menghilangkan jejak dari orang yang meraka cintai.
...🦋...