Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #11 - Seamin Tak Seiman


"Aku muslim, Eliza. Aku ke masjid, bukan ke gereja."


Elizabeth terhenyak mendengar ucapan Jibril yang tak pernah ia duga itu, senyum sumringah yang tadi terus mengembang di bibirnya kini musnah seketika. Raut wajah yang tadinya berbinar kini langsung berubah mendung.


"Maaf, jika tidak ada keperluan lain, aku harus pergi," ucap Jibril kemudian padahal sebenarnya ia hanya ingin menghindari Elizabeth. Jibril tak bisa berhadapan dengan Eliza lebih lama lagi, atau magnet antara dirinya dan Eliza akan semakin kuat tanpa ia sadari.


"Oh, i-iya," balas Eliza sedikit gelagapan.


Jibril faham apa yang di rasakan Eliza sekarang, karena itulah yang ia rasakan saat mengetahui keyakinan yang di pegang Eliza berbeda dari keyakinannya.


Dengan langkah gontai, Eliza berjalan menjauh dari kamar Jibril. Pandangannya bahkan tak fokus dan kepalanya seperti berputar, Eliza merasa kesulitan bernapas, dadanya terasa sesak bahkan Eliza hampir jatuh namun tiba-tiba ada yang memegangnya.


Eliza menoleh dan senyum tipis tercetak di bibirnya saat menyadari lagi-lagi Jibril datang menolongnya. "Kamu mengejarku?" Tanya Eliza dengan lirih.


Iya, Jibril mengejarnya dan berlari saat melihat tubuh Eliza yang tampak kehilangan keseimbangannya. "Kamu sedang tidak memakai gaun dan heels, tapi kamu tetap hampir jatuh," ujar Jibril.


"Aku seperti kehilangan keseimbangan," jawab Eliza dengan suara bergetar, bahkan kedua matanya sudah berkaca-kaca dan terasa perih. "Terima kasih," ucapnya kemudian sembari berusaha berdiri tegak.


"Aku ... aku pergi dulu, aku ada janji sama teman-temanku," ucap Eliza, Jibril hanya bisa mengangguk lemah. Hatinya seperti di remas melihat raut wajah Eliza yang berubah total, kini mata gadis itu tak lagi berbinar, tak ada lagi celotehan panjang dari mulutnya. Ia seperti bunga yang layu padahal baru saja mekar.


Eliza kembali melangkah menjauh dari Jibril membawa hati yang bimbang, sementara Jibril masih setia menatap kepergian Eliza hingga akhirnya Eliza kembali menoleh. "Jibril...," panggil Eliza dengan suara lembutnya.


"Ya?" Sahut Jibril sambil memaksakan bibirnya tersenyum padahal dadanya bergemuruh hebat.


"Apa kamu mencintaiku?"


Deg


Sementara Eliza justru tersenyum melihat ke diaman Jibril." Kamu tahu? Seseorang pernah berkata, jika seorang pria tak mampu mengungkapkan cintanya maka lihatlah matanya. Karena dengan tatapannya dia menjawabnya semua perasaan itu." Jibril tertegun mendengar kata-kata Elizabeth yang sangat sesuai dengan dirinya saat ini.


"Seorang pria sepertimu tidak akan mencari seorang wanita kecuali hatimu yang membawanya." lanjut Eliza yang semakin membuat Jibril speechless. Jibril hanya diam seribu kata bahkan saat Eliza kian menjauh hingga akhirnya Eliza masuk ke dalam lift.


Jibril kembali ke kamarnya dengan perasaan yang berkecamuk, sekarang apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia melayani perasaan cintanya? Atau haruskah ia melupakannya dan fokus pada pekerjaan yang lain?


"Ya Allah, berikanlah petunjuk-Mu," gumam Jibril penuh harap.


Sementara itu, Eliza merenungi cinta yang baru saja ia rasakan namun sudah harus terhalang benteng yang paling tinggi dalam hidupnya. "Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Kenapa Engkau memberi cinta pada dia yang berbeda dariku?"


Eliza yang melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tadinya ia ingin menyusul teman-temannya namun Eliza mengurungkan niatnya. Kini Eliza pergi ke rumah dr. Alma.


Sesampainya di rumah dr. Alma, Eliza di sambut dengan begitu hangat. "Aku nggak nyangka kamu akan menemuiku di hari mingui, El," kata dr. Alma.


"Aku ingin curhat," ucap Eliza sambil memainkan tali tasnya.


"Tatap mataku dan katakan apapun yang kau rasakan," tukas dr. Alma.


Eliza pun mendongak, menatap mata dr. Alma dan mulai menceritakan semua hal tentang Jibril tanpa ada yang terlewat sedikitpun. dri. Alma mendengarkan dengan seksama tanpa menginterupsi sedikitpun, ia mencoba memahami kata demi kata yang di ucapkan Eliza.


"Aku bingung sekarang, Dok. Aku sungguh jatuh cinta padanya, dan sejak saat aku merasakan cinta ini, bayangan masa laluku seperti memudar."


"Cinta itu anugerah, Elizabeth. Nggak ada yang salah dalam cinta, nggak ada yang berbeda dalam cinta. Cinta adalah cinta, urusannya hanya dengan jati, bukan yang lain."


...🦋...