
Ternyata hanya merasa berhasil move on tak menjadi jaminan bahwa seseorang benar-benar telah benar-benar move on. Hal itulah yang di rasakan oleh Eliza saat ini, ia sempat merasa telah berhasil move on dari cinta pertamanya. Namun, saat ia kembali di hadapkan pada cinta itu kembali, Eliza menyadari hati dan cintanya masih terpaut dengan begitu erat.
Saat ini mereka sedang berada di salah satu cafe langganan Christie, mereka minum kopi dan memesan beberapa cemilan. Sejauh ini Jibril dan Eliza masih belum berani untuk berbicara, keduanya seolah saling menunggu satu sama lain. Hal itu kembali di sadari oleh Christie, ia semakin yakin adik iparnya itu pasti naksir Jibril karena selama ini Eliza tak pernah canggung pada siapapun.
Berkat tragedi yang terjadi di masa kecil Eliza, hingga membuat ia menjadi pribadi yang tertutup dan pendiam, hal itu kini membawa perubahan yang signifikan dalam hidupnya. Eliza sering mengisi seminar untuk memberikan dukungan dan motivasi pada orang-orang yang mengalami hal sama dengannya. Eliza memiliki public speaking yang sangat baik apalagi kini ia telah terjun ke dunia bisnis.
Lalu, apa yang membuat Eliza tampak kaku dan canggung di depan Jibril, fikir Christie.
"Oh ya, gimana kalau kita pergi bersama ke London nanti?" saran Christie yang tampaknya ingin mendekatkan adik iparnya itu dengan Jibril.
"Aku akan lihat nanti," jawab Jibril ambigu.
"Terus kamu tinggal di hotel mana selama ini di Amerika? Gimana kalau kamu tinggal di apartement kita aja? Masih ada satu kamar kosong di apartement" ujar Christie yang langsung membuat Eliza meloto tajam padanya. Namun, Christie justru mengedipkan sebelah matanya pada sang adik ipar.
"Nggak usah, aku sudah booking hotel," jawab Jibril. Bersamaan dengan itu ponselnya berdering. "Permisi, ibuku telfon," ujarnya sembari beranjak dari kursi.
Jibril sedikit menjauh dari Eliza dan Christie untuk menjawab panggilan sang ibu, seperti biasa Umminya itu bertanya banyak hal pada Jibril dan Jibril dengan sangat sabar dan dengan begitu lembut menjawab pertanyaan sang ibu.
Christie yang mendengar itu begitu takjun untuk pada Jibril, selain Jibril pria yang baik, rupanya dia juga anak yang tampak sangat berbakti pada ibunya.
"El, gimana?" bisik Christie sembari menaikan ujung alisnya pada Eliza.
"Apa apanya?" tanya Eliza.
"Pria itu? Kayaknya dia cocok deh buat kamu, sesuai kriteria suami idaman kamu yang pernah kamu bilang ke aku," ujar Christie yang membuat Eliza meringis.
Tentu saja Jibril sangat cocok dengan kriteria yang pernah Eliza katakan pada Christie, karena kriteria bukan keinginan Eliza tapi Eliza hanya menyebutkan ciri-ciri Jibril itu sendiri pada sang kakak.
"Ck," Eliza berdecak kesal kemudian ia kembali menyeruput kopi susunya.
Eliza membuang napas kasar mendengar ocehan kakak iparnya itu, apalagi pria yang di maksud Christie kini sudah ada di depan mata mereka.
"Memangnya dia nggak punya istri?" tanya Eliza.
"Dia-" jawaban Christie terhenti saat Jibril kini kembali ke kursinya. Christie langsung melemparkan senyum manisnya pada Jibril, bahkan ia juga menendang kaki Eliza, memberi isyarat agar Eliza juga tersenyum manis karena sejak tadi Eliza mamasang wajah kaku. Namun, Eliza justru membuang muka.
"Aku rasa aku harus pergi dulu, dua jam lagi aku ada pertemuan dengan seseorang," ujar Jibril sembari mengeluarkan satu lembar uang bermata dollar untuk membayar kopinya. Namun, Christie mencegahnya.
"Katanya Eliza yang mau bayarin," ujar Christie yang membuat Jibril tercengang sementara Eliza melongo. "Katanya anggap saja sebagai salam perkenalan kalian," imbuh Christie. "Iya 'kan, El?" lagi-lagi Christie menendang kaki Eliza.
"I-iya," jawab Eliza.
"Kalau begitu biar aku yang bayarkan kopi kalian, anggap saja ini sebagai salam perkenalan dariku," balas Jibril di luar ekspektasi Christie yang membuat Christie terperangah dan kehilangan kata-kata, apalagi ketika Jibril mengambil uangnya kemudian pergi ke kasir untuk membayar secara langsung.
Eliza yang melihat raut wajah Christie hanya bisa terkekeh. "Kau fikir dia mau di bayarkan wanita, Chris?" Tanyanya.
"Kayaknya dia punya ego yang tinggi," ucap Chritie.
"Bukan, dia begitu karena menghormati kita," gimam Eliza dalam hati.
Setelah selesai membayar, Jibril kembali menemui mereka hanya untuk berpamitan, tak lupa Jibril juga berpamitan pada si kecil Ayesha.
Saat keluar dari cafe, Jibril langsung menghembuskan napasnya dengan kasar. Jika Jibril lebih lama lagi bersama Eliza, mungkin Eliza akan kembali menguasai hati dan fikirannya.
"Apa yang sudah selesai harus selesai. Nggak boleh di ulang lagi. Ngga boleh!" Tegas Jibril pada dirinya sendiri.