
"Oh, ini anakku yang berulang tahun sudah datang," seru Ummi Firda yang membuat Eliza hanya bisa menelan ludah dengan kasar.
Eliza semakin tampak salah tingkah apalagi saat Ummi Firda melirik gadis itu dengan tajam dari ekor matanya, Eliza langsung tertunduk dalam sambil meremas tali tasnya.
Malu, merasa bodoh, konyol, rasanya bercampur aduk dalam hati Eliza, andai ia punya sedikit kekuatan untuk mengulang waktu. Dia akan bersikap baik atau setidaknya tidak membuat ibunya Jibril ini kesal padanya, apalagi sampai mengaku pacar Jibril padahal sampai detik ini Jibril tak meresmikan hubungan mereka.
Andai Eliza bisa masuk ke lubang semut, tentu dia akan melakukannya.
"Kalian ..." Jibril tidak tahu harus berkata apa melihat kecanggungan antara Eliza dan ibunya, apalagi ia tidak tahu apa yang terjadi. Namun, sepertinya terjadi hal yang tidak baik.
"Kalian kenapa kesini nggak bilang sama aku? Aku bisa jemput," kata Jibril kemudian sembari mencium tangan kedua orang tuanya bergantian. Eliza memperhatikan hal itu, apalagi tatapan Jibril yang langsung berubah lembut pada ayah dan ibunya.
"Tadinya Ummi bersikeras mau ngasih kejutan, Jay. Tapi kamu ternyata nggak ada di hotel, udah gitu kuenya rusak lagi," gerutu Ummi Firda cemberut yang membuat Jibril langsung terkekeh. Ia merangkul ibunya itu dengan lembut.
"Hancur kenapa, Ummi?" hati Eliza terasa hangat mendengar pertanyaan Jibril yang terdengar lembut itu pada ibunya.
"Tuh, tanya pacar kamu!" Ummi Firda menekan kata pacar yang langsung membuat wajah Eliza pias. Habislah dirinya sekarang.
"Pacar?" Jibril bertanya bingung, ujung alisnya naik kemudian ia melirik Eliza yang kini hanya bisa cengengesan.
"Sebenarnya itu, Jibril. Emm ...." Eliza menggaruk tengkuknya, sementara Jibril justru tampak penasaran dengan jawaban Eliza, begitu juga dengan Aira dan Abi Gabriel.
Harus Abi Gabriel akui, dia menyukai karakter Eliza yang apa adanya. Berbicara tanpa takut merusak image-nya, mengeluarkan apa yang ada dalam fikiran dan hatinya tanpa berfikir apakah dia nanti akan malu atau tidak. Eliza mengingatkan Abi Gabriel pada masa muda istrinya yang juga berbicara tanpa berfikir, tanpa di saring.
"Aku nggak sengaja nabrak Mbak-nya, tapi aku bersedia ganti rugi kok, tanya aja sama Mas-nya kalau nggak percaya," tukas Eliza dalam satu tarikan napas yang membuat Jibril dan Aira melongo.
Bukan karena masalah kue yang rusak atau keinginan Eliza untuk ganti rugi, melainkan kata panggilan 'Mas-Mbak' yang membuat kakak beradik itu tercengang.
Ummi Firda kesal karena kuenya di rusak, tapi ia jauh lebih kesal karena sejak tadi Eliza memanggil dirinya mbak dan suaminya Mas.
"Mas? Mbak?" gumam Aira tak habis fikir.
Beda halnya dengan Ummi Firda yang kesal, Abi Gabriel justru terlihat menyukai panggilan itu, membuat Abi Gabriel merasa muda lagi. Bahkan ia tersenyum lebar sampai akhirnya Ummi Firda mencubit lengannya yang masih kekar itu.
"Ya sudah, Ummi, nggak apa-apa kok, kita bisa beli kue yang lain," hibur Jibril sambil mengulum senyum tapk tampaknya sang sang ibu masih di liputi rasa kesal.
"Neng Eliza?" Ummi Firda menggeram tertahan. "Kami ini orang tua Jibril, kamu memanggil kami Mbak dan Mas, hm?" Eliza semakin salah tingkah sementara Jibril hanya mengulum senyum. Ia sungguh tak menyangka pertemuan Eliza dan orang tuanya akan terjadi secepat ini padahal Jibril baru merenncakan hal itu.
"Maaf, P-Pak ... Buk," cicit Eliza kemudian.
"Ya udah lah, Sayang. Nggak apa-apa, bagus juga panggilan mbak mas," bisik Abi yang langsung membuat sang istri langsung melotot sempurna.
"Cucu kamu bertebaran dimana-mana masih mau di panggil mas? Nggak usah macam-macam deh, Bang!" gertaknya yang langsung membuat nyali Abi Gabriel menciut dan hal itu di sadari oleh Eliza. Entah kenapa ia melihat hal itu sebagai suatu keromantisan yang hakiki. Suami takut istri, Aira yang sudah sering melihat hal itu hanya bisa terkekeh begitu juga dengan Jibril.
Sementara Via dan Tanvir hanya bisa menyaksikan perdebatan orang dewasa ini dengan bingung, hingga akhirnya Tanvir bertanya, "Katanya ada kejutan ulang tahun Om Jibril, kuenya mana, Nek?"
"Nggak apa-apa, Ummi. Biar aku pesan yang baru," sambung Aira. "Soalnya anak-anak mau kue juga katanya."
"Ya udah deh, terserah kamu aja, Aira. Ummi capek," keluh Ummi Firda.
"Memang kuenya rusak kenapa, Nek?" tanya Via yang tiba-tiba jadi penasaran.
"Jatuh di tabrak teman wanitanya Jibril," sindir Ummi Firda yang langsung membuat Eliza kembali cengengesan sementara Jibril hanya tertawa kecil. Merasa gemas sendiri dengan Ummi Firda yang sejak tadi terus menggerutu, dan rasanya baru kali ini ibunya itu kesal sama orang sampai seperti ini.
"Ish, Tante ini memang selalu mengacaukan hidup Om Jibril," seru Tanvir kesal.
"Benar," sambung Via menguatkan argumen Tanvir.
"Bocah ..." tegur Eliza.
"Kamu juga keliatannya masih bocah," sanggah Ummi Firda.
"Udah-udah, kita masuk aja, ya? Nggak enak di liatin orang," ajak Aira kemudian. "Aku juga sudah pesan kue yang baru, lima belas menit lagi mungkin akan sampai." lanjutnya
Kini tatapan Ummi Firda tertuju pada baby Ali yang masih dalam gendongan Aira, seketika mata nenek itu langsung berbinar. "Oh, cucu nenek, kok tidur sih?" ia langsung mengambil alih bayi itu kemudian ia pergi ke ruangan khusus yang memang biasanya di tempati oleh keluarga mereka.
Eliza pun tentu juga ikut di ajak oleh Aira, tak lupa Eliza meminta maaf atas tragedi kue itu dan ia mengaku benar-benar tak sengaja. Namun, yang menarik perhatian Aira bukan hal itu melainkan panggilan yang Eliza sematkan pada orang tuanya.
"Kok bisa-bisanya kamu manggil mereka Mbak dan Mas? Mereka udah punya cucu 3 lho," kekeh Aira.
"Ya aku 'kan nggak tahu, Ai," lirih Eliza. Eliza pun kini kembali menyadari satu hal.
"Oh, ya. Kamu ngapain ke hotel?" tanya Aira. Ia sangat berharap jawaban Eliza bukan tentang Jibril. Namun, harapan tinggal harapan ketika Eliza memberikan jawaban yang sejujurnya.
"Aku ke sini kau ketemu Jibril," jawab Eliza dan ia pun kembali mengingat pertentangan teman-teman dan keluarganya perihal cinta yang ia rasakan.
Bertemu dengan keluarga Jibril membuat Eliza lagi-lagi seolah melupakan dunianya sendiri dan ia larut dalam dunia Jibril beserta keluarganya.
"Eliza, bisa nanti kita bicara?" tanya Aira kemudian dengan sangat serius.
"Jika ini tentang perasaanku dan Jibril, aku rasa nggak ada yang perlu di bicarakan, Aira," jawab Eliza lugas yang membuat Aira sedikit tercengang.
"Tapi ini penting, Eliza!"
"Apa menurutmu perasaanku dan Jibril nggak penting? Kami tahu apa yang ada di antara kami, Aira. Kami tidak sedang mencoba melampaui batasan kami, kami hanya memberikan sedikit kesempatan pada perasaan kami untuk bebas. Itu aja"
...🦋...