Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #35 - Melawan Restu?


Eliza mendapatkan peringatan keras dari seluruh keluarganya agar ia menjauhi Jibril, apalagi Darrel yang begitu menantang perasaan Eliza. Darrel tak mau mendengarkan penjelasan Eliza sedikitpun tentang perasaannya, bahwa ia sangat mencintai Jibril setulus hatinya.


Namun, Darrel justru mengancam adiknya itu akan di bawa kembali ke London. Tentu saja hal itu membuat Eliza tak berkutik. Walaupun begitu Eliza tetap pada keinginannya untuk mempertemukan Jibril dengan keluarganya dengan harapan masih ada sedikit harapan untuk cinta mereka. Berharap mereka juga mengenal betapa baiknya seorang Jibril yang sudah membuat ia jatuh cinta.


"Dia mau ngapain ketemu kita? Mau meminta restu? Jelas kami menolak!" seru Darrel dengan tegas yang membuat Eliza ingin menangis rasanya. Namum, ia masih menahan air matanya.


"Bukan begitu, Darrel. Biarin aja kami menjalani ini dulu," sanggah Eliza dengan begitu naifnya yang membuat Darrel tertawa mencibir.


"Biarin menjalani dulu kamu bilang? Terus setelah itu apa? Jangan naif, Elizabeth! Kita hidup harus berjalan di atas kepastian bukan menerka-nerka seperti ini dengan harapan yang semu," tandas Darrel penuh penekanan.


Eliza kini menatap ayah dan ibunya, berharap mendapatkan pembelaan dari mereka. Namun, jelas ia takkan mendapatkan pembelaan apapun. Bahkan sang ayah yang selama ini jarang bicara tiba-tiba mengucapkan sesuatu yang membuat Eliza terperangah. " Jauhi pria itu atau minggu depan kita semua kembali ke London!"


"Tapi, Dad ...." kedua mata Eliza sudah terasa panas dan berkaca-kaca, ia menatap ayahnya itu dengan sendu. Namun, Tuan Henry justru beranjak dari tempat duduknya dan kembali ke kamarnya.


"Mom ...." kini Eliza menghadap sang ibu. Namun, Nyonya Jill justru enggan menatap Eliza dan ia segera menyusul suaminya ke kamar. Seketika air mata Eliza tumpah tanpa bisa ia cegah, ia terduduk lesu di sofa.


Darrel yang melihat adiknya bersedih sebenarnya tidak tega, apalagi selama ini tak ada satupun permintaan atau keinginan Eliza yang tak pernah mereka penuhi karena mereka memang sangat mencintai Eliza. Namun, kali ini mereka harus tegas pada Eliza. Keinginan Eliza tentu melawan restu semesta.


"Fikirkan baik-baik, El!" seru Darrel sebelum akhirnya ia menyambar kunci mobilnya dan bergegas pergi entah kemana.


Kini tinggal Eliza sendirian di ruang keluarga itu, menangis dan bersedih tanpa ada yang mau tahu bagaimana perasaannya saat ini.


Eliza kembali ke kamarnya dengan wajah yang begitu lesu, ia pun mengirimkan pesan pada Jibril, memberi tahu bahwa keluarganya menolak untuk bertemu dengannya.


Tak berselang lama ia mendapatkan pesan dari pria itu yang membuat Eliza langsung tersenyum.


^^^Jibril Emerson ^^^


^^^"Tidak apa-apa, Eliza. Jangan bersedih, ya? Mungkin mereka hanya sedang shock, aku yakin nanti mereka mengerti." ^^^


Me


"Aku tahu, aku cuma takut karena mereka mengancam akan membawaku kembali ke London. Aku nggak mau pergi kesana, aku takut, aku punya kenangan buruk di sana."


^^^Jibril Emerson ^^^


^^^"Aku akan mencoba berbicara dengan orang tuamu nanti, okay? Jangan terlalu memikirkan masalah ini nanti kamu sakit." ^^^


Eliza tersenyum samar membaca pesan penuh perhatian dari sang pujaan, ia meletakkan ponselnya di dada kemudian ia memejamkan mata. Tak berselang lama ponselnya berdering. "Ruby," gumam Eliza, ia pun segera menjawab panggilan sahabatnya itu yang kembali mengajaknya pergi tentu bersama Shalwa juga seperti rencana awal mereka.


Awalnya Eliza bersikeras tak mau pergi. Namun, setelah menerima berbagai bujukan dari Ruby, akhirnya Eliza mau pergi bersama Shalwa. Lagi pula mungkin ini akan lebih baik demi hubungan mereka, benar kata Ruby, tak ada yang salah dalam hal ini apalagi ketika insan itu menerima semua takdir menerima dengan lapang dada.


Eliza pun meminta Ruby menjemputnya karena ia sedang malas menyetir apalagi dalam perasaan yang kacau begini.


...🦋...


"Iya," jawab Shalwa sambil menyunggingkan senyum seperti biasa. "Sebenarnya aku ... aku di jodohkan lagi," lirih Shalwa kemudian yang membuat Eliza dan Ruby terbelalak.


"Gila! Kenapa gitu?" pekik Eliza terkejut yang justru membuat Shalwa terkekeh.


"Entahlah," jawab Shalwa lesu.


"Kamu itu cantik, baik, pasti banyak kok cowok yang mau sama kamu tanpa perlu di jodohkan. Gimana kalau nanti calon suami kamu itu—"


"Kali ini aku di jodohkan sama orang yang memang mencintaiku," tukas Shalwa yang membuat Ruby dan Eliza kembali melongo. Shalwa pun bercerita tentang Farid pada kedua temannya itu. Tampaknya Ruby mendukung perjodohan itu tapi tidak dengan Eliza yang justru terlihat bingung untuk menanggapi curhatan sang sahabat.


"Itu bagus sih menurut aku, apalagi dia sudah jelas mencintai kamu, Shal," tukas Ruby.


"Tapi gimana kalau nanti mereka nggak bahagia? Seharusnya pernikahan itu kan saling mencintai, bukan di paksa apalagi cuma mencintai salah satunya," sanggah Eliza.


"Entahlah, aku juga bingung," sahut Eliza. "Kamu sendiri bagaimana, El?" tanya Shalwa kemudian yang langsung membuat raut wajah Eliza berubah.


"Aku nggak tahu," ujarnya sembari menyunggingkan senyum samar.


"Mereka saling mengungkapkan perasaan cintanya," ungkap Ruby dengan sinis tiba-tiba yang membuat Shalwa cukup terkejut.


"Terus emangnya itu salah?" sergah Eliza.


"Ya salah dong, El!" Balas Ruby. "Kalian berdua itu seperti langit dan bumi, seperti minyak dan air, cuma bisa berdampingan tanpa bisa menyatu sedangkan pernikahan itu harus menyatu," tukas Ruby penuh penekanan.


"Ruby benar, El," sambung Shalwa yang membuat Eliza semakin merasa terpojok. "Yang ada di antara kalian itu bukan tahta atau restu orang tua, tapi keyakinan yang berbeda. Jibril terlalu naif dengan mengikuti arus, aku harap kamu nggak naif seperti dia," pungkas Shalwa panjang lebar yang justru membuat Eliza kesal.


Ia pun segera beranjak dari kursinya dan berkata, "Kita kesini mau makan apa mau menghakimi perasaanku dan Jibril?" sinis Eliza kemudian ia bergegas pergi begitu saja. Di rumahnya ia mendapatkan tekanan, dari teman-temannya pun ia mendapatkan hal yang sama.


Ruby hendak mengejar Eliza tapi Shalwa mencegahnya ."Biarkan dia sendiri dulu, siapa tahu dengan begitu dia bisa berfikir lebih logis," ujar Shalwa.


"Tapi tadi dia datang sama aku, Shalwa. Dia nggak mungkin pergi sendiri apalagi naik taksi," tukas Ruby. Shalwa yang baru mengingat hal itu pun langsung bergegas menyusul Eliza begitu juga dengan Ruby.


Sementara di luar, Eliza menunggu taksi dengan perasaan cemas. Namun, ia memejamkan makan dan mengingat dengan apa yang di katakan Jibril.


"Tidak semua orang jahat, semua tergantung dari kamu sendiri."


Eliza membuka mata dan ia menghentikan sebuah taksi yang melintas. Dengan sedikit ragu, Eliza masuk ke dalam taksi. "Mau kemana, Non?" tanya sopir dengan ramah sambil tersenyum lembut.


"Ma-mau ... mau ke ..." Eliza harus pergi kemana? Ia malas pulang, ia juga sudah enggan bertemu dengan teman-temannya. "Hotel Emerson, Pak. Tolong antar saya kesana."


Elizabeth tak bisa memikirkan apapun saat ini kecuali Jibril Emerson.


...🦋...