Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #12 - Berdo'a


Eliza duduk merenung di jendela kamarnya sembari menatap jauh bintang yang bertebaran di langit mengelilingi rembulan. Fikirannya melayang membayangkan bisa ia jatuh cinta pada seseorang yang berbeda keyakinan dengannya?


Eliza tidak pernah memiliki pengalaman seperti ini sebelumnya, ia tak memiliki ikatan dengan orang luar kecuali Ruby yang merupakan sahabatnya dari kecil. Ia tidak punya pengalaman menjalin hubungan dengan orang lain, namun satu yang ia tahu, pasangan itu haruslah seiman.


"Ck, ah...." Eliza berdecak kesal, ia segera menutup jendelanya dan saat berbalik ia di kejutkan dengan kehadiran Darrell yang entah sejak kapan sudak berdiri di ambang pintu. "Darrell, bikin kaget aja," gerutu Eliza kemudian ia melompat ke atas ranjangnya.


"Aku udah lama lho berdiri di sini, El," jawab Darrell sembari menghampiri Eliza. "Ada apa? Tadi kaku terlihat girang saat ada pria yang mencari kamu, tapi sekarang kamu kenapa kamu murung?" Tanya Darrel penuh perhatian.


"Nggak apa-apa," gumam Eliza sebagai jawaban.


Darrell menelisik wajah Eliza, menatap mata adiknya yang tampan berbeda itu "Kamu ada hubungan apa sama Jibril Emerson itu?"


"Aku—"


"Aku harap kamu nggak menjalin hubungan yang serius dengan dia," potong Darrel yang seketika membuat Eliza menahan napas. "Kecuali pertemanan, jangan sampai jatuh cinta, okay? Karena kalian dari keyakinan yang berbeda, dan setiap agama mengajarkan umatnya untuk memilih pasangan yang seiman. Jadi, jangan coba-coba...."


Darrel memperingatkan dengan keras, karena ia bisa meraskan adiknya memiliki perasaan yang tak biasa pada pemuda itu, terlihat dari matanya dan reaksinya saat ia tahu Jibril mencarinya.


Sementara Eliza hanya mampu melemparkan senyum tipis kemudian berkata, "kami cuma kenal, Darrel. Hanya teman, karena dia orangnya asyik dan nyambung saat di ajak ngobrol. Dia juga pernah membantuku ketika aku kehabisan untuk saat belanja," jelas Eliza yang membuat Darrel bisa sedikit bernapas lega.


"Sudah malam, sebaiknya kamu tidur!" Eliza hanya mengangguk, Darrel mengecup pelipis Eliza, setelah itu ia memastikan seluruh jendela terkunci rapat kemudian ia meninggalkan Eliza di kamarnya dengan lampu merah yang masih menyala terang.


...🦋...


Kini jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi, seperti biasa Jibril bangun untuk melaksanakan ibadah di sepertiga malamnya. Jibril mengadukan isi hatinya dengan lirih pada sang pemilik hati, ia tahu bagaimana lagi menjaga dan mengendalikan hatinya.


"Aku hanyalah hamba-Mu yang lemah dan naif, Ya Allah. Jika Engkau menyerahkan sepenuhnya masalah hati ini padaku, aku takut justru aku condong pada nafsu. Hati ini milik-Mu dan hanya Engkau yang bisa menjaganya."


Sementara di sisi lain, Shalwa pun sedang melakukan hal yang sama. Ia bersyukur atas apapun yang terjadi dalam hidupnya karena di dalamnya pasti ada hikmah yang sangat besar, yang bisa ia ambil sebagai pelajaran.


"Jika dia memang bukan jodohku, berikan aku keikhlasan untuk menerima takdir-Mu. Jika adalah jodohku, mudahkan kedatangannya dalam hidupku."


Selain berdoa untuk dirinya sendiri, Shalwa juga berdua untuk sahabat barunya-Elizabeth. Ia berdoa agar sahabatnya itu keluar dari trauma masa lalu, menemukan orang yang pantas dan mampu memberikannya kebahagiaan dan ketenangan.


...🦋...


Saat pagi hari, Jibril bergegas ke kantornya untuk memulai pekerjaan yang di amanahkan padanya. Jibril di sambut dengan sangat antusias oleh para staf kantor dan itu membuat Jibril cukup senang. Namun, Jibril berbeda dari Micehak. Jibril bukan tipe orang yang ekspresif sehingga meskipun ia senang ia tak bisa tersenyum lebar, ia hanya mengulum senyum tipis.


Jibril juga di perkenalkan pada wanita berusia 45 tahun yang akan menjadi sekretarisnya yang bernama Erma, Jibril memanggilnya dengan sebutan Mbak Erma yang seketika membuat semua orang tertawa.


"Dia lebih dewasa dariku," ucap Jibril dengan suara beratnya.


Para karyawan yang melihat Jibril tak mampu menahan diri untuk tak terkesima pada putra kedua Gabriel Emerson itu, bahkan mulai bergosip tentang Jibril dan berandai-andai menjadi kekasih Jibril.


Saat jam makan siang, Erma menawarkan apakah Jibril ingin di pesankan makanan atau haruskah Erma mencarikan restaurant untuk Jibril. Jibril memilih makan di restaurant yang tak jauh dari kantor, dan ia ingin pergi sendiri.


Sesampainya di restaurant, Jibril melihat keributan kecil antara seorang gadis dan pelayan restaurant. Awalnya Jibril mengabaikan hal itu namun saat mendengar suara gadis itu, Jibril langsung menghampirinya.


"Ada masalah apa?" Tanya Jibril dengan suara basnya.


"Jibril ...." pekik Eliza saat melihat Jibril ada disana.


"Iya, Eliza. Masalah apa yang kamu buat sama pelayan ini?" tanya Jibril yang membuat Eliza melongo.


"Kok aku yang salah?" Eliza balik bertanya tak percaya.


"Biasanya kamu yang mulai, apa dompetmu ketinggalan?" tanya Jibril lagi yang membuat Eliza tampak kesal.


"Bukan ..." jawabnya. "Tapi lihat ini!" Eliza menunjukan piring berisi pasta.


"Apa yang salah dengan pastanya?" tanya Jibril masih dengan santai dan tenang.


"Pastanya dingin, aku nggak mau!" seru Eliza tajam.


"Pak, tadi pastanya masih hangat. Tapi karena Mbak ini ke toilet cukup lama, jadi pastanya sudah dingin dan mbak ini marah-marah. Pas saya mau panasin pastanya, Mbak ini nggak mau. Katanya mau pasta yang baru," papar sang pelayan.


"Kalau begitu siapkan satu lagi pasta yang hangat!" titah Jibril kemudian ia menarik lengan Eliza dan memaksa Eliza kembali duduk di kursinya.


"Tapi, Pak. Pasta yang ini harus tetap di bayar," ucap sang pelayan lagi.


"Saya yang akan makan pasta ini," jawab Jibril tenang.


"Jangan, pasta dingin itu nggak enak!" Cegah Eliza.


"Sekarang!" Perintah Jibril pada pelayan yang justru bengong memperhatikan tingkah Eliza.


Eliza cemberut, sementara Jibril memasang wajah datar bak papan. Saat ia hendak memakan pasta itu, Eliza kembali mencegahnya. "Makannya barengan!" Pinta Eliza. Tanpa membantah, Jibril meletakkan garpunya dan duduk diam layaknya patung sampai pasta Eliza yang masih panas datang.


"Nah, sekarang ayo kita makan bersama!" Seru Eliza sambil tersenyum sumringah.


Eliza pun memejamkan mata dan menggengam kedua tangannya untuk berdo'a sebelum makan, sementara Jibril menadahkan tangannya sambil mengucapkan doa sebelum makan juga.


......🦋......