Istikharah Cinta Jibril Emerson

Istikharah Cinta Jibril Emerson
Bab #58 - Bisakah bersatu?


"Elizabeth, kamu tahu apa yang dulu memisahkan kita? Dan sekarang alasan itu udah nggak ada, gimana kalau kita nikah aja?"


Eliza yang mendengar kata-kata Jibril itu hanya bisa terperangah, ia tak tersentuh sedikitpun apalagi merasa melayang ke angkasa layaknya seorang wanita yang di lamar oleh kekasihnya.


Lagi pula bagaimana mungkin dia akan tersentuh jika kata-kata yang di pilih Jibril saja sudah membuat batin Eliza memberontak. "Gimana kalau kita nikah saja?" Eliza mengulangi kata-kata Jibril, dan kata-kata itu tak bisa Eliza pastikan apakah itu pertanyaan, pernyataan atau ajakan.


Tapi, manusia mana yang bertanya 'gimana kalau kita nikah saja?'


Eliza menatap Jibril dengan bola mata yang melotot sempurna, sementara Jibril hanya menganggukan kepala sambil tersenyum.


"Semua laki-laki sama aja," desis Eliza kemudian sambil geleng-geleng kepala yang membuat Jibril langsung melongo.


"Kenapa? Kamu masih belum punya pasangan, kan? Kata Christie selama ini kamu masih sendiri," pungkas Jibril.


"Hanya karena aku belum menikah bukan berarti aku mau jadi istri kamu," ketus Eliza marah.


Jibril terdiam sejenak, keningnya mengernyit dan saat ia mengerti kenapa Eliza berkata demikian, Jibril justru terkekeh.


"Aku belum punya istri, Eliza. Aku juga belum punya pasangan apalagi anak," ungkap Jibril meyakinkan, tapi sayangnya Eliza justru tertawa sinis mendengar pengakuan Jibril yang ia nilai membual itu. Kini Eliza kembali berfikir bahwa Jibril telah banyak berubah, Jibril yang sekarang berbeda dengan Jibril yang dulu.


"Aku fikir kamu itu beda dari pria lain, aku fikir kamu itu laki-laki yang baik. Tapi nyatanya? Kamu sama saja seperti mereka," tandas Eliza dengan begitu sinis dan penuh kekecewaan.


"Aku nggak bohong, Eliza. Aku belum menikah," seru Jibril penuh penekanan. "Tadi aku itu cuma bercanda, beneran. Aku ngga mungkin bohong!" lanjutnya.


"Semua pria yang sudah menikah juga mengatakan hal yang seperti itu saat mau menikah lagi sama wanita lain," tukas Eliza. "Aku nggak nyangka ternyata kamu sama seperti pria yang seperti itu, Jibril. Padahal di mataku kamu itu pria terbaik yang pernah aku temui, aku bangga bisa jatuh cinta dan di cintai oleh kamu meskipun kita nggak bisa saling memiliki. Tapi melihat sikap kamu yang sekarang, aku benar-benar malu. Aku menyesal telah mencintai kamu sampai sekarang!"


Jibril hanya bisa termangu mendengar ucapan Eliza yang panjang lebar bahkan hampir tak bernapas itu, apalagi tatapan Eliza seperti seseorang yang sedang menghakimi sang penjahat.


Eliza benar-benar mempercayai bahwa ia sudah berkeluarga, padahal Jibril sudah tidak tahu lagi bagaimana cara menjelaskan bahwa ia belum berkeluarga. Namun, satu kalimat terakhir dari Eliza membuat Jibril seperti bunga layu yang kembali di siram serta mendapatkan cahaya matahari yang hangat, mekar kembali dengan begitu indah.


"Jadi sampai sekarang kamu masih mencintaiku? Sama dong, makanya aku ajak kamu nikah," kata Jibril yang langsung membuat Eliza meringis.


"Kamu ngajakin nikah atau ngajakin ngopi, huh?" desis Eliza yang semakin kesal. "Nggak deh, aku nggak mau jadi istri ke dua, sakit tahu!"


"Astagfirullah, Elizabeth. Aku bersumpah aku belum menikah!" seru Jibril dengan suara lantang hingga menarik perhatian beberapa penumpang, tak terkecuali Christie dan Ayesha. Kedua wanita itu terkejut sekaligus bingung melihat ketegangan antara Jibril dan Eliza.


"Sshht, kecilkan suaramu, Jibril!" tegur Eliza tajam.


"Ada apa?" tanya Christie, Jibril pun langsung menoleh pada Christie.


"Eliza salah faham sama aku jadi dia nolak lamaranku," ucap Jibril dengan sejujurnya yang membuat Christie terbelalak. Eliza pun hanya bisa meringis, entah kenapa Jibril harus mengatakan yang sejujurnya pada Christie. Christie yang mendengar jawaban Jibril itu terperangah dan pupil matanya melebar.


"Kamu melamar Eliza, Jibril?" pekik Christie tak percaya."Secepat itu? Kenapa kalian nggak mencoba saling mengenal dulu? Eliza itu memang sering nolak pria meskipun sudah kenal lama, apalagi yang baru di kenal."


"Kita udah saling kenal sejak lama," jawab Jibril yang membuat Christie semakin terkejut.


"Beneran, El? Sejak kapan?" pekik Christie lagi sambil menatap Eliza dengan mata yang melotot sempurna.


"Dia ..." Eliza melirik Jibril dengan sinis. "Dia pria yang aku ceritain itu."


Christie yang mendengar jawaban Eliza itu hanya bisa menahan napas, ia menatao Jibril dan Eliza secara bergantian kemudian bertanya, "Maksudnya kalian sudah saling kenapa selama ini?" tanya Christie. Jibril dan Eliza hanya mengangguk pelan. "Tapi kenapa kalian kayak saling nggak kenal?"


"Ak—"


"Kami masih canggung," jawab Jibril yang lagi-lagi mendahului Eliza, dan jawaban Jibril itu berhasil membuat Eliza hanya bisa memijat kepalanya. Eliza tidak tahu kenapa Jibril harus selalu berkata jujur, bahkan jawaban itu bisa saja di tertawakan oleh orang lain. Namun, ini lah Jibril yang ia kenal selama ini, bukan?


"Maksudnya?" tanya Christie lagi yang tiba-tiba merasa penasaran ada apa dengan hubungan Jibril dan Eliza.


"Ini urusan pribadi kita, nggak usah di ceritain!" seru Eliza memperingatkan pada Jibril. Namun, Jibril adalah Jibril yang akan mengatakan segala hal apa adanya.


...*******...


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 10 jam, kini pesawat sudah mendarat di Bandara Internasional London.


10 jam perjalanan yang seharusnya hanya menjadi perjalanan bisnis, kini justru menjadi perjalanan arti kehidupan yang sesungguhnya. Ketika Jibril mengetahui bahwa Eliza sudah seiman dengannya, tentu saja yang ada dalam benaknya adalah kembali mencintai dan di cintai seperti dulu.


Apalagi usia Jibril maupun usia Eliza sudah tak lagi muda, sehingga saat keduanya memiliki rasa pada seseorang maka yang bisa mereka lakukan adalah membangun komitmen pada hubungan yang seharusnya.


Mengingat keduanya memang masih saling mencintai, tentu saja menikah seharusnya menjadi keputusan yang akan membuat mereka bahagia. Namun, kenyataan tak seindah itu ketika Jibril satu gurauan Jibril justru membuatnya di tolak mentah-mentah oleh Eliza.


Walaupun begitu, Jibril tak ingin menyerah begitu saja kali ini karena tak ada alasan ia menyerah. Setelah mereka turun dari pesawat, Jibril langsung menghubungi kedua orang tuanya untuk memberi tahu mereka bahwa Jibril sudah mendarat dengan sempurna di tempat tujuan.


Tak hanya itu, Jibril juga menceritakan pada orang tuanya bahwa dia sudah menemukan seseorang yang dia cintai dan ingin di nikahi. Tentu saja pernyataan Jibril itu membuat kedua orang tuanya begitu terkejut.


"Tapi sayangnya dia masih ngira aku sudah menikah, Ummi. Bisa Ummi jelaskan padanya kalau aku belum menikah?" pinta Jibril sambil melirik Eliza yang berjalan di sampingnya.


Setelah semua penjelasan panjang lebar Jibril, Eliza masih tak mau percaya bahwa pria itu benar-benar masih lajang.


Jibril pun memberikan ponselnya pada Eliza, dengan ragu wanita itu menerima ponsel Jibril. "Assalamualaikum, Tante," sapa Eliza.


"Waalaikum salam, Jibril sudah cerita kalau dia menemukan wanita yang dia cintai dan ingin dia nikahi. Jika boleh tahu, namamu siapa?" tanya Ummi Firda dari seberang telfon.


Eliza melirik Jibril, dari pertanyaan ibunya Eliza tahu Jibril tak memberi tahu bahwa wanita yang di maksud adalah Elizabeth Whitney, wanita dari masa lalu yang sempat di minta agar di jauhi oleh Jibril.


"Eliza, Tante. Elizabeth Whitney,"