
Darrel hanya bisa termangu saat ia menyaksikan Eliza yang benar-benar tertidur nyenyak di sofa dengan tubuh yang sudah tertutup jas Jibril. Darrel memperhatikan wajah adiknya itu yang masih sedikit semab. "Apa dia nangis tadi?" tanya Darrel pada Jibril yang saat ini masih bekerja.
"Hem," jawab Jibril menggumam.
"Kenapa?" tanya Darrel dengan kening berkerut dalam.
"Dia takut pada karyawanku," jawab Jibril sejujurnya yang membuat Darrel melongo.
"Apa dia juga minum obat?" tanyanya lagi dengan nada suara yang terdengar panik dan kini Jibril yang terlihat bingung.
"Kenapa dia harus minum obat?" Jibril balik bertanya yang membuat Darrel berdecak kesal. Namun, Darrel enggan menjawab, ia justru memeriksa tas Eliza dan ternyata gadis itu tak membawa obatnya.
"Sejak kapan dia tidur?" tanya Darrel lagi yang seketika membuat Jibril terkekeh. Ia pun menutup laptopnya, setelah itu Jibril menghampiri Darrel yang masih berdiri memandangi Eliza. Tampaknya Darrel benar-benar tak percaya Eliza bisa tidur di tempat asing apalagi ada orang asing juga di ruangan itu.
"Ada apa dengannya, Darrel? Dia menjerit ketakutan dan mengatakan kalau mereka jahat dan akan melukainya, apa dia punya trauma pada orang? Dia juga bilang takut naik taksi karena takut di culik dan di bunuh, keponakanku saja tidak punya ketakutan seperti itu," papar Jibril panjang lebar.
Darrel hanya menatap Eliza tanpa berniat menjawab pertanyaan Jibril, ia tak ingin pria itu tahu kelemahan adiknya. "Aku akan membawa Eliza pulang," ujar Darrel kemudian. Ia pun mengangkat tubuh Eliza dengan hati-hati dan Jibril tak berniat mencegahnya. Namun, tiba-tiba Eliza menggeliat dan perlahan matanya pun terbuka.
"Darrel?" rengek Eliza dengan suara serak.
"Kita pulang, Elizabeth. Kenapa kamu tidur disini?" geram Darrel antara cemas dan kesal. Dia pun menurunkan Eliza dari gendongannya.
"Aku ngantuk," jawab Eliza sambil mengucek matanya yang memang benar-benar masih mengantuk.
Jibril hanya menatap nanar punggung Eliza yang kini menjauh darinya, Eliza pun menoleh dan melempar senyum yang sangat lembut pada Jibril hingga membuat hati Jibril bergetar. Apalagi tatapan Eliza begitu sendu, seolah ingin menyentuh relung hati Jibril.
Jantung Jibril berdetak lebih cepat, bahkan ia sampai memegang dadanya sambil menggumam, "Apa ini?" Jibril mulai bertanya-tanya, bolehkah jika ia mencoba memperjuangkan Eliza sekali saja? Terlepas dari keyakinan yang berbeda atau masalah restu keluarga yang nanti pasti akan ia hadapi, bolehkah sekali saja ia mencoba mengejar apa yang ada dalam hatinya? Cinta untuk Eliza.
Sementara itu, Eliza juga merasakan hal yang sama. Apa yang terjadi hari ini membuat Eliza semakin jatuh pada pesona Jibril yang lembut nan tegas. Bolehkah jika ia memperjuangkan cintanya terlepas bahwa sahabatnya juga mencintai pria itu dan juga bahwa keyakinan mereka berbeda?
Jibril kembali duduk di kursi kebesarannya, ia menyambar ponselnya kemudian mengirimkan pesan pada Eliza tanpa ragu.
Me
"Elizabeth, bisakah kita bertemu nanti malam? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
Hanya butuh waktu beberapa detik, Jibril pun mendapatkan balasan dari Eliza.
^^^Elizabeth ^^^
^^^"Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu, Jibril. Ayo kita bertemu dan berbicara" ^^^
...🦋...