
Eliza menangis sambil memohon pada pria yang merupakan kakak kelasnya itu agar ia di lepaskan. Namun, pria itu justru berseringai bak iblis yang membuat Eliza merinding ketakutan. Air mata mengalir begitu deras membasahi pipinya, rambut Eliza yang tadi sudah di kepang rapi kini sudah berantakan bahkan karet warna warni yang mengikat rambutnya sudah terlepas entah kemana.
"Please!"
"Leave me!
"Just leave me!"
Eliza berusaha berteriak di sisa tenaga yang ia punya. Namun, pria itu justru melempar Eliza pada seorang pria paruh baya yang merupakan sopir keluarga Eliza sendiri. Tangis Eliza semakin pecah, sopir yang selama ini sudah ia anggap keluarga sendiri ternyata begitu bejat dan jahat hingga ia ingin menodai dirinya yang masih berusia 12 tahun.
Eliza memohon dengan sangat pada pria yang ia panggil uncle itu agar ia di lepaskan, Eliza juga berjanji tidak akan memberi tahu siapapun tentang masalah ini. Namun, apa yang di lakukan sopirnya itu di luar dugaan. Ia merobek baju Eliza kemudian melempar Eliza pada kakak kelasnya yang juga masih berusia belasan tahun.
Eliza memberontak saat pria itu mencengkram pipinya dengan keras hingga Eliza merasakan tulang rahangnya seakan patah. "You just a little b*tch, Elizabeth," geram pria itu penuh amarah. Tatapannya menyiratkan amarah dan dendam yang seolah sudah ia pendam sejak lama.
Eliza menangis sejadi-jadinya, hari ini ia pasti mati. Hari ini hidupnya akan berakhir, ia hanya gadis kecil yang tak mungkin bisa melawan 3 orang pria yang jauh lebih besar dan lebih kuat darinya dan ia berada di sebuah gedung terbengkalai yang jauh dari jangkauan orang-orang.
Pria itu menampar Eliza hingga tubuh Eliza tersungkur dan ia mengeluarkan darah dari mulutnya, kepala Eliza terasa pening saking kerasnya tamparan itu.
Ketiga pria itu tertawa senang melihat Eliza yang tak berdaya, mereka tampak begitu puas. Namun, tiba-tiba Eliza melempar debu ke wajah mereka setelah itu Eliza berlari dan melompat dari gedung.
"AAHHHH...."
"Eliza...."
"No...!"
"Eliza...."
"No! Please!"
"Eliza, its okay. Itu hanya mimpi, Dear."
"Berikan obat penenang dengan dosis rendah!" perintah Dokter karena Eliza terus berteriak histeris bahkan memberontak dalam ketidak sadarannya, seolah ada seseorang yang datang menyakitinya.
"Dokter, apa yang yang terjadi? Kenapa Eliza berteriak?"
"Eliza hanya kembali memimpikan masa lalunya, Tuan Jibril." kening Jibril berkerut dalam mendengar jawaban Dokter yang cukup ambigu baginya.
"Maksudnya?" tanya Jibril. Namun, belum sempat Dokter itu menjawab, dr. Alma datang dan langsung ikut memeriksa keadaan Eliza.
"Bagaiamana keadaannya?" tanya dr. Alma yang terlihat sangat cemas.
"Seperti biasa, dia menjerit dan memberontak. Aku terpaksa memberinya obat penenang, mungkin setengah jam lagi dia akan sadar," jawabnya.
"Justru Eliza yang nabrak mobilku dari belakang," jawab Jibril tenang.
"Kamu kenal Eliza?" tanya dr. Alma lagi dan Jibril mengangguk pelan, dr. Alma langsung memperhatikan Jibril dari atas ke bawah. "Kamu Jibril?" tebaknya dan Jibril kembali mengangguk.
Seketika dr. Alma mengulum senyum karena ternyata benar apa yang di katakan Eliza, Jibril sangat tampan bahkan tatapan matanya seolah memiliki sihir yang pasti akan menyihir setiap wanita yang menatapnya.
"Ada apa dengan Eliza?" tanya Jibril kemudian, ia terlihat mencemaskan Eliza apalagi saat ia mengingat bagaimana ia menemukan Eliza tadi.
Jibril mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang seperti biasanya. Namun, tiba-tiba ada mobil yang menabraknya dari belakang dengan cukup keras. Saat Jibril memeriksa keadaan sang pengendara mobil, ia sangat terkejut karena orang itu adalah Eliza yang sudah tak sadarkan diri dengan luka di keningnya karena membentur setir. Tanpa fikir panjang Jibril langsung membawa Eliza ke rumah sakit agar Eliza segera di tangani.
"Dia hanya mimpi buruk," jawab dr. Alma yang merasa tak punya hak untuk membeberkan masa lalu Eliza tanpa izin Eliza sendiri.
"Benarkah?" gumam Jibril terlihat tak mempercayai apa kata dr. Alma.
"Iya," jawab dr. Alma singkat "Oh, ya. Kalau kamu pulang, silakan. Aku sudah menghubungi orang tua Eliza, mereka sedang dalam perjalanan," ujar dr. Alma.
Jibril tak menanggapi ucapannya, ia justru memperhatikan Eliza yang tampak pucat dan lemah, Jibril tidak tahu apa yang terjadi dengan Eliza. Namun, ia tahu Eliza tidak hanya sedang bermimpi buruk.
"Aku akan pergi saat keluarganya datang," ucap Jibril kemudian. dr. Alma mempersilakan dan ia pun pergi meninggalkan Jibril yang kini duduk di sisi Eliza.
Selama beberapa menit menunggu, Eliza kembali bergerak gelisah dalam tidurnya. Keningnya berkerut dan ia menggumam tidak jelas, tangannya meremas seprei, ia seperti menahan sakit.
"Eliza ...." Jibril memanggil Eliza dengan lembut. "Tidak apa-apa, itu hanya mimpi, Eliza. Hanya mimpi," ucapnya seolah ia ingin menenangkan Eliza.
Eliza masih bergerak gelisah, hingga Jibril mendekatkan bibirnya ke telinga Eliza dan kembali mengatakan apa yang di rasakan Eliza saat ini hanya mimpi. "Tenang, Eliza. Itu hanya mimpi, jangan takut," bisiknya dengan begitu lembut.
Tampaknya usaha Jibril berhasil, perlahan Eliza kembali tenang dan kerutan di keningnya pun menghilang. Jibril yang melihat hal itu menghela napas lega, kemudian Jibril melirik arlojinya, sudah hampir jam 2.
"Maaf, Eliza. Aku harus kembali bekerja, aku akan menjengukmu nanti," tukasnya sebelum ia pergi meninggalkan Eliza.
Saat Jibril berjalan di lorong rumah sakit, ia berpapasan dengan orang tua Eliza. Kedua orang tua Eliza menatap Jibril yang berjalan lurus tanpa menatap mereka ."Bukannya itu Jibril Emerson yang di cari Eliza itu?" gumam Nyonya Jill.
"Sepertinya begitu," jawab sang suami.
Mereka pun segera bergegas ke kamar Eliza dan bersamaan dengan itu Eliza pun sadar dari pingsannya. "Sayang, astaga! Kamu kenapa pagi?" Nyonya Jill langsung membelai rambut Eliza dengan lembut. Namun, Eliza justru celingukan ke sekitarnya, seolah ia mencari seseorang.
"Eliza, kamu nggak apa-apa kan, Sayang?" tanya daddy-nya dengan lembut.
"Dia nggak ada, tapi kenapa aku merasa dia ada disini? Apa aku cuma mimpi? Tapi dia memintaku tenang dan itu terasa sangat nyata.
...🦋...