
Pancasona bisa di artikan dengan lima unsur, jika tubuh masih terkena hembusan angin, terciprat air atau terkena tanah, pemilik ajian Pancasona tidak akan mati.
Aria di beri petunjuk, sebelum melakukan Tapabrata di bawah pengawasan Ki Lanang Jagad.
Raden harus melawan hawa nafsu selama 40 hari, duduk sambil menyatu dengan alam sekitar, lepaskan beban pikiran dan amalkan mantra Aji pancasona selama Tapabrata.
“Jika Raden susah untuk kosentrasi, coba raih satu titik yang Raden lihat,” ucap Resi Lanang jagad.
“Aku akan membantu Raden melebur kekuatan Naga langit yang belum bersatu, serta membangkitkan tenaga inti api yang ada di dalam tubuh Raden, karena berlatih ajian Rengkah gunung harus mempunyai tenaga dalam berhawa panas.
“Apapun yang Raden rasakan, Raden harus tetap kosentrasi.
“Silahkan, Raden! lanjut perkataan resi lanang jagad.
Aria duduk sila, kemudian memejamkan matanya, sementara Resi Lanang jagad duduk sila di belakang Aria.
“Setelah menarik napas dalam-dalam, Resi Lanang jagad memutar kedua tangan, sebelum meletakan kedua telapak di punggung Aria Pilong.
Setelah kedua telapak resi Lanang jagad berada di punggung, perlahan hawa hangat mengalir dan menyebar keseluruh tubuh Aria.
Hawa hangat seperti memijat mijat urat serta jalan darah Aria, tubuh yang letih kembali segar.
Hmm!
“Menurut resi Lanang jagad ia harus kosentrasi.
“Kalau memikirkan hawa hangat yang masuk, aku tidak bisa kosentrasi,” batin Aria.
Pikiran Aria mulai terpusat kembali.
Tetapi hawa hangat yang mengalir, perlahan mulai panas dan semakin lama semakin panas.
Aria kerutkan kening, setelah tubuhnya terasa panas di dalam, perlahan ia mulai menyalurkan tenaga dalam, berusaha melawan hawa panas.
Bagian dalam tubuh Aria terasa seperti sedang di bakar.
Kosentrasi aria langsung buyar, perlahan asap mulai keluar dari tubuh Aria, saking panasnya, keringat yang keluar langsung menguap menjadi asap tipis.
Aria terus menahan hawa yang semakin panas, kulit tubuhnya mulai berubah kemerahan.
“Kosentrasi….kosentrasi! Raih satu titik yang kau lihat….Aria cepat berpikir,” batin Aria teriak, memberi motivasi kepada otaknya untuk berpikir agar mencari makna dari perkataan resi Lanang Jagad.
Aria terus berpikir sambil merasakan panas, saat pejamkan mata dan semuanya gelap.
Aria hatinya bersorak, setelah teringat kembali saat ia buta dan berada dalam kegelapan, Aria selalu membayangkan titik putih yang ada di depannya.
“Jadi itu titik kosentrasi yang di maksud oleh Resi Lanang Jagad,” batin Aria Pilong.
Aria terus kosentrasi, pikirannya terpokus kepada satu titik di depannya, hawa panas serta pikiran lain ia kesampingkan.
Perlahan Hawa panas di dalam tubuh Aria berkurang, senyum terlihat di bibir Aria, setelah merasa hawa panas berkurang di dalam tubuhnya.
Sebenarnya bukan hawa panas yang berkurang, malah tenaga api yang masuk melalui tangan Resi Lanang jagad semakin banyak dan lebih panas.
Tetapi karena pikiran Aria sudah terpokus dan kosentrasi penuh, hawa yang sangat panas di dalam tubuh seperti tidak terasa.
“Rupanya Raden sudah bisa menemukan makna dari perkataanku,” batin Resi Lanang jagad sambil tersenyum.
“Kosong tapi berisi, tetapi isi, terkadang di dalamnya kosong,” Resi Lanang jagad berkata sambil tersenyum.
Aria perlahan anggukan kepala, mengerti apa yang di maksud oleh Resi Lanang jagad.
***
Latihan yang di lakukan Aria hanya duduk bersila sambil menghapalkan ajian Pancasona dan Aji Rengkah gunung.
Resi Lanang jagad seperti biasa, menyalurkan tenaga dalam dan membentuk tenaga dalam di tubuh Aria Pilong agar berhawa panas.
Aria dan resi Lanang jagad terus komunikasi dengan jalan kontak batin, memberi tahu langkah-langkah yang di lakukan setelah menguasai ilmu Rengkah gunung, sementara Aijian Pancasona hanya mengamalkan mantra Aji, tanpa melakukan langkah yang harus di tempuh seperti ajian Rengkah gunung.
Baju dan celana di tubuh Aria Pilong hancur karena hawa panas, sudah beberapa hari Aria duduk bertapa tanpa satu helai benang menutupi tubuhnya, tetapi Aria tidak sadar bahwa pakaiannya sudah berubah menjadi debu.
Badan Aria juga terlihat lebih kurus, setelah menjalani Tapabrata yang di perintahkan oleh Resi Lanang jagad.
“Raden! Hari ini adalah hari terakhir tirakat ajian Pancasona, sambil menguji tenaga dalam yang Raden hasilkan melalui Tapabrata, serta seberapa panas tenaga yang sudah di hasilkan.
“Apapun yang Raden rasakan, tahan! Cukup rapalkan Aji Pancasona,” ucap Resi Lanang Jagad.
“Baik, Silahkan Resi! Balas Aria.
Resi Lanang Jagad melakukan seperti biasa, tetapi Resi Lanang Jagad kali ini menyerang Aria, dengan kedua telapak tangannya yang menempel di punggung.
Hawa panas langsung mengalir deras dari telapak Resi Lanang Jagad, layaknya aliran lava yang baru saja keluar dari letusan gunung berapi.
Aria tersentak, rasa sakit dan panas yang membakar tubuh, membuat kosentrasi yang sudah ia lakukan selama ini buyar.
Tetapi Aria berusaha terus untuk duduk dan menahan rasa sakit dan panas yang ia rasakan, keringat mengucur deras lalu berubah menjadi asap.
Kulit di tubuh Aria perlahan mulai mengelupas kemudian berubah menjadi debu.
Kreeek!
Suara robekan daging di kulit punggung terdengar jelas, dari robekan daging di badan Aria menyembur api.
Kali ini Aria tidak bisa menahan lagi.
Mulutnya menjerit menahan sakit, tetapi Aria terus bertahan untuk duduk, ia tidak mau jatuh dan tersungkur.
Bibinya pecah, dari mulutnya menyembur darah, akibat luka dalam dan bibir yang di gigit oleh Aria untuk mengurangi rasa sakit yang ia derita.
Rasa sakit Aria mulai berkurang dan akhirnya, Aria tidak merasakan sakit lagi.
Melihat yang terjadi, Resi Lanang jagad menarik tangan kanan,
Telapak kiri menekan Punggung hingga patahan tulang punggung Aria terdengar keras.
Krak….Krak!
Setelah menghantam punggung Aria, telapak kanan Resi Lanang jagad di miringkan, kemudian menebas ke arah bahu Aria Pilong.
Crash!
Jeritan panjang terdengar dari mulut Aria, akibat tulang punggungnya hancur, serta lengan sebatas bahu putus terkena sabetan tangan Resi Lanang Jagad.
Senyum mengembang di bibir Resi Lanang jagad, setelah melihat punggung Aria yang melesak akibat dorongan telapak kiri, perlahan mulai berubah kembali seperti semula, lalu tangan yang tergeletak di lantai bergerak gerak, kemudian naik dan mulai menyatu dengan bahu.
Aria membuka mata, lalu berbalik sambil menatap wajah Resi Lanang Jagad, raut penyesalan terlihat di wajah Aria Pilong.
“Maafkan aku Resi! Tapabrata yang aku lakoni atas petunjuk resi gagal,” Aria berkata karena ia tidak bisa menahan rasa sakit, akibat hantaman Resi Lanang jagad.
“Raden tidak gagal! Menurutku, Raden sudah berhasil mengamalkan ajian Pancasona, sedangkan ilmu Rengkah gunung bisa di lakukan jika Raden bertempur melawan musuh, tetapi aku yakin ajian Rengkah gunung juga berhasil Raden kuasai,” balas Resi Lanang jagad sambil tersenyum.
Aria gelengkan kepala, tak percaya setelah mendengar perkataan Resi Lanang jagad, kemudian berkata.
“Aria baru menjalankan Tapabrata beberapa hari, sedangkan resi pernah berkata. Bahwa Aria harus melakukan Tapabrata kurang lebih 3 Purnama untuk menguasai kedua Ajian yang Resi ajarkan.”
Resi Lanang Jagad tersenyum, lalu membalas perkataan Aria.
“Raden sudah menjalani Tapabrata itu, dan 3 Purnama yang aku katakan juga sudah Raden laksanakan.”
Lanjut perkataan Resi Lanang Jagad.
“Itu karena Raden Tapabrata di alam ghaib, dimana waktu di sini lebih cepat berputar daripada di dunia manusia, menurut perasaan Raden baru beberapa hari Tapabrata, tetapi sesungguhnya jika berada di dunia manusia, Raden sudah menjalani Tapabrata selama kurang lebih 3 Purnama.”
Raut wajah Aria berubah mendengar perkataan Resi Lanang jagad.
“Jadi….jadi aku sudah 3 Purnama berada di sini? Tanya Aria dengan raut wajah tak percaya.
Resi Lanang Jagad tersenyum mendengar perkataan Aria, lalu anggukan kepala.
“Ajian Pancasona sudah bersatu, sedangkan Ajian Rengkah gunung, seperti yang sudah kita bicarakan, Raden cukup merapalkan mantra Aji, lalu hantamkan ke bumi, nanti Sukma Raden yang akan menghantam dengan ajian Rengkah gunung,” Resi Lanang jagad berkata.
“Terima kasih Resi! Seru Aria merasa terharu.
“Waktu pertemuan kita sudah berakhir, Raden! Aku akan melanjutkan Tapabrata untuk bersiap menemui penciptaku, ku titip kan tanah Jawa ini kepadamu.
“Jadilah pendekar yang bijak dalam melihat suatu masalah, tetapi jika kau yakin akan suatu kebenaran.
Raden jangan sungkan untuk bersikap keras.
“Aku terlalu lembek, sehingga mereka bebas semaunya membuat kekacauan tanpa berpikir dengan akibat yang akan terjadi.” Resi lanang jagad lanjut berkata sambil menarik napas panjang.
“Aku sudah mengambil tongkat Raden,” setelah memberikan tongkat ke tangan Aria, Resi Lanang Jagad lanjut berkata.
“Raden pergilah ke Bromo, Buto Ijo pasti ada di sana, hanya Raden yang bisa mengendalikan Buto Ijo, kekuatannya yang sekarang lebih mengerikan dari sebelumnya, karena aku telah memberikan ilmu tiban, Ajian Brajamusti kedalam tubuh Buto Ijo.
“Sudah banyak jatuh korban akibat kebrutalan Buto ijo setelah berpisah dengan Raden, cari Buto Ijo sampai dapat, kalau tidak! Akan lebih banyak korban orang tak bersalah yang tewas ditanganya.
“Baik Resi! Aku akan berusaha mencari Buto Ijo,” balas Aria.
“Selamat tinggal”
Resi Lanang Jagad berkata.
Aria merasa wajahnya seperti di usap.
Perlahan pandangan Aria kembali gelap
Tangan kiri Aria meraba raba, lalu meraup tanah, kemudian mencium tanah.
“Aku sudah berada di dunia manusia! Batin Aria.
“Nyi….Nyi Selasih apa bisa mendengar ku? Tak ada jawaban dari Nyi Selasih, karena kekuatan Nyi Selasih masih terkunci oleh kekuatan Resi Lanang jagad, sehingga tidak membalas panggilan Aria.
Aria yang kembali buta di dunia manusia, hidungnya mencium bau masakan.
“Dimana ini,” batin Aria, saat telinganya mendengar suara dari kejauhan dan mencium bau masakan.
Aria tidak tahu bahwa saat ini, ia berada di luar pagar Padepokan Bayugeni, yang terletak di sisi lain gunung Semeru tempat padepokan Jagawana, sehingga letak kedua padepokan berjauhan.
“Kenapa cuaca di sini dingin sekali,” batin Aria.
Telinga Aria mendengar suara langkah dan percakapan beberapa orang dan mulai mendekati, Aria lalu berdiri.
Tidak begitu jauh dan perlahan mulai mendekat, dua gadis yang di temani oleh 3 orang pemuda tengah melangkah sambil bercakap cakap.
“Maaf kisanak! Boleh aku Bertanya? Aria sambil memegang tongkatny bertanya, kepada kelima orang yang berada di hadapannya.
Kelima orang langsung berhenti bercakap-cakap mendengar ada suara di depannya, mata mereka langsung memandang ke arah Aria.
Dua orang gadis langsung menjerit sambil membalikkan tubuh, raut wajah mereka langsung berubah merah, karena baru kali ini mereka melihat hal yang tabu.
Sedangkan ketiga pria langsung mencabut pedang, kemudian berteriak kencang, melihat Aria Pilong berdiri telanjang bulat, setelah pakaiannya terbakar akibat hawa panas, ketika di latih oleh Resi Lanang Jagad.
“Orang gila”