Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 75 : Tawaran Jalan Bersama


Liong Ho terkejut melihat serangan pria bertubuh besar yang telah menewaskan salah seorang pengawal bayaran.


“Tunggu-tunggu dulu tuan, ini hanya salah paham saja! Ucap Liong Ho


“Salah paham kau bilang! Kau dengar tidak hina an anak buahmu? Tanya Wangsa.


“Tuan adalah orang asing, kenali pribumi dan hormati,” ucap Aria dengan nada dingin.


“Tahan, jangan serang! teriak Liong Ho dengan suara lantang karena mengerahkan tenaga dalam, kepada pengawal bayaran.


“Dia sudah membunuh kawan kami tuan,” ucap salah seorang pengawal dengan nada kesal.


Sebelum Liong Ho menjawab, Wangsa lebih dulu berkata.


“Kalian yang sudah menyinggung kami dengan kata-kata kalian, apa kalian pikir dengan jumlah banyak kalian bisa menang melawan kami, mimpi! Ucap Wangsa dengan nada sinis.


“Tuan Liong tolong mundur! Kami dari padepokan Gajahwungkur tidak akan mundur jika bertempur.”


Puluhan orang mulai mengepung rombongan Aria, satu orang berperawakan besar yang merupakan pemimpin mereka, menatap tajam ke arah Wangsa yang ia pikir pemimpin rombongan.


“Kau salah memilih musuh kisanak, kami adalah padepokan terbesar di Tumapel yang sedang mengawal tamu Tumenggung Wirayuda,” ucap orang yang menjadi pemimpin dari padepokan Gajahwungkur.


Ha Ha Ha


“Kau pikir dengan menyebut nama Tumenggung Wirayuda kami akan gentar? Sekalipun kau adik Mapanji Garasakan, jika kami tak suka, akan kami bunuh.” Wangsa berkata dengan nada dingin.


“Keparat! Teriak pria bertubuh besar.


Setelah memaki, tubuhnya melesat dan tinjunya menghantam ke arah Wangsa, tetapi sebelum mengenai Wangsa, tubuh sang resi sudah hilang dari hadapannya, ketika orang itu sadar, satu tendangan telah menghantam bokong pria itu.


Plak!


Tubuh pria besar langsung tersungkur.


Anak murid padepokan Gajahwungkur mulai mencabut senjata, tetapi sebelum mereka bergerak, Buto Ijo langsung menghantam musuh yang ada di dekatnya.


Aria juga tidak mau ketinggalan, tongkatnya mulai bermain di antara tubuh musuh, saat musuh mengurungnya.


Tongkat menangkis bacokan golok yang menuju ke arah pinggang.


Trang!


Setelah berhasil menangkis, tongkat Aria berputar dan balik menghantam golok yang tadi menyerangnya.


Trang!


Setelah golok terlepas dari gengaman, tongkat melesat menghantam kepala si penyerang.


Prak!


Anak murid padepokan Gajahwungkur langsung ambruk dan tewas seketika.


Andini serta Andira hanya berdiri menonton, mereka tahu puluhan para pengawal tidak akan lama lagi habis, oleh ketiga kakak mereka.


Suketi yang berada di bahu Buto Ijo tidak mau ketinggalan, orang yang dekat dengan calon suaminya akan ia hadiahi dengan cakaran, walau berwujud kera bertubuh kecil, tetapi dengan kekuatan siluman yang di miliki, tinju kecil Suketi bisa menewaskan musuh.


Mata Liong Ho tak berkedip, melihat pengawal bayarannya satu persatu tewas mengenaskan melawan 3 orang bercaping.


Saudagar Ming yang baru saja turun dari kereta kuda, langsung gemetar melihat pembantaian yang di lakukan oleh rombongan Aria.


Tak berselang lama anak murid padepokan Gajahwungkur tewas, satupun tidak ada yang tersisa, hanya Liong Ho dan anak buahnya kini tengah berdiri sambil menatap Wangsa.


Wangsa melihat 10 orang yang di pimpin oleh Liong Ho berdiri sambil menatap ke arahnya, kemudian berkata.


“Kau mau sekalian mati? Tanya Wangsa dengan Wajah kelam, tampak jari tangan Wangsa masih mengucur bekas darah anak murid perguruan Gajahwungkur.


“Tunggu….tunggu dulu tuan-tuan! Seru Liong Ho sambil angkat tangannya.


“Kami tidak ikut campur dengan urusan para pengawal bayaran, tuan tadi dengar sendiri, aku sudah menyuruh mereka untuk tidak menyerang tuan sekalian,” Liong Ho berkata.


Saudagar Ming datang menghampiri.


“Maaf tuan pendekar! Kami hanyalah pedagang dari negeri seberang, tidak ada maksud kami untuk mencari perselisihan,” saudagar Ming berkata, sambil memberi hormat.


“Tuan harus hati-hati jika memilih pengawal, karena tuan bisa terkawal atau terbunuh karena kecerobohan para pengawal tuan sendiri,” Aria berkata dengan nada dingin.


“Terima kasih atas nasehat tuan, untuk ke depannya kami akan lebih hati-hati dalam memilih pengawal,” ucap Saudagar Ming.


Lanjut perkataan saudagar Ming.


“Jadi kami sebenarnya tidak tahu apapun tentang mereka.”


Aku bermarga Ming dengan nama Tao Lim, saudagar Ming berkata sambil memberi hormat kepada Wangsa dengan cara adat dari negeri mereka.


“Aku Liong Ho, biasa di panggil Li Ho dan ini Adik ku Li Mei,” seorang gadis bercadar dengan pakaian ketat, memberi hormat. “kami berdua adalah pengawal pribadi saudagar Ming,” Li Ho berkata memperkenalkan diri.


“Leho? Tanya Wangsa sambil kerutkan keningnya.


“Li Ho tuan bukan Le Ho,” balas Li Ho.


Wangsa anggukan kepala, “sugan teh leho, matak asa aneh, piraku ngaran maneh leho ( ingus ) Wangsa berkata dalam hati.


“Tuan-tuan mau pergi kemana? Tanya Saudagar Ming.


“Kami akan ke Tumapel,” jawab Wangsa.


Bibir saudagar Ming tersenyum mendengar perkataan Wangsa.


“Kami juga akan ke Tumapel, bagaimana jika kita jalan bersama,” ucap saudagar Ming.


“Setelah kami sampai Tumapel, kau akan melaporkan kami kepada Tumenggung Wirayuda, bahwa kami yang telah membunuh semua orang-orangnya? Tanya Aria dengan nada dingin.


“Tidak….tidak! Tuan jangan salah sangka, kami akan menutupi kejadian ini, kami akan bilang bahwa tuan yang menolong kami dari perampok yang sudah membunuh semua pengawal yang diutus Tumenggung Wirayuda,” balas saudagar Ming.


Li Ho anggukan kepala mendengar perkataan saudagar Ming.


“Rombongan besar mereka, pasti akan menjadi incaran para perampok.


“Jika mendapat kawan se perjalanan dengan kelima pendekar, pasti mereka juga akan membantu saat rombongan saudagar di hadang perampok,” Li Ho berkata dalam hati dan memuji maksud tersembunyi dari saudagar Ming mengajak rombongan Aria jalan bersama ke Tumapel.


“Bagaimana? Tanya Wangsa sambil menatap ke arah Aria.


“Kalau mereka mau menutupi peristiwa yang terjadi terhadap anak murid padepokan Gajahwungkur, kenapa tidak! Karena kita juga nanti yang akan repot jika berada di Tumapel dan ber urusan dengan Tumenggung Wirayuda,” ucap Aria.


“Kami berjanji akan tutup mulut,” balas saudagar Ming, sambil tersenyum gembira karena niatnya berhasil.


Begitu pula dengan Aria yang tersenyum, karena di ajak bersama saudagar Ming,


Kalau mereka bersama satu rombongan dengan saudagar Ming yang akan bertemu dengan Tumenggung Wirayuda, bukankah itu semakin dekat dengan tujuannya pergi ke kota Tumapel, yakni membunuh Tumenggung Wirayuda yang selalu mengganggu, di daerah perbatasan antara kerajaan Kadiri dan Kahuripan.


“Wangsa coba kau tanya! Apa mereka punya makanan? Bisik Buto Ijo.


“Wangsa….Wangsa! Kau panggil aku kakak pertama,” ucap Wangsa.


Phuih!


“Aku anak tunggal! Tidak punya adik atau kakak.


“Lebih baik kau ber cermin jika ingin di panggil kakak, karena wajahmu tidak mirip denganku,” balas Buto Ijo.


“Bangsat! Sia nu beda jeung batur, kehed,” ucap Wangsa.


“Kau pikir aku sudi punya adik sepertimu? Coba kau lihat, adik ketiga agak putih, aku coklat, orang-orang asing ini lebih putih lagi, tetapi kau hijau,” lanjut perkataan Wangsa dengan nada geram.


Tak!


Kacang tanah melayang mengenai caping Wangsa yang di lempar oleh Suketi.


“Diam kau Suketi! Jangan ikut campur urusanku,” Wangsa berkata sambil menunjuk ke arah Suketi.


“Bangsat! Jangan tunjuk calon istriku,” ucap Buto Ijo sambil menghantam ke arah kepala Wangsa.


“Calon istri,” batin Li Ho sambil kerutkan kening dengan raut wajah bingung, mendengar perkataan Buto Ijo, bahwa kera kecil berbulu hitam itu adalah calon istrinya.


Andini dan Andira langsung menjauh, mereka sudah terbiasa melihat Buto Ijo dan Wangsa seperti ini.


Blar!


Keduanya mundur selangkah, setelah Wangsa menangkis hantaman Buto Ijo.


Saudagar Ming kerutkan keningnya dan menatap ke arah Li Ho, kemudian berkata dengan bahasa dari negeri mereka, yang tidak di mengerti oleh rombongan Aria.


“Menurutmu! Mereka waras, tidak?