Iblis Buta

Iblis Buta
Janji Pati Elang Yang Tersakiti


Elang jantan terus meratapi kematian sang istri.


Teringat oleh Elang jantan kenangan saat-saat ia hidup damai dan bahagia bersama sang istri, setelah terbuai oleh bujuk rayu penguasa Alas Purwo dan di beri pusaka Jarum emas yang bisa melumpuhkan pendekar ber ilmu dan mempunyai tenaga dalam tinggi, akhirnya sepasang Elang emas mau bekerja sama dengan penguasa Alas Purwo.


Tugas pertama mereka adalah pergi ke tempat pertemuan antar padepokan di gunung Bromo, untuk menjadi padepokan nomor satu.


Keyakinan mereka bertambah setelah berhasil membuat Resi Larang Tapa tewas, setelah mereka membokong Resi Larang tapa dengan jarum emas.


Tetapi kejadian yang tidak terduga terjadi, saat mereka menghadapi orang dari padepokan Jagad Buwana.


Elang jantan harus kehilangan Sang istri akibat terkaman Buto Ijo yang berubah wujud menjadi naga hijau, akibat rasa sakit hati Buto Ijo, karena calon istrinya terkena lemparan jarum emas untuk melindungi dirinya.


Suara jeritan melengking dari mulut Elang jantan terdengar sampai ratusan kaki, akibat kehilangan istrinya.


Tanpa menghiraukan orang yang ada di sekitarnya, setelah Elang jantan menaruh mayat sang istri di punggung Raja Elang.


Elang jantan menatap penuh dendam ke arah rombongan Orang dari padepokan Jagad Buwana.


“Janji pati ini aku ucapkan kepada kalian! Aku tidak akan melupakan hari ini sampai kapanpun, dan aku akan berusaha untuk menghapus nama Jagad Buwana dari tanah Jawa,” ucap Elang Jantan dengan raut wajah sangat kelam.


Phuih!


“Kalian yang berbuat curang, tetapi kau berkata, seolah kami yang menjadi penjahatnya,” balas Aria dengan nada dingin.


Setelah berkata, Aria melesat sambil tongkatnya menusuk ke arah dada elang jantan.


Elang jantan menangkis serangan Aria dengan pusaka jarum emas.


Trang!


Setelah menangkis, Elang jantan langsung mundur, kemudian tangan kiri menghantam ke arah Aria, serangkum angin menderu bersama puluhan jarum emas yang amat kecil bagai helaian rambut meluncur ke arah Aria.


Aria memutar tongkat, menangkis serangan Elang jantan, sebagian jarum emas rontok ke tanah, sisanya melesat ke belakang.


Resi Wangsanaya langsung melepaskan ajian benteng angin.


Blam!


Jarum emas yang tersisa langsung rontok ke tanah, setelah menghantam ajian benteng angin.


Setelah serangannya berhasil di tangkis, Elang jantan langsung melesat ke punggung Raja elang.


Elang Raksasa setelah majikannya duduk di punggung, sayapnya langsung terbuka saat kedua kakinya menghentak ke tanah, raja Elang bergerak naik.


Buto Ijo tengah diam seperti sedang menikmati darah Elang betina di mulutnya, saat matanya melirik ke arah Raja Elang yang mulai naik ke udara.


Buto Ijo bergerak, kepalanya menyambar ke arah Raja Elang yang mulai naik.


Whut….Crash!


Pekikan panjang terdengar dari paruh raja Elang, saat kaki kanannya putus di terkam oleh Buto Ijo.


Raja Elang sambil menahan sakit, akibat kaki kananya putus di terkam oleh Buto Ijo, lalu tubuhnya melesat membumbung tinggi ke udara.


Perlahan Raja Elang seperti sebuah titik yang semakin lama semakin hilang di balik awan.


Setelah musuh berhasil melarikan diri, Kalasrenggi serta Ki Sayuti ketua padepokan Gunung Gede menghampiri Aria.


“Ketua Aria! Ada yang harus kita bicarakan, aku undang ketua ke tempat kediaman ku,” ucap Kalasrenggi.


“Kalian pergi saja dulu, aku harus menenangkan Buto Ijo,” balas Aria.


Kalasrenggi anggukan kepala mendengar perkataan Aria, ia lalu mengajak Ki Sayuti pergi ketempat kediamannya.


Kini di Arena hanya tersisa rombongan Jagad Buwana yang tengah mengelilingi Buto Ijo yang masih berbentuk Naga hijau.


Aria tahu Buto Ijo masih berbentuk naga, kemudian bertanya melalui kontak batin kepada Nyi Selasih.


“Apa Buto Ijo akan terus seperti ini? Tanya Aria.


“Tidak, Raden! Jika emosi Buto Ijo sudah terkendali dan bisa menenangkan diri, Buto Ijo akan kembali ke bentuk semula,” jawab Nyi Selasih.


Aria yang sedang kontak batin dengan Nyi Selasih, anak buahnya melihat sang ketua seperti sedang melamun, kemudian bertanya.


“Ketua….ketua! Apa kita harus menggotong Buto Ijo? Tanya Singabarong.


Wangsa kerutkan keningnya mendengar perkataan Singabarong.


“Gotong! Kalau dia berbentuk kerbau masih bisa kita gotong, apa kau tidak lihat? Arena sebesar ini saja bisa tidak cukup, jika tubuhnya tidak melingkar, lalu mau berapa ratus orang yang menggotongnya.


Kepala Naga perwujudan Buto ijo, langsung menoleh ke arah Wangsa, setelah mendengar perkataan sang resi.


Setelah kepalanya berhadapan dengan sang resi, Buto ijo lalu mendengus.


Angin besar dan air lendir yang keluar dari hidung naga langsung membasahi kepala dan sebagian tubuh Wangsa.


“Bangsat….keparat kau! Berbentuk apa saja selalu bikin kesal aku,” ucap Wangsanaya, sambil mengelap mukanya yang penuh lendir dari hidung Buto Ijo.


“Kalian tenangkan emosi Buto Ijo, jika Buto ijo tenang, dia akan kembali seperti semula,” Aria ikut bicara.


Singabarong, Wangsa, Selamet serta Raden untung saling pandang mendengar perkataan Aria.


“Bagaimana cara menenangkan Buto Ijo? Dia berbentuk manusia normal dan bisa bicara saja susah untuk tenang, apalagi berbentuk seperti ini, apa kau tidak lihat tubuhku ini penuh lendir gara-gara dia? Ucap Wangsa dengan nada kesal, karena tubuhnya penuh dengan lendir.


“Aku buta, mana bisa melihat,” Aria membalas perkataan Wangsa.


“Dekatkan Suketi,” Nyi Selasih berkata kepada Aria.


“Suketi….bagaimana dengan keadaan Suketi? Tanya Aria.


“Suketi bersamaku ketua,” jawab Nyai Kidung kencana.


“Dekatkan Suketi kepada Buto Ijo,” balas Aria.


Nyai Kidung kencana membawa Suketi dan menaruh kera kecil yang kedua tangan tengah mendekap dada.


Kepala naga jelmaan Buto Ijo, lalu mendekati Suketi, kedua matanya berkedip dan sedih menatap ke arah Suketi.


Setelah asap menutup dan perlahan memudar, tampak Buto Ijo tengah jongkok di samping Suketi.


“Suketi….Suketi! Kenapa kau melindungi aku? Tanya Buto Ijo dengan suara lirih sambil matanya terpejam, tak kuat menahan kesedihan.


“Agar Kakang Buto menang melawan Elang Jantan,” suara lirih terdengar dari depan Buto Ijo.


Raksasa berkulit hijau membuka mata, lalu menatap Suketi yang masih terpejam, lalu berpaling ke sekeliling.


“Siapa yang tadi bicara? Tanya Buto Ijo.


Wangsa kerutkan kening mendengar perkataan Buto Ijo karena tak mengerti, kemudian bertanya.


“Apa maksudmu?


“Tadi siapa yang bicara? Kembali Buto Ijo bertanya.


Wangsa langsung menempelkan telapaknya ke kening Buto Ijo, “masih panas! Seru Wangsa.


“Coba kau pegang! Lanjut perkataan Wangsa.


Singabarong menuruti Wangsa, lalu tangannya memegang kening Buto Ijo.


“Benar! Memang panas,” ucap Singabarong.


Plak!


“Bangsat! Apa-apaan kalian? Tanya Buto Ijo.


“Kepalamu masih panas dan kau tak usah banyak pikiran, istirahat saja dulu! Seru Wangsa.


“Diam kau! Resi palsu, aku tidak sakit dan masih sanggup untuk menghajar mu,” ucap Buto Ijo dengan nada kesal.


“Suketi yang berkata padamu,” kali ini Aria yang bicara.


Mendengar perkataan Aria, Buto Ijo langsung berbalik ke arah Suketi.


“Benar kau yang bicara, Suketi? Tanya Buto Ijo.


Kera kecil berbulu hitam membuka mata, bibir kera tampak mencibir ke arah Buto Ijo, lalu berkata.


“Memangnya ada yang memanggil dengan sebutan kakang, kepada kakang Buto Ijo selain aku? Tanya Suketi, dengan raut wajah cemberut.


“Jadi….jadi kau masih hidup Suketi? Tanya Buto Ijo.


“Kau tidak terkena jarum emas, milik si kampret itu? Lanjut perkataan Buto Ijo, sebelum Suketi menjawab.


Raut wajah Buto ijo terlihat gembira ketika berkata.


“Elang, Jo! Kalau kampret, Si Lowo Ireng,” Wangsa ikut bicara.


“Diam kau, Resi palsu! Aku tak bicara denganmu,” balas Buto ijo sambil melotot.


Phuih!


“Bangsat! Di beritahu malah tidak terima,” balas Wangsa dengan nada kesal.


Suketi membuka kedua kepalan tangan yang menutupi dadanya.


Setelah membuka kedua kepalan tangannya yang tengah menutupi sesuatu, tampak di dada Suketi ada kacang tanah yang masih berkulit dan di tengah kacang tanah tersebut, menancap sebatang jarum emas milik Elang betina.


Ketika Elang betina melemparkan jarum emas ke kepala Buto Ijo, Suketi langsung lompat untuk menghalangi, lalu kacang tanah yang selalu menjadi cemilannya, Suketi jadikan tameng, Jarum melesat terlihat seperti mengenai dada, tetapi yang sebenarnya menancap di kacang tanah yang sudah Suketi siapkan.


Suketi langsung mendekap kacang tanah dengan kedua tangannya, se akan terlihat dadanya yang terkena serangan jarum, kemudian pura-pura tewas, untuk menghindari serangan lanjutan Elang jantan atau betina, karena Suketi tahu, bahwa titik lemah Buto ijo adalah dirinya.


Hmm!


“Pantas sewaktu aku bawa, tubuhnya hangat seperti tidak terluka terkena senjata rahasia, ternyata hanya pura-pura,” batin Wangsa, melihat jarum emas yang menancap di cemilan Suketi.


Buto ijo langsung meraih Suketi, kedalam pelukannya, tanpa sadar Buto ijo langsung menari nari sambil memeluk Suketi, sambil berkata dengan nada kencang.


“Suketi masih hidup….Suketi masih hidup,” ucap Buto ijo dengan nada gembira.


“Dasar gila! Ucap Wangsa melihat tingkah Buto Ijo.


Raden untung yang perawakannya besar dan berkumis tebal, melihat Buto ijo tampak sangat senang sambil memeluk Suketi, kerutkan keningnya lalu berkata kepada Singabarong.


“Tak kusangka Buto Ijo yang terkenal dan di takuti, ternyata seorang penyayang binatang.”


Singabarong kerutkan keningnya mendengar perkataan Raden untung.


“Apa maksudmu? Tanya Singabarong sambil menatap Raden untung.


“Apa tetua tidak lihat? Buto Ijo sangat senang melihat peliharaannya, Suketi masih hidup,” jawab Raden Untung.


“Itu bukan peliharaan, tetapi calon istrinya,” bisik Singabarong sambil melangkah pergi.


“Calon istri! Ucap Raden untung sambil menoleh ke arah Selamet, karena Singabarong pergi.


“Met! Coba kau bayangkan, kalau mereka menikah.


“Buto Ijo seperti aku,” ucap Raden untung sambil menunjuk dirinya yang bertubuh sedikit lebih kecil dari Buto Ijo.


“Sedangkan Suketi sebesar ini,” lanjut perkataan Raden untung, sambil angkat jempolnya, menggambarkan tubuh Suketi.


“Seperti apa caranya kalau mau melakukan ini? Raden untung lalu mengabarkan dengan tangan, seperti pasangan yang sedang ber setubuh, kepada Selamet.


“Kau mau tahu caranya? Tanya Selamet.


Raden untung langsung anggukan kepala.


Jari Selamet menunjuk ke arah Buto Ijo yang tengah menari, sambil memeluk Suketi, kemudian berkata.


“Kau tanyakan dia.”