Iblis Buta

Iblis Buta
114 : Tewasnya Panglima Hitam


Resi Larang tapa dengan Kalasrenggi tadinya ada perjanjian kerjasama, resi Larang tapa butuh Kalasrenggi, begitupula sebaliknya.


Tetapi kerjasama mereka selalu terjegal soal siapa yang bakal memimpin, Resi Larang tapa dan Kalasrenggi sama kuat dan merasa berhak menjadi pemimpin.


Resi Larang tapa mengancam Kalasrenggi, jika masih bersikeras, Resi Larang tapa dan Panglima hitam akan menghabisi Kalasrenggi.


Kalasrenggi tidak takut dengan ancaman Resi Larang tapa.


Kalasrenggi mengutus Kalabenda menghubungi padepokan Jagad Buwana, karena ia tahu hanya padepokan Jagad Buwana yang bisa membantunya, tetapi apa ketua Jagad Buwana punya kemampuan? itu yang menjadi pertanyaan besar Kalasrenggi.


Padepokan gunung Gede walau besar, tetapi mereka tak mau ikut campur urusan, hanya padepokan Elang emas yang menjadi ganjalan Kalasrenggi selain resi Larang tapa.


Setelah menyelamatkan Kalabenda dan menghancurkan tangan Aria, baru Kalasrenggi sadar, bahwa sebenarnya musuh yang paling susah dihadapi adalah Aria Pilong, ketua padepokan Jagad Buwana.


Resi Larang tapa kerutkan kening, melihat jari Kalasrenggi yang menunjuk ke belakang.


Sepasang Elang emas sampai berdiri dari kursi mereka melihat Aria berdiri di belakang Resi Larang tapa, sedangkan panglima hitam mundur, kali ini mata panglima hitam terlihat jeri saat menatap Aria.


Aria membanting caping yang tali pengikatnya putus, saat terkena tebasan resi Larang tapa.


Brak!


Rambut hitam Aria berkibar, matanya yang berwarna kuning ke emasan tampak seperti bersinar.


Aria berdiri tegak sambil tangannya memegang tongkat.


Resi Larang tapa langsung berpaling setelah mendengar suara caping Aria yang di banting ke lantai.


Raut wajahnya pucat melihat Aria berdiri tegak sambil menatapnya.


Resi Larang tapa langsung melesat dan berdiri di samping panglima hitam.


“Panglima hitam! Apa benar yang aku lihat? Tanya resi Larang tapa.


“Benar Resi! Iblis buta sudah menguasai ajian Pancasona.


“Sampai saat ini belum ada yang tahu kelemahan ilmu legenda ciptaan Resi Subali,” jawab Panglima hitam.


“Urusan kita bakal berantakan jika begini caranya, aku yakin kakang Lanang jagad yang sudah menurunkan ajian Pancasona.


Entah ajian apalagi yang sudah di turunkan kakang Lanang Jagad kepada iblis buta,” Resi Larang tapa berkata kepada panglima hitam.


Tanpa mereka sadari, Aria dengan ajian Rogo Demit sudah berada di depan Resi Larang tapa dan panglima hitam.


Tongkat Aria menusuk dada resi Larang tapa, sedangkan tangan kiri menghantam ke arah kepala panglima hitam yang berwujud Macan.


Resi Larang tapa terkejut, tubuhnya seperti lenyap, sinar putih tampak mundur menjauh.


Sedangkan Panglima hitam terlambat menghindar, kepalanya terkena hantaman tangan kiri Aria.


Plak!


Macan hitam jelmaan sampai terpelanting terkena tamparan Aria.


Raungan terdengar dari mulut panglima hitam, kepala di goyang ke kiri dan ke kanan, berusaha menghilangkan rasa sakit di kepala, akibat terkena hantaman.


“Rogo Demit,” batin Resi Larang tapa, keringat dingin perlahan mulai tampak di wajah Resi Larang tapa.


Soal kecepatan, Resi Larang tapa tidak ada yang menandingi, tetapi ajian rogo Demit bukan lah cepat, melainkan menghilang, dan itu lebih menakutkan dari kecepatan, yang masih bisa terlihat. Karena menghilang tidak bisa di lihat dan di tebak kemana ia akan pergi.


“Rupanya Nyi Selasih sudah menurunkan ajian Rogo Demit kepada si buta,” batin Resi Larang tapa.


Dahulu Ki Loreng geni ingin memper istri Nyi selasih di bantu oleh Resi Larang Tapa, salah satu alasannya adalah ajian Rogo Demit.


Mendengar suara raungan panglima hitam, raut wajah resi Larang tapa pucat, lalu melesat ke arah Panglima hitam, tangannya lalu menghantam ke arah tongkat Aria Pilong yang hendak menusuk perut panglima hitam.


Plak!


Tusukan tongkat Aria melenceng, tetapi masih menyerempet paha kaki belakang panglima hitam.


Sret!


“Jangan bersuara! Bisik resi Larang tapa kepada sahabatnya.


Hmm!


“Benar-benar musuh yang susah di hadapi,” batin Kalasrenggi.


Panglima hitam mengerti perkataan resi Larang tapa, ia berusaha menahan sakit tanpa bersuara, akibat pahanya yang terserempet ujung tongkat Aria Pilong yang telah di aliri ajian Cakra candhikalla.


“Kau sibukan dia! Selagi ada kesempatan, aku yang akan mencincang tubuhnya,” ucap Resi Larang tapa.


Panglima hitam anggukan kepala, mengerti dengan maksud sang Resi.


Panglima hitam menerkam, mulutnya terbuka memperlihatkan taring panjang, siap menggigit kepala, sedangkan kedua kaki depan menerkam bahu Aria.


Aria mundur sambil memutar tongkat, untuk berjaga jaga dari serangan susulan panglima hitam, Resi Larang tapa melihat kesempatan baik, melesat ke arah belakang, tangannya Laksana kilat menebas ke arah pinggang Aria


Sret!


Resi Larang tapa terkejut tangannya menghantam angin, karena Aria sudah menghilang.


Resi Larang tapa matanya menatap ke arah sekeliling, untuk mencari dimana Aria akan munculkan diri.


Melihat Aria agak jauh di depannya, Resi Larang tapa saat hendak bergerak memburu, raut wajahnya sangat terkejut melihat bayangan putih melesat dengan cepat ke arahnya.


Aria Pilong setelah berpindah tempat, kemudian menggebrak bumi menggunakan ajian Rengkah gunung, sesaat setelah resi Larang tapa melihat dirinya, sehingga sang resi terlebih dahulu di serang oleh Sukma Aria Pilong.


Resi Larang tapa lompat ke samping kanan, bayangan Sukma Aria tidak memburu resi Larang tapa, tetapi langsung menghantam ke arah Panglima hitam.


“Awas!? Teriak Resi Larang tapa memperingatkan sahabatnya untuk menghindar.


Panglima hitam melihat bayangan putih menghantam ke arah kepala, kemudian lompat menghindar, tapi terlambat, kepala masih bisa terhindar, tetapi perut panglima hitam sebagian ganti yang terkena ajian Rengkah gunung.


Blam!


Raungan panjang terdengar dari mulut panglima hitam saat tubuhnya terlempar, perutnya bolong terkena hantaman ajian Rengkah gunung, asap mengepul berwarna hitam dari luka panglima hitam.


Panglima hitam berusaha berdiri, tetapi tubuhnya ambruk kembali, karena tak kuat menahan sakit.


Brak!


Suara jatuhnya tubuh panglima hitam sudah cukup bagi Aria mengetahui di mana letak, si penjaga tengah


Aria menghilang dengan ajian Rogo Demit, setelah muncul dan berada di sisi kepala panglima hitam.


Aria mengangkat tongkatnya yang di selimuti warna lembayung senja, ujung tongkat yang sudah di aliri oleh ajian Cakra candhikala menghunjam ke arah kepala panglima hitam.


Crep!


Darah berwarna hitam muncrat dari kepala sang panglima, kemudian berubah menjadi asap berwarna hitam.


Perlahan tubuh panglima hitam berubah menjadi berwarna merah membara, setelah itu menghitam lalu berubah menjadi serpihan kecil yang perlahan lenyap tertiup angin.


Suara gemuruh sorak sorai langsung terdengar dari tenda Jagad Buwana, setelah melihat Aria berhasil menewaskan panglima hitam.


Begitupula mereka yang tidak suka kepada Resi Larang tapa, mereka ikut bersorak mendukung Jagad Buwana.


Resi Larang tapa setelah melihat ajian Rengkah gunung yang di keluarkan oleh Aria berhasil membunuh panglima hitam, nyalinya langsung lumer, matanya liar menatap ke arah sekeliling berusaha mencari waktu dan momen yang tepat untuk melarikan diri.


Di tenda kuning, sepasang mata tajam terus menatap tajam ke arah Aria Pilong.


Sepasang Emas saling tatap.


Elang jantan anggukan kepala setelah mendengar perkataan pasangannya.


“Hanya Bocah itu yang pantas melawan kita.”