
Setelah Aria pergi, tak lama berselang, datang se ekor kera kecil berbulu hitam, mendekat ke arah Buto Ijo.
Nguk….nguk….nguk!
Buto Ijo menoleh setelah mendengar suara kera di sampingnya.
Buto Ijo mengambil pisang lalu membuka kulit pisang, kemudian memakan setengah isi pisang, sisanya lalu di berikan kepada kera itu.
Kera itu gelengkan kepalanya melihat pisang di tangan Buto Ijo.
“Kau tidak mau? Tanya Buto Ijo.
Kera itu anggukan kepala, lalu tangan kecil kera itu menarik narik tangan Buto Ijo.
Plak!
Buto Ijo menepis tangan kera yang menariknya.
“Mau apa kau? Tanya Buto Ijo.
Kera berbulu hitam seperti mengerti ucapan Buto Ijo, lalu menunjuk ke arah dendeng ( daging yang sudah di keringkan )
Phuih!
“Kalau ku berikan padamu, nanti apa yang aku makan? Tanya Buto Ijo.
Kera kecil itu mendengar perkataan Buto Ijo, lalu menunjuk tangan Buto Ijo yang memegang pisang.
“Kau minta daging, lalu menyuruh aku makan pisang? Tanya Buto Ijo, nada suaranya mulai meninggi tanda hatinya mulai kesal.
Kera kecil itu anggukan kepala mendengar ucapan Buto Ijo.
“Baik! Jika itu maumu,” ucap Buto Ijo.
Buto Ijo menyeringai, kemudian memakan sisa pisang yang ada di tangannya.
Melihat kera itu seperti tertawa ketika Buto Ijo tengah memakan pisang.
Buto Ijo lalu melempar kulit pisang ke wajah kera itu.
Plak!
“Pergi kau! Seru Buto Ijo dengan nada gusar.
Kera kecil langsung terpelanting, setelah wajahnya terkena lemparan kulit pisang.
“Jangan turun tangan sembarangan! Seru Wangsa, melihat Buto Ijo melempar kulit pisang ke wajah kera.
“Diam kau! Dia meminta daging, sementara aku di suruh makan pisang, dia atau aku yang jadi kera? Tanya Buto Ijo sambil melotot ke arah Wangsa.
“Mungkin dia pikir, kau ini bapaknya,” jawab Wangsa.
“Bangsat! Ucap Buto Ijo sambil melayangkan tinjunya ke arah kepala Wangsa.
Plak!
Wangsa menangkis hantaman Buto Ijo, keduanya lalu mundur, Andini dan Andira langsung merapat, keduanya sangat takut melihat Buto Ijo dan Wangsa bertengkar.
Kera kecil berbulu hitam, melihat Wangsa dan Buto Ijo baku hantam, melempari Wangsa dengan batu kerikil yang banyak terdapat di pinggir kali.
Tak….tuk….tak!
Suara lemparan batu mengenai tubuh Wangsa terdengar, Wangsa terkejut sambil melotot ke arah kera itu.
“Dasar monyet! Aku sudah membantumu, kau malah melempari aku,” ucap Wangsa dengan nada kesal.
Wangsa langsung melesat ke arah kera, cakarnya menyambar ke arah kepala kera.
Buto Ijo melihat Wangsa marah dan hendak menghantam kera, tubuhnya melesat, kemudian dari belakang kakinya mengait kaki Wangsa yang tengah berlari.
Wangsa lompat, kemudian berbalik dan cakarnya menyambar dada Buto Ijo.
Bret!
Baju Buto Ijo robek terkena cakar Wangsa, tapi kulit Buto Ijo tidak ikut robek, tangan Buto Ijo balik menghantam bahu Wangsa.
Buk!
Keduanya sama-sama mundur dan saling tatap.
“Tadi kau kesal dengan monyet itu, tetapi sekarang melindunginya, sebenarnya apa maumu? Tanya Wangsa sambil menatap tajam.
“Kau tak berhak memukul kera itu, karena aku yang berhak memukulnya,” jawab Buto Ijo.
Si kera melesat ke arah Buto Ijo, kemudian duduk di bahu raksasa berkulit hijau tersebut.
Hmm!
“Hebat juga kau, sekarang sudah dapat peliharaan,” balas Wangsa melihat kera duduk di bahu Buto Ijo.
“Diam kau! Teriak Buto Ijo, sambil tangannya mengibaskan kera yang duduk di bahu.
Kera kecil berbulu hitam terlempar setelah tangan Buto Ijo mengibas, tetapi sebelum kera terjatuh ke tanah, tangan kera menyambar ranting kecil, lalu kera melenting sambil berputar dan sudah berdiri di atas pohon, sambil lompat-lompat dan jarinya menunjuk ke arah Buto Ijo.
“Sekarang kera itu marah padamu,” ucap Wangsa.
Phuih!
“Memangnya aku peduli! Seru Buto Ijo, setelah mendengar perkataan Wangsa.
Keduanya diam setelah mendengar suara jerit kera kecil itu, semakin lama suara jerit kera semakin kencang.
“Kau lihat! Kera itu mulai gila,” ucap Wangsa, melihat dan mendengar kera masih saja menjerit sambil lompat-lompat.
“Biarkan saja,” ucap Buto Ijo.
Wangsa dan Buto Ijo kembali duduk dan membiarkan kera itu, Andini dan Andira hanya bisa gelengkan kepala, melihat Buto Ijo dan Wangsa adu pukul tapi akur kembali, seperti tidak pernah ada masalah.
Setelah mereka duduk.
Suasana di tempat mereka duduk mendadak hening, binatang-binatang kecil penghuni hutan tidak bersuara, begitu pula dedaunan yang tadi melambai dan bergoyang, seolah berhenti bergerak.
Buto Ijo kerutkan kening merasakan perubahan suasana, begitupula dengan Wangsa.
“Kemana temanmu? Tanya Wangsa saat dirinya sadar, tidak lagi mendengar suara jerit kera kecil di atas pohon.
“Diam kau! Ucap Buto Ijo merasa kesal.
Baru saja Buto Ijo berkata, kain yang menjadi hamparan mendadak terangkat, semua makanan dan minuman tumpah ruah.
Wangsa dan Buto Ijo langsung lompat dan berdiri di depan Andira serta Andini yang tampak bingung.
“Kau merasa tidak? Tanya Wangsa, saat merasakan hawa siluman yang semakin lama semakin kuat.
Buto Ijo anggukan kepala mendengar perkataan Wangsa.
Keduanya tampak bersiap.
Tak lama kemudian, se ekor kera besar berbulu hitam sambil menuntun kera kecil datang menghampiri, matanya yang merah menatap bengis ke arah Buto Ijo dan Wangsa.
“Dia yang mengganggu aku, ayah! Jawab kera kecil, sambil menunjuk ke arah Wangsa.
Andini dan Andira gemetar dan takut melihat kera bisa bicara.
“Berani sekali kau ganggu anakku? Tanya Kera besar, sambil memperlihatkan gigi taringnya yang panjang.
“Aku….aku yang ganggu anakmu? Wangsa balik bertanya sambil menunjuk kera kecil yang di tuntun oleh Si kera besar.
“Hai monyet! Aku tadi membantumu, malah kau sebut mengganggu,” lanjut perkataan Wangsa dengan nada kesal.
“Aku sedang bermain-main dengan dia, kau datang mengganggu,” balas Kera kecil.
Phuih!
“Aku tahu itu hanya alasan saja,” ucap Wangsa.
“Iblis Kawi! Aku peringatkan kau, jika kau berani mengganggu kami, jangan harap kau bisa hidup sampai esok hari,” lanjut perkataan Wangsa, kali ini raut wajah sang resi tampak kelam.
Ggggrrrrrr!
Suara menggeram keluar dari mulut Iblis Kawi, mendengar perkataan Wangsa.
“Kau rupanya sudah tahu siapa aku, itu artinya kau sudah siap berhadapan denganku,” ucap Iblis Kawi.
Tanpa banyak bicara lagi, iblis Kawi melesat, tangannya menyambar pinggang Wangsa.
Buto Ijo melihat Wangsa di serang mundur, kera kecil yang tadi bersama iblis Kawi menghampiri Buto Ijo, dan berdiri di sampingnya, Buto Ijo memberikan satu buah pisang kepada kera kecil, lalu keduanya menonton iblis Kawi bertempur dengan Wangsa.
“Coba bibi lihat, kakak kedua bukannya membantu malah asyik menonton,” ucap Andira.
“Itu juga sama,” jawab Andini, sambil menunjuk kera kecil yang bersama Buto Ijo ikut menonton pertempuran.
Melihat jurus-jurus Wangsa seperti gerakan Harimau, iblis Kawi mendengus, karena ia memang tidak suka dengan Harimau, karena Harimau suka memangsa kera.
Wangsa terus menerkam iblis Kawi, tetapi Iblis Kawi bukan mahluk sembarangan, ia adalah raja kera di gunung Kawi, gerakannya lincah dan sangat cepat, tangannya lebih panjang, sehingga jangkauannya lebih dahulu sampai daripada tangan Wangsa.
Buto Ijo melirik kera kecil di sampingnya, kemudian bertanya.
“Bapakmu atau kawanku yang menang?
“Tentu saja bapakku,” jawab Si kera.
Phuih!
“Mimpi! Mana ada kera menang melawan Harimau,” balas Buto Ijo.
“Memangnya Ayahku kera biasa,” kembali kera kecil berkata.
“Kau pikir temanku itu orang biasa,” balas Buto Ijo.
“Tetapi ayahku tidak mungkin kalah oleh manusia,” kembali kera kecil berkata.
Buto Ijo terus saja beradu omong dengan kera kecil di sampingnya.
Sementara itu pertempuran antara iblis Kawi dengan Wangsa semakin hebat,
Angin
Debu serta kerikil beterbangan di sekitar keduanya.
Wangsa lompat dari batu besar ke batu yang lain, sambil menerkam Iblis Kawi.
Begitu pula iblis Kawi, pohon besar di sekitar kali, membantu Iblis Kawi dalam menyerang maupun menghindari serangan Wangsa.
Wangsa tidak menyadari karena asyik bertempur, perlahan tubuh Iblis Kawi semakin lama semakin besar, di sekeliling tubuhnya mulai muncul aura hitam yang menyelimuti Iblis Kawi.
Setelah tubuhnya membesar dan mirip se ekor gorila, kedua tangan Iblis Kawi menghantam, Wangsa melihat kedua tangan musuh menghantam, tidak mau kalah, kedua tangannya menyambut tangan iblis Kawi.
Dua pukulan mengandung tenaga dalam bertemu.
Blam!
Air kali muncrat ke atas, kerikil kecil melesat seperti peluru, pohon-pohon kecil tercabut dari tanah dan terbang entah kemana, akibat dorongan tenaga dalam kedua tokoh yang sudah tidak kuat menahan hawa amarah.
Bles!
Kedua kaki iblis Kawi dan Wangsa melesak kedalam tanah sebatas mata kaki, asap mengepul keluar dari kepala Iblis Kawi dan Wangsa akibat mengerahkan tenaga dalam tinggi dan saling dorong antar mereka.
Tangan keduanya seperti menempel dan tidak bisa mereka lepaskan, karena tenaga dalam tinggi mereka berdua yang saling dorong.
Buto Ijo menyepak bokong kera.
Plak!
“Kau tidak bantu ayahmu, kalau begitu terus keduanya bisa mati,” ucap Buto Ijo.
“Aku tak bisa mendekati mereka, kedua tenaga dalam mereka melukai siapa saja yang mendekat,” balas kera kecil, nada suara kera itu mulai cemas.
Andini serta Andira juga cemas melihat raut wajah Wangsa merah seperti udang rebus, asap putih terus mengepul keluar dari kepala, hawa tenaga dalam keduanya tampak seperti melindungi mereka berdua.
Andini mencoba dengan melemparkan batu se kepalan tangan ke arah keduanya, tetapi saat batu mendekat, batu langsung hancur menjadi debu.
“Kakak kedua, kakak pertama bisa tewas kalau tidak segera di pisah,” ucap Andini dengan nada cemas.
“Aku tahu! Tetapi tenagaku belum cukup untuk memisahkan mereka, malah nantinya aku yang terseret oleh arus putaran tenaga dalam mereka berdua,” Buto Ijo membalas ucapan Andini.
“Itu….itu kakak ketiga datang,” ucap Andira melihat Aria melangkah dengan tongkatnya, mendekati Wangsa dan Iblis Kawi.
“Kakak ketiga jangan kesana! Cepat menyingkir,” teriak Andini.
Aria tidak memperdulikan perkataan Andini, ia terus melangkah mendekat.
Setelah berada di antara keduanya, Aria menancapkan tongkat, kemudian Aria mengeluarkan Aji Cakra Candhikkala, dan menghantam ke arah kedua tangan Wangsa dan Iblis Kawi.
Blam!
Suara dentuman keras terdengar, Wangsa dan Iblis Kawi sama-sama terpental, beberapa tombak sambil muntahkan darah segar
Lobang besar tercipta akibat benturan tiga tenaga dalam tingkat tinggi.
Debu mengepul ke udara, pohon besar banyak yang tumbang.
Andini dan Andira sangat cemas karena tidak melihat Aria yang tertutup oleh debu yang mengepul.
“Kakak kedua! Kakak ketiga tewas oleh pukulan mereka berdua,” Andira berkata sambil air matanya perlahan turun.
Tetapi kedua gadis malah terbengong bengong, melihat seorang pemuda tampan berdiri tegap di sisi lubang besar, rambut panjang si pemuda berkibar tertiup angin, dada bidang si pemuda terlihat, hanya celana yang masih melekat di tubuh pemuda itu, wajah si pemuda tampak kelam dengan mata berwarna kuning ke emasan.
Baju serta caping Aria hancur terkena hawa tenaga dalam, Aria masih sempat mengalirkan tenaga dalamnya agar celana yang ia pakai bisa terlindung dan tidak ikut hancur.
Andini lalu bertanya kepada Buto Ijo.
“Siapa pemuda itu?
Buto Ijo sambil tersenyum, menjawab pertanyaan Andini.
“Raden Aria Pilong”