Iblis Buta

Iblis Buta
105 : Raden Kusumo


Aria jalan bersama Anjani, sedangkan Buto Ijo mengikuti di belakang, bersama Suketi.


“Kalau mau cium-cium, kau harus berubah dulu, biar kita seimbang,” ucap Buto Ijo.


“Aku tidak seperti siluman lain yang bisa berubah sesuka hati, ilmu yang kumiliki belum tinggi,” balas Suketi.


“Memangnya kenapa kalau yang seperti ini? Tanya Suketi dengan raut wajah cemberut.


“Kau tidak lihat, aku selalu di tertawai oleh mereka? Buto Ijo ciuman dengan kera,” Buto Ijo berkata dengan nada kesal.


“Kalau kau bisa berubah seperti Anjani, aku mau di cium sepuasnya,” lanjut perkataan Buto Ijo.


“Jika berwujud manusia, aku malu kakang Buto,” balas Suketi.


“Aneh! Kalau berwujud kera, sangat ganas main gigit, tetapi wujud manusia malu,” batin Buto Ijo.


Keduanya terus berjalan sambil beradu omong.


Tidak terasa akhirnya rombongan sampai di desa Ranu pani.


Raden Kusumo, seorang bekas Tumenggung di jaman Prabu Airlangga, yang mendapat gelar kebangsawanan dari sang Prabu, atas jasa-jasanya.


Pria yang sudah ber umur diatas 80 tahun, tapi masih terlihat gagah, sudah menunggu kedatangan resi Jayaprana serta kedua cucu kembarnya.


“Selamat datang….selamat datang resi Jayaprana,” ucap Raden Kusumo sambil memberi hormat.


“Aku sama sekali tidak menyangka, bisa bertemu dengan Raden Kusumo di Ranu pani,” ucap Resi Jayaprana sambil balas memberi hormat.


“Orang tua sepertiku, kalau ada keramaian selalu ingin tahu,” balas Raden Kusumo sambil tertawa.


“Kami juga sama seperti Raden, ingin melihat keramaian,” ucap Resi Jayaprana.


“Kakek….kakek tidak kangen sama aku! Seru Anjani sambil cemberut.


Ha Ha Ha


“Cucu kakek yang manja, bagaimana bisa kakek tidak kangen sama kenakalan mu,” Raden Kusumo berkata sambil tertawa.


“Raden, perkenalkan! Ini adalah ketua Bayusena serta ketiga muridnya, ketua padepokan Bayugeni yang di undang menghadiri pertemuan di gunung Bromo.”


Bayusena beserta ketiga muridnya memberi hormat kepada Raden Kusumo.


Raden Kusumo tersenyum sambil anggukan kepala.


“Sedangkan ini, tuan muda Aria Pilong dan pengawalnya, Jo,” ucap Resi Jayaprana.


Raden Kusumo kerutkan kening melihat Aria dan Buto Ijo yang memakai caping.


“Tidak sopan! Bertemu denganku tetapi mereka tidak membuka capingnya,” batin Raden Kusumo.


Raden Kusumo seorang pedagang yang sukses, karena sewaktu bertugas di jaman Prabu Airlangga Raden Kusumo banyak kenalan, sehingga dengan tokoh tua di kerajaan Panjalu atau Kahuripan banyak kenalan.


Raden Kusumo bersama Hadijoyo sang putra selalu di bantu oleh kawan-kawannya, sehingga usaha perdagangannya semakin berkembang dan bertambah maju, sehingga kekayaannya semakin bertumpuk.


“Kakek! Rumah kecil yang di pinggir sungai, untuk kakang Aria menginap, ya kek.” Ucap Anjani.


“Itukan untuk tempat gurumu menenangkan diri! Raden Kusumo berkata, sambil menatap cucu kesayangannya.


“Tidak apa-apa Raden! Aku bisa pakai kamar yang lain,” resi Jayaprana berkata.


Rumah tempat istirahat Raden Kusumo di desa Ranu pani memang seperti sebuah kampung kecil, banyak rumah-rumah kecil di sekitar rumah besar yang menjadi pusat dan banyak kamar untuk tamu yang datang, kampung kecil yang di kelilingi pagar tinggi, membuat para tamu nyaman dan tidak merasa terganggu.


“Semakin lama dunia ini semakin aneh saja,” ucap Raden Kusumo setelah mereka selesai bersantap.


“Aneh bagaimana Raden? Tanya Resi Jayaprana.


“Tadi sebelum kalian datang, desa Ranu pani heboh, seorang utusan menawar semua rumah dan tanah yang mau di jual di desa Ranu pani.


“Tempat istirahatku saja hendak dia beli, kalau aku mau jual,” Raden Kusumo terkadang ingin ketawa terkadang juga hatinya kesal kepada orang yang mengaku namanya Selamet.


“Apa dia bernama Selamet? Tanya Resi Jayaprana.


Raden Kusumo terkejut mendengar perkataan sang resi.


“Resi kenal dengan orang itu? Tanya Raden Kusumo.


“Kami kemarin bertemu dengannya, dia memang cerita hendak membeli desa Ranu pani untuk tempat istirahat, ketua padepokan Jagad Buwana,” jawab resi Jayaprana.


“Jadi si Selamet utusan dari padepokan jagad Buwana? Pantas saja dia sombong sekali,” balas Raden Kusumo.


“Apa Raden tahu padepokan Jagad Buwana? Sebab kami baru saja mendengar nama itu,” ucap Resi Jayaprana merasa penasaran.


Hampir 3 Purnama, banyak kejadian aneh di tanah Jawa ini, menurut penuturan para pedagang yang bekerja denganku, Anak buahku tersebar di kota-kota sehingga kabar sekecil apapun, aku pasti tahu.


“Salah satunya kemunculan padepokan jagad Buwana yang berasal dari gunung Lawu, tetapi untuk sementara, mereka tinggal di gunung Kelud bersama dengan keluarga Kemala.


“Menurut kabar yang aku dengar, Banyak tokoh hebat berlomba lomba masuk menjadi anggota padepokan jagad Buwana.


“Tetapi Jagad Buwana tidak mau menerima begitu saja, mereka memilih dengan ketat, orang orang yang masuk menjadi anggota.


“Harta mereka berlimpah dan seperti tak pernah habis.


“Padepokan baru tetapi sudah mempunyai puluhan cabang, coba kau pikir, mengejutkan bukan? Raden Kusumo berkata kepada Resi Jayaprana


“Apa Raden kenal dengan ketua Jagad Buwana? Tanya Resi Jayaprana


“Aku kenal dengan beberapa orang pengurusnya, tetapi kalau ketua Jagad Buwana, sampai saat ini masih menjadi misteri, banyak rumor beredar ketua padepokan Jagad Buwana adalah raja siluman,” jawab Raden Kusumo.


Phuih!


“Sok tahu! Ucap Buto Ijo.


“Apa kau bilang? Tanya Raden Kusumo ketika mendengar perkataan Buto Ijo.


“Kau tuli? Tanya Buto Ijo.


“Kurang ajar! Dasar manusia tidak punya tata krama, berani sekali kau berkata seperti itu padaku? Balas Raden Kusumo setelah mendengar perkataan Buto Ijo.


“Memangnya kau siapa? Tanya Buto Ijo sambil berdiri.


“Tuan Jo! Ini kakekku apa tuan Jo akan berniat tidak baik? Tanya Anjani.


Phuih!


Rama lalu mengikuti Buto Ijo, takut kalau raksasa itu mengamuk di tempat istirahat kakeknya.


Kini di ruangan hanya ada resi Jayaprana, Anjani serta Raden Kusumo.


“Siapa orang itu? Kalau bicara tidak melihat orang yang di ajak bicara.”


“Maaf kan lah dia, Raden, sipatnya memang seperti itu, tetapi hatinya baik, ucapannya seperti itu hanya di mulut saja.” Ucap Aria.


“Tolong beritahu dia! Kalau masih bersikap seperti itu, nanti dia bisa celaka,” Raden Kusumo berkata.


“Sebaiknya Raden yang jangan bersikap seperti tadi, kalau tidak ingin celaka,” balas Aria dengan nada dingin.


“Kau mengancamku, anak muda? Tanya Raden Kusumo dengan nada di dingin, sambil menatap tajam ke arah Aria.


“Guru! Seru Anjani sambil memegang lengan sang guru melihat nada bicara Aria dan kakeknya mulai memanas.


“Kenapa suasana persahabatan ini menjadi kaku? Tanya resi Jayaprana sambil menatap Raden Kusumo dan Aria.


“Maaf resi! Aku tidak suka di remehkan, seharusnya yang muda menghormati yang tua, tetapi melihat keadaannya yang tak bisa melihat, aku memaafkan,”


“Tetapi kau ingat satu hal! Jangan pernah berpikir bahwa aku seorang pedagang, jadi takut terhadap kaum pendekar.”


Aria tersenyum dingin mendengar perkataan Raden Kusumo.


Wajah Anjani pucat, sedangkan resi Jayaprana gelengkan kepala.


“Tuan yang terhormat! Aku memang buta, Tetapi asal kau tahu satu hal, biar aku buta semua orang di sini bisa ku bunuh dengan mudah.”


Ha Ha Ha


“Mulutmu sangat hebat anak muda! Apa benar perkataanmu Atau hanya bualan saja? Raden Kusumo berkata, matanya melotot menatap ke arah Aria Pilong.


Aria langsung berdiri mendengar perkataan Raden Kusumo.


Tetapi tangannya langsung di cekal erat oleh Anjani.


“Kakang Aria! Jangan kakang….Anjani mohon jangan,” ucap Anjani sambil menangis.


Hmm!


“Resi! Aku bersama abdiku akan tinggal di penginapan, setelah ketua Bayusena pergi ke Bromo, baru aku akan bergabung.


Resi Jayaprana menarik napas, lalu berkata.


“Baiklah tuan muda! Biar nanti Rama yang akan membantumu mencari penginapan di desa Ranu pani.”


“Tidak usah! Kami bisa mencari sendiri,” setelah berkata, Aria langsung melepaskan tangan Anjani, kemudian melangkah pergi.


Aria masih memandang Anjani dan Rama, karena keduanya sangat baik, sehingga tidak mau bertindak kepada Raden Kusumo.


Resi Jayaprana menarik napas panjang setelah Aria keluar, lalu di ikuti oleh Anjani.


Kini ia hanya berdua dengan Raden Kusumo.


“Rusak sudah rencanaku! Seru Resi Jayaprana sambil menatap sahabatnya.


“Apa maksudmu? Tanya Kusumo.


“Kau tahu! Cucumu sudah tumbuh besar, dan menjadi seorang gadis.


“Sekarang cucumu sedang jatuh cinta kepada tuan muda Aria, tetapi kau merusak semuanya,” Resi Jayaprana berkata.


“Apa kau bilang? Tanya Raden Kusumo dengan suara menggelegar.


“Cucuku yang cantik bagai bidadari, jatuh cinta kepada pemuda buta.


“Tidak bisa!? Teriakan keras terdengar dari mulut Raden Kusumo, warna kulit wajah Raden Kusumo perlahan berubah merah menahan hawa amarah yang meledak-ledak.


Puluhan pangeran dari Panjalu dan Kahuripan sudah antri untuk mendapat restu dariku agar bisa meminang Anjani.


“Tetapi kau bilang Cucuku suka sama orang buta? Tidak bisa,” ucap Raden Kusumo.


“Sekarang memang sudah tak bisa! Balas Resi Jayaprana.


“Aku berteman denganmu sudah lama, kali ini dengarkan nasehatku, jangan ganggu pemuda itu jika kau tidak ingin celaka.”


“Selagi pemuda itu tidak mendekati cucuku, aku tidak akan mengganggunya,” balas Kusumo.


“Aku berkata untuk kebaikanmu sendiri.


Raden Kusumo diam mendengar perkataan sang kawan, tetapi ia mempunyai pikiran lain, dengan uang apapun bisa ia beli, bahkan nyawa sekalipun.


“Jika si buta tidak mendekati cucuku, aku akan diam, tetapi jika sampai dia main gila! Aku akan menyewa pembunuh bayaran berapapun biayanya, untuk membunuh si buta.”


***


Di kaki gunung Kelud, rombongan berkuda Bergerak rapi menyusuri jalan.


Panji-panji kebesaran di arak oleh para pendekar berkuda.


Padepokan Jagad Buwana langsung bergerak setelah menerima kabar dari sang utusan, bahwa tempat menetap untuk menghadiri pertemuan, sudah tersedia.


Wangsa, Singabarong serta nyai Kidung kencana memutuskan ber angkat menuju Bromo.


Saat Wangsa berkuda ber iringan dengan Singabarong, keduanya bercakap cakap.


“Apa Selamet sudah memberi kabar, dimana tempat untuk padepokan jagad Buwana menetap? Tanya Wangsa.


“Sudah Resi! Selamet bilang kita langsung saja menuju kesana, semua sudah di persiapkan oleh Selamet,” Jawab Singabarong.


“Dimana tempat kita menetap? Kembali Wangsa bertanya.


Singabarong lalu menjawab.


“Desa Ranu pani”