
Sarka berdiri di depan Senopati Aji gatra sambil menatap tajam Serigala hitam.
“Sepertinya aku pernah melihatmu? Tanya Serigala hitam.
“Bawa Senopati Aji gatra turun! Seru Sarka, kepada prajurit yang berada di sekitar Arena.
Beberapa prajurit naik, lalu membawa Senopati Aji gatra turun dari arena sayembara.
Raut wajah Serigala hitam berubah kelam setelah pertanyaannya tidak di gubris oleh Sarka alias Jaka Samudera.
Sedangkan Panglima Sanjaya raut wajahnya tampak cemas, melihat sang putra sudah berada di tengah arena.
“Tumenggung Wirabumi! apa sayembara ini tidak ada aturannya? Tanya Serigala hitam.
“Tutup mulutmu! Ucap Tumenggung Wirabumi sambil berdiri dan menunjuk, mendengar perkataan Serigala hitam.
“Lantas kenapa orang ini bisa masuk arena sayembara? Tanya Serigala hitam sambil menunjuk ke arah Sarka.
“Kenapa tidak bisa? Ucap Tumenggung Wirabumi dengan suara kencang dan bisa di dengar oleh mereka yang menonton sayembara, “saudara Sarka sudah terdaftar dan masuk putaran kedua,” lanjut perkataan Tumenggung Wirabumi.
Sementara di kursi kehormatan, Senopati Singalodra bertanya kepada Prabu Samarawijaya.
“Apa baginda Prabu kenal dengan orang itu? Tanya Singalodra.
“Dia anak buah Aria Pilong,” jawab Prabu Samarawijaya.
Raut wajah Senopati Singalodra berubah, mendengar perkataan Prabu Samarawijaya, sambil matanya menatap ke arah sekeliling mencari sosok bercaping serta seorang pria bertubuh raksasa.
Tetapi Singalodra tidak menemukan apa yang dia cari.
Bibir Singalodra lalu tersenyum.
Sedangkan raut wajah panglima Sanjaya tampak kelam, sambil matanya sesekali melirik ke arah Senopati Singalodra penuh ancaman.
Panglima Sanjaya menitipkan putranya Jaka samudra dari kecil untuk di didik kepada resi Maung Bodas.
Setelah Jaka Samudera besar dan kembali ke rumah, panglima Sanjaya berencana menikahkan putranya dengan putri seorang Hulubalang kerajaan Galuh.
Jaka Samudera menolak dan memilih pergi meninggalkan rumah.
Panglima Sanjaya cemas, apa putranya sanggup melawan Serigala hitam? karena panglima Sanjaya belum melihat kemampuan sesungguhnya dari sang putra.
Wulan dan Sekar Arum dari tempat berbeda, menatap cemas ke tengah arena.
“Aku baru ingat, kau anak buah si buta,” ucap Serigala hitam.
“Raden Aria, Kehed! Buta….Buta, nanti matamu yang aku bikin buta,” balas Sarka dengan nada geram.
“Bangsat! Teriak Serigala hitam sambil melesat menyerang Sarka.
Sarka tundukkan tubuh melihat cakar baja Serigala hitam menyambar kepala, setelah berhasil menghindari serangan Serigala hitam, kemudian kaki kanan Sarka balik menyerang, ke arah pinggang Serigala hitam.
Serigala hitam menangkis dengan tangan kiri.
Plak!
Sarka tidak seperti Aji gatra yang meringis kesakitan, saat kaki dan tangan mereka beradu.
Sarka lompat, sambil tangan kanan berbentuk cakar menyambar ke arah bahu Serigala hitam.
Serigala hitam terkejut, tak menyangka tenaga dalam sang musuh tidak berada di bawahnya, belum hilang rasa kejut Serigala hitam, bahunya sudah di serang.
Serigala hitam hentakan kaki kanan ke lantai arena, tubuhnya langsung bergerak mundur se tombak menghindari serangan Sarka, tetapi kembali serangan cakar, jurus 10 cakar maung,cipataan gurunya berhasil merobek baju dan sedikit kulit bahu kiri Serigala hitam.
Bret!
Serigala hitam menatap tajam ke arah Sarka, dari hidungnya keluar suara dengusan, tanda hawa amarahnya memuncak.
Brak!
Kaki kiri menghentak ke lantai arena, untuk bantu mendorong tubuhnya melesat lebih cepat menyerang ke arah Sarka.
Tangan kanan menyambar kepala Sarka, sedangkan tangan kiri siap melancarkan serangan susulan, ke arah Sarka jika menghindar.
Sarka bergerak ke kanan, menghindari sambaran Serigala hitam, tetapi cakar baja di tangan kiri bergerak menyabet pinggang Sarka.
Sarka melesat lompat dua tombak ke udara, kemudian tubuhnya melesat menyerang dari udara, ke arah kepala serigala hitam.
Melihat musuh berhasil menghindar dan balik menyerang hendak mencengkeram kepalanya, Serigala hitam silangkan kedua lengan di atas kepala, berusaha menahan serangan Sarka.
Plak!
Tangan kanan Sarka menghantam tangan Serigala hitam, tetapi Serigala hitam tidak menyangka, setelah ia berhasil menangkis serangan tangan Sarka, kedua kaki pemuda itu turun dari atas dan menghantam dadanya.
Buk!
Serigala hitam terpental beberapa tombak, dan dadanya terasa sesak.
Serigala hitam berdiri, dan langsung mengelap bibir dengan pangkal lengan, setelah merasakan bibirnya terasa asin.
Perlahan darah meleleh dari sisi bibir Serigala hitam.
Suara riuh dan sorak sorai penduduk serta prajurit yang menyaksikan Serigala hitam terpental, langsung membahana di sekitar Arena.
Sedangkan raut wajah Senopati Singalodra tampak kelam setelah melihat anak buahnya terkena hantaman seorang pemuda yang namanya tidak di kenal di dunia persilatan.
Panglima Sanjaya tersenyum bangga melihat putranya berhasil mendesak Serigala hitam, yang notabene adalah tokoh golongan hitam yang tersohor, dan ketua No. 3 dari padepokan Tangan hitam yang di takuti di daerah utara.
Suara cemooh dan ejekan dari penonton membuat Serigala hitam gelap mata.
Setelah teriak kencang, tubuhnya melesat dengan cepat ke arah Sarka, dua cakar baja di kiri dan kanan, menghantam menyilang ke arah dada Sarka, berusaha merobek dada Sarka menjadi 4 bagian.
Melihat serangan ganas Serigala hitam.
Sarka membuka kedua kaki, kuda-kuda terpasang, lalu mulutnya merapalkan mantra untuk mengambil senjata yang ia simpan di dalam tubuh.
Setelah berhasil, Sarka langsung menebaskan senjata kujang perak dengan gagang terbuat dari gading dengan ujung gagang berbentuk kepala macan berwarna putih, ke arah tengah serangan cakar baja Serigala hitam yang menyilang.
Whut…Trang!
Cakar baja milik Serigala hitam putus terkena sambaran Kujang pusaka Macan putih.
Serigala hitam terkejut dan berusaha mundur setelah melihat kedua cakar baja miliknya putus terkena senjata musuh.
Sarka melihat tubuh Serigala hitam hendak bergerak mundur, kembali kujang pusaka milik Sarka melesat ke arah bahu kiri serigala hitam.
Crash!
Raungan di sertai jeritan panjang terdengar dari mulut Serigala hitam, setelah lengang kiri sebatas bahu putus terkena sabetan senjata musuh.
Dengan sekuat tenaga sambil menahan sakit, Serigala hitam jatuhkan diri dan berguling menjauh dari Sarka, karena takut pemuda itu kembali menyerang.
Lantai arena berubah merah oleh darah Serigala hitam yang berceceran.
Sarka melihat musuhnya mundur sambil berguling, bergerak kembali menyerang Serigala hitam.
Tetapi satu bayangan hitam dengan sangat cepat menghantam ke arah pergelangan tangan Sarka yang tengah memegang Kujang pusaka.
Plak!
Tangan kiri Sarka menangkis serangan musuh, keduanya lalu sama-sama mundur.
Setelah Sarka mundur, terlihat di tengah arena, Lowo Ireng tengah mengurut bahu Serigala hitam dan berusaha menutup urat di bahu kawannya itu, lalu menaburkan bubuk putih, obat untuk mengeringkan luka, agar darah tidak keluar lagi dari tangan kiri serigala hitam yang putus, terkena sabetan Kujang Sarka.
Kegaduhan terjadi, saat di sebelah utara Arena sayembara, anak murid Padepokan Tangan hitam langsung merangsek, hendak naik ke arena sayembara setelah melihat salah satu tangan pemimpin mereka putus, ratusan prajurit langsung mengepung orang-orang dari padepokan Tangan hitam.
“Bunuh siapapun yang hendak mengacau sayembara,” teriak Prabu Samarawijaya berkata dengan lantang.
Tumenggung Wirabumi tersenyum dan anggukan kepala mendengar perkataan sang Raja.
Senopati Singalodra memberi isyarat mata kepada Bahurekso agar menenangkan anak buahnya, setelah mendengar perkataan Prabu Samarawijaya.
Kerusuhan akhirnya reda setelah Bahurekso menenangkan anak buahnya.
Dua orang anak murid padepokan Tangan hitam naik ke arena dan memapah Serigala hitam turun.
Mata Serigala hitam terus menatap ke arah Sarka dengan penuh dendam.
“Naon sia melong ae ka Uing*? Tanya Sarka, sambil membalas tatapan Serigala hitam.
Serigala hitam tak menjawab, karena ia tak mengerti apa yang di katakan oleh Sarka.
Setelah Serigala hitam turun, kini di atas arena hanya ada dua orang.
“Berani sekali kau mencelakai salah satu dari ketua padepokan Tangan hitam! Seru kelelawar hitam.
“Siapa kau? Tanya Sarka melihat kakek tinggi kurus berwajah bengis yang tadi telah menangkis serangannya.
“Aku kelelawar hitam, orang yang akan mencabut nyawamu hari ini,” jawab kelelawar hitam.
Bhua Ha Ha Ha.
Sarka tertawa mendengar julukan Kelelawar hitam.
“Bangsat! Siapa yang kau tertawai kampret? Tanya Kelelawar hitam.
“Tentu saja aku menertawai kau, kampret! Jawab Sarka.
Kemudian pemuda itu lanjut berkata.
“Rupa we serem, ari gelar Codot Hideung*.”
————————————————————
Buat yang tidak paham bahasa Sunda, saya kasih tanda bintang dan artinya di bawah.
Mau apa terus melihat ke arahku*
Wajah bengis, tetapi gelar, kelelawar pemakan buah ( Codot ) berwarna hitam*