Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 27 : Apa Aku Boleh Ikut?


Setelah di rawat oleh Wulan dan istirahat 2 hari, serta di kawal ketat oleh Buto Ijo, kesehatan Aria Pilong kembali pulih seperti sediakala.


Nyi Selasih memberitahu cerita Naga langit kepada Aria tentang Ramalan Resi Lanang jagad serta kekacauan yang akan terjadi di tanah Jawa.


“Apa Ki Birawa pernah cerita kepada Raden tentang Kitab 7 racun? Tanya Nyi Selasih.


“Ki Birawa tidak pernah cerita, tetapi aku pernah mendengar perkataan Ki Birawa, bahwa kitab 7 racun adalah pusaka padepokan Wisanggeni,” jawab Nyi Selasih.


“Jadi kitab 7 racun berada di padepokan ini? Kembali Nyi Selasih berkata.


“Aku tidak bisa memastikan ada tidaknya kitab itu di padepokan Wisanggeni,” jawab Aria, mendengar perkataan Nyi Selasih.


“Apa Raden sudah menanyakan keberadaan kitab itu kepada Wisesa? Kembali Nyi Selasih bertanya.


“Aku belum bertanya Nyi, karena padepokan Wisanggeni masih dalam keadaan berkabung,” balas Aria.


Percakapan Aria dengan Nyi Selasih terhenti, ketika mendengar suara di depan kamarnya.


“Masuk saja! Ucap Aria saat mendengar suara Wulan yang bicara kepada Buto Ijo, di depan pintu kamar.


Wulan masuk dengan wajah cemberut sambil sesekali melirik ke arah pintu.


“Pengawalmu itu sungguh terlalu, kita kan sudah sering bersama dan saling bantu, kenapa Buto Ijo selalu saja curiga padaku! Setiap ingin bertemu kau, selalu saja bertanya macam-macam,” Ucap Wulan dengan nada kesal.


“Kenapa kau ambil hati, biarkan saja karena memang sipatnya sudah seperti itu,” balas Aria.


“Tetapi Buto Ijo sudah keterlaluan, aku ini tuan rumah, tetapi seperti tamu di rumah sendiri,” Wulan membalas perkataan Aria.


Setelah selesai membahas Buto Ijo, Wulan menatap Aria, lalu berkata.


“Ada satu pesan kakek, sebelum ia menghembuskan napas terakhir,” ucap Wulan dengan nada sedih.


“Apa pesan kakekmu? Tanya Aria.


“Kakek berpesan agar aku ikut kemana kau pergi? Ucap Wulan sambil tundukkan kepala, raut wajahnya tampak merah ketika berkata.


Hmm!


Suara tarikan napas dari mulut Aria terdengar, ketika Wulan selesai berkata.


“Kau pasti keberatan? Tanya Wulan setelah mendengar tarikan napas dari Aria.


“Bukannya aku keberatan! Kau kan masih punya ayah, belum tentu ayahmu setuju jika kau ikut denganku, lagipula aku mendapat amanat dari Leluhur Naga langit agar segera menuju gunung Semeru, bertemu dengan Resi lanang jagad dan perjalananku sangat berbahaya, jika kau ikut denganku! Aku takut kau celaka,” Aria berkata.


“Aku sudah bicara dengan ayah dan ayah menyerahkan semua keputusan kepadaku, karena menurut ayah, padepokan Wisanggeni sudah tidak aman lagi, tetapi aku sadar aku tidak pantas ikut bersama kalian, karena aku hanya akan menjadi beban dalam perjalanan kalian,” ucap Wulan saat mendengar perkataan Aria, mata Wulan tampak berkaca-kaca ketika berkata.


“Jika kitab 7 racun tidak ada di padepokan Wisanggeni, aku rasa padepokan Wisanggeni akan aman,” ucap Aria.


Aria sengaja memancing Wulan, apakah Wulan tahu tentang kitab 7 racun.


“Kitab 7 racun memang tidak ada di padepokan Wisanggeni, tetapi tetap saja mereka tidak percaya dengan perkataan kami, dan terus mencari masalah dengan Wisanggeni,” Wulan berkata.


“Jadi….jadi tuduhan mereka kepada Wisanggeni, tentang kitab 7 racun hanya akal-akalan saja? Tanya Aria.


“Bukan akal-akalan! Kitab 7 racun memang tidak ada di padepokan Wisanggeni, tetapi berada di tempat lain,” jawab Wulan.


“Kenapa kitab pusaka padepokan Wisanggeni bisa berada di tempat lain? Tanya Aria berusaha mengorek keterangan dari mulut Wulan.


“Jika berada di sini, kau pikir kami semua masih hidup sekarang? Ucap Wulan.


“Jadi kau tahu keberadaan kitab 7 racun? Tanya Aria dengan wajah penasaran.


“Tentu saja aku tahu, karena kakek sebelum meninggal memberitahu aku dimana kitab itu berada,” jawab Wulan.


“Dimana kitab itu Wulan? Jika sampai kitab itu jatuh ke tangan Resi Larang tapa, kekacauan akan terjadi di tanah Jawa,” Ucap Aria.


“Aku akan memberitahu dimana kitab itu berada, jika kau mau berjanji padaku! Seru Wulan.


“Apa yang harus ku janjikan kepadamu? Tanya Aria.


“Kau harus janji membawaku kemana saja kau pergi,” Wulan berkata dengan nada pelan.


“Kalau kau ikut kemana aku pergi, apa kau mau tidur denganku? Tanya Aria, karena Aria sering mendengar jika sering pergi bersama, tidurpun selalu bersama sama.


Cis!


“Sudah buta, cabul lagi,” ucap Wulan setelah mendengar perkataan Aria.


“Apa itu cabul? Tanya Aria


Wulan jadi serba salah dan bingung untuk menjelaskan apa arti cabul.


“Sudahlah jangan di bahas,” ucap Wulan.


“Jadi bagaimana, apa kau setuju? Tanya Wulan kembali karena Aria belum memberi kepastian, “kalau kau setuju, aku juga mau tidur bersama, setelah kita resmi,” Lanjut perkataan Wulan sambil tundukkan kepala.


Tiba-tiba tongkat kayu cendana di samping kursi Aria naik, kemudian jatuh dan menimbulkan suara keras.


Brak!


Pintu kamar terbuka, Buto Ijo masuk dan bertanya kepada Aria sambil matanya menatap ke arah sekeliling ruangan.


“Apa Raden tidak apa-apa?


“Aku tidak apa-apa! Jawab Aria


“Kau….kau lakukan apa terhadap Raden? Sampai banting-banting segala,” tanya Buto Ijo sambil melotot.


Biasanya Wulan marah jika Buto Ijo bersikap seperti itu, tetapi kali ini setelah Wulan berkata akan ikut bersama Aria, ia harus bisa hidup bersama dengan Buto Ijo yang selalu menjaga Aria.


“Paman Buto Ijo! Aku tadi lagi bicara sama kang Aria, tiba-tiba tongkat kang Aria jatuh,” ucap Wulan dengan nada pelan, sambil wajahnya tampak berusaha menahan sabar.


“Paman….mana pamanmu? Tanya Buto Ijo sambil berbalik ke belakang.


“Perasaan aku bilang, paman Buto Ijo, lantas dia cari siapa? Tanya Wulan dalam hati.


“Siapa di luar? Tanya Aria sambil melesat ke arah jendela.


Brak!


Ketika jendela terbuka, Aria melihat sinar merah melesat menjauh dari kamarnya, dan bergerak sangat cepat keluar dari padepokan Wisanggeni.


“Itu Hantu api Raden, anak buah Ki Loreng geni,” ucap Nyi Selasih dengan nada bergetar.


Aria setelah berhasil menyatukan kekuatan dengan sebagian kekuatan Naga langit yang ada di dalam tubuhnya, kini bisa melihat aura tenaga dalam yang keluar dari dalam tubuh manusia maupun mahluk ghaib, jika ia mengerahkan kekuatan ke arah mata.


Itu sebabnya Aria bisa melihat sinar merah melesat menjauh dari padepokan Wisanggeni.


“Buto Ijo cepat kejar dari arah lain, jangan sampai Hantu api lolos!? Teriak Nyi Selasih dengan nada cemas.


Buto Ijo langsung melesat keluar kamar, lalu berlari ke belakang.


Wulan yang melihat Buto Ijo malah lari ke belakang, kerutkan keningnya.


“Pintu ada di depan, kenapa Buto Ijo lari kebelakang,” batin Wulan.


Aria melesat dari jendela kamar, dengan bimbingan Nyi Selasih, sedangkan Wulan bersama Wisesa dan beberapa murid padepokan Wisanggeni mengejar di belakang Aria.


Aria terus mengejar sinar merah dengan Aji Bayu samparan.


Whut!


Aria terus mengejar sinar merah yang semakin lama semakin dekat.


Sebelum turun dari Bukit setelah lompat melewati sinar merah, akhirnya Aria Pilong berhasil mencegat Hantu api.


“Sedang apa kau di padepokan Wisanggeni? Tanya Aria sambil menatap tajam, Aria dapat melihat mahluk di depannya seperti bayangan tubuh manusia, tetapi tubuhnya di kelilingi oleh api yang menyala-nyala.


Wulan serta Wisanggeni tak lama kemudian sampai di tempat Aria.


Wulan, Wisesa dan murid padepokan Wisanggeni hatinya bergidik melihat, Aria bicara dengan Bola api yang tengah melayang-layang.


“Manusia jadi-jadian! Jangan halangi aku jika tak ingin terbakar,” ucap Hantu api.


“Diam kau! Jadi Ki Loreng geni sudah menjadi anak buah Resi Larang tapa? Tanya Aria dengan senyum mengejek.


Aria yakin berkata seperti itu, karena mereka saling terkait dan mempunyai tujuan yang sama, yakni kitab 7 racun.


“Tutup mulutmu! Majikan kami akan lakukan apapun, jika bisa menikahi Nyi Selasih,” ucap Hantu api yang memang sengaja datang ke padepokan Wisanggeni, untuk mencari tahu keberadaan kitab 7 racun.


Sementara di sisi lain, Wulan bertanya kepada ayahnya.


“Ayah! Mahluk apa itu ayah dan sepertinya bola api itu sedang bercakap-cakap dengan kang Aria? Tanya Wulan.


“Itu mahluk siluman yang suka usil dan menyerang manusia, manusia seperti kita menyebut mahluk itu dengan nama Banaspati,” jawab Wisesa.


“Kalau begitu kang Aria dalam bahaya,” ucap Wulan dengan wajah cemas.


“Kemana raksasa tolol itu, kenapa lama sekali! Padahal dia lebih cepat dari kita, tapi jika di butuhkan susah sekali datangnya,” lanjut perkataan Wulan sambil sesekali melihat ke belakang, mencari Buto Ijo.


“Bunuh dia Raden,” ucap Nyi Selasih dengan nada cemas.


“Ada apa denganmu Nyi, nada Nyi Selasih seperti cemas? Tanya Aria.


“Kami bangsa ular takut dengan api jadi jika bertemu dengan mahluk ini, kami selalu menghindar,” jawab Nyi Selasih.


“Rupanya begitu,” balas Aria sambil bersiap.


Aria melesat menyerang, sinar merah bergerak cepat menghindari hantaman Aria.


Whut!


Setelah serangannya berhasil di hindari, Aria berbalik lalu tongkatnya memutar dan menghantam ke arah kepala Hantu api.


Shing!


Hantu api tundukkan kepala, kemudian dari bawah, tangannya menghantam ke arah dada Aria.


Whut!


Aria mundur setengah tombak, menghindari pukulan Hantu api, setelah mundur, Aria melesat kembali, tongkat kayu cendana lurus menuju ke arah dada Hantu api.


Hantu Api melentingkan tubuhnya sambil mundur, menghindari tusukan Aria.


“Awas….minggir jangan halangi jalan!? Suara teriakan terdengar.


Wulan, Wisesa serta anak murid padepokan Wisanggeni yang mendengar teriakan langsung bergerak memberi jalan.


Wulan kerutkan kening melihat Buto Ijo lari sambil membawa gentong besar di atas kepala.


“Apa yang sedang ia lakukan dan apa yang dibawanya itu? Tanya Wulan dalam hati melihat Buto Ijo.


Hantu api yang tengah berhadapan dengan Aria, tidak menyadari sebuah benda besar dan berat melesat ke arahnya dari belakang.


Setelah benda itu dekat, Hantu api langsung menghantam ke belakang.


Brak….Byur….Cess!


Hantu api terkejut, benda berat yang ia hantam, ternyata gentong berisi Air yang langsung menyiram ke arah tubuhnya.


Api yang menyala-nyala di tubuh mahluk itu langsung menghilang.


“Keparat! Siapa yang berani main-main denganku? Teriak Hantu api dengan nada gusar, sambil berbalik.


Hantu api melihat di depannya berdiri seorang pria bertubuh besar berkulit hijau tengah menyeringai sambil menatap buas ke arahnya, sambil berkata.


“Aku! Hantu air.”