
Hmm!
“Jadi kalian ingin mengeroyok ku? Tanya Mpu Barada.
“Tergantung apa yang ingin kau lakukan kepada kawan kami,” balas Aria.
“Bagus….bagus! Tidak percuma Lanang Jagad mempercayakan dua ilmu Mustika kepadamu.
“Aku hanya menguji kesetiaan kalian semua, tentang darah siluman yang aku katakan memang benar di butuhkan, tetapi tidak banyak, hanya untuk membuka segel dan tidak akan sampai membunuh anak iblis Kawi,” ucap Mpu Barada sambil tersenyum.
“Memang kau butuh berapa banyak darah Suketi? Tanya Buto Ijo.
“Setengah ruas bambu sebesar lengan….
“Ya mati! Kalau kau ambil sebanyak itu,” Seru Buto Ijo memotong perkataan sang Mpu.
“Kau tidak lihat seberapa besar tubuh Suketi? Lanjut perkataan Buto Ijo.
“Diam dulu kalau orang tua bicara, dari tadi kau terus memaki aku, bangsat! Ucap Mpu Barada saking kesalnya sampai berbicara kasar, karena terus di maki oleh Buto Ijo.
“Diam,Jo! Seru Wangsa, mendengar perkataan Mpu Barada.
Kali ini Buto Ijo tidak membantah perkataan Wangsa, ia diam dan mau mendengarkan perkataan Mpu Barada.
“Suketi! Bentuk tubuhmu yang seperti ini, jadi kau tidak perlu menggunakan banyak tenaga, tetapi kalau kau berubah sebesar rumah, apa darahmu yang di ambil setengah ruas bambu akan menjadi masalah? Tanya Mpu Barada.
“Tidak Mpu! kalau tubuhku membesar, darahku juga akan bertambah banyak,” jawab Suketi.
“Kau dengar tidak, perkataan Suketi? Tanya Mpu Barada sambil melotot ke arah Buto Ijo.
“Bilang dari tadi seperti ini, jangan bicara belat belit, sana sini,” jawab Buto Ijo balas melotot.
“Sabar, Jo! Seru Wangsa.
“Diam kau, jangan bikin aku tambah kesal! Seru Buto Ijo sambil menunjuk Wangsa.
Hmm!
Suara dengusan Aria, langsung membuat Buto Ijo dan Wangsa diam.
“Silahkan, Mpu Barada lanjutkan! Seru Aria.
Mpu Barada anggukan kepala mendengar perkataan Aria.
Mpu Barada memberi isyarat kepada Suketi untuk mendekat.
Suketi turun dari bahu Buto Ijo, kali ini Suketi tidak ragu dan takut, setelah Mpu Barada menjelaskan tentang darah yang akan digunakan.
Setelah Suketi berdiri di depan Mpu Barada.
Mpu Barada mengibaskan tangannya ke arah Suketi, setelah tangan Mpu Barada mengibas, perlahan tubuh Suketi berubah menjadi gadis manis yang Buto Ijo lihat sewaktu di gunung Kawi.
Buto Ijo hendak mendekat, setelah melihat Suketi berubah menjadi gadis manis yang cantik.
Tetapi tangannya di tarik oleh Wangsa.
“Mau kemana kau? Tanya Wangsa.
“Aku mau menemui calon istriku,” Jawab Buto Ijo.
“Kalau kau dekati, Suketi akan berubah lagi menjadi kera, jadi sebaiknya kau lihat saja dari jauh,” bisik Wangsa.
“Apa benar? Tanya Buto Ijo.
“Masa aku berbohong
Padamu,” jawab Wangsa.
Buto Ijo hentikan langkah dan menuruti perkataan Wangsa.
Mpu Barada mengeluarkan wadah seperti kendi kecil dari balik baju, kemudian memberikan Kendi kecil kepada Suketi.
“Isi kendi ini dengan darahmu! Seru Mpu Barada.
Suketi anggukan kepala, kemudian mengambil kendi kecil dari tangan Mpu Barada.
Suketi menggigit jari telunjuknya, setelah jari telunjuknya mengeluarkan darah, darah kemudian di tampung di kendi kecil pemberian Mpu Barada.
Setelah Kendi kecil sudah ter isi darah, Suketi lalu memberikan kendi kepada Mpu Barada.
Jari tangan Mpu Barada mengusap bekas darah di bibir kendi, sebelum menutup kendi, jari Mpu Barada menyentil ke arah Raden Untung.
Satu titik sinar merah yang tak lain darah Suketi, melesat mengenai tubuh Raden Untung.
Asap tipis mengepul dari tubuh Raden Untung, setelah tubuhnya terkena darah Suketi.
Tak lama kemudian Raden Untung berdiri, lalu tangannya menghantam ke arah pohon besar yang ada di sampingnya.
Brak!
Batang pohon besar langsung berderak dan patah, setelah terkena hantaman tinju Raden Untung.
Ha Ha Ha
“Aku sudah pulih….aku sudah Pulih! Raden untung berkata setelah tertawa senang.
Aria tersenyum, begitupula dengan Mpu Barada serta yang lain melihat Raden Untung sudah pulih kembali.
Kalasrenggi matanya melirik ke arah kendi yang di pegang Mpu Barada dan Suketi.
Mpu Barada tersenyum, kemudian memberikan Kendi kecil yang berisi darah Suketi kepada Aria, sambil membiakkan sesuatu ke telinga Aria.
Aria kerutkan kening, lalu kepalanya mengangguk setelah mendapat bisikan dari Mpu Barada.
Setelah memberikan kendi kecil, Mpu Barada berkata kepada Aria dan anak buahnya.
“Carilah hujan dan niscaya kau akan melihat pelangi, tetapi jangan mengejar badai, karena kau akan terhempas.
“Pergilah ke arah timur, di Panarukan ( Situbondo ) kau akan menemui apa yang kau cari, tetapi kalian harus hati-hati, karena Panarukan dekat dengan Alas Purwo, banyak orang-orang padepokan Elang Emas di sana,” Mpu Barada berkata.
“Terima kasih atas petunjuk Mpu Barada, kami akan segera berangkat ke Panarukan, setelah berhasil membebaskan kan gadis itu, kami akan langsung berangkat ke alas Purwo,” balas Aria.
Mpu Barada anggukan kepala mendengar perkataan Aria, lalu berbalik dan tubuhnya melesat dengan sangat cepat, menghilang diantara pohon rindang.
Setelah Mpu Barada pergi.
Kalasrenggi langsung menghampiri Aria.
Kemudian bertanya.
“Apa yang Mpu Barada katakan tadi kepada Ketua? Tanya Kalasrenggi.
“Perkataan yang mana? Tanya Aria, lanjut perkataan Aria, “bukankah kau serta yang lain mendengar apa yang di katakan oleh Mpu Barada.”
“Kami memang mendengar, tetapi sewaktu Mpu Barada berbisik kepada ketua, aku dan mungkin yang lainnya tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Mpu Barada,” balas Kalasrenggi.
“Kenapa kau sangat tertarik dengan apa yang di ucapkan Mpu Barada kepada ketua? Tanya Wangsa dengan kening berkerut.
“Aku hanya penasaran dengan apa yang di katakan! sampai berbisik, apa kau tidak penasaran? Tanya Kalasrenggi sambil menatap tajam ke arah Wangsa.
“Untuk apa aku penasaran, kalau ketua tahu, nanti kami juga akan tahu, tetapi sekarang mungkin bukan waktu yang tepat bagi kami untuk tahu,” jawab Wangsa.
“Tahu….tahu, tahu saja yang kau bicarakan, Coba kau lihat! Tidak kuhampiri, Suketi tetap berubah menjadi kera,” Buto Ijo berkata kepada Wangsa dengan nada kesal sambil melihat Suketi yang sudah berubah menjadi Kecil.
“Kenapa kau salahkan aku? Kau tanya saja Suketi, kenapa dia berubah kembali menjadi kera.” Balas Wangsa
“Sudah….Sudah! Sekarang kita bersiap menuju Panarukan.
“Tadi Mpu Barada berbisik kepadaku, untuk menjaga darah ini, karena darah ini sudah di beri mantra olehnya, untuk menangkap gadis itu dan bisa menjadi obat untuk mengatasi Racun ghaib jarum tongkat emas, jika darah di kendi ini hilang atau pecah, maka usaha kita akan sia-sia,” Aria berkata memberi penjelasan, apa yang tadi di katakan Mpu Barada kepadanya.
Mata Kalasrenggi melirik tajam
setelah mendengar perkataan Aria, lalu berjalan menghampiri Aria.
“Aku tak percaya Mpu Barada berbisik hanya untuk mengatakan hal seperti itu, pasti ada yang kau sembunyikan dariku,” Kalasrenggi berkata dalam hati sambil berjalan.
“Memang buka itu yang di katakan oleh Mpu Barada,” Batin Aria mendengar suara langkah kaki mendekat.
“Mpu Barada memberitahu aku agar berhati hati, siapa yang tertarik kepada kendi kecil yang ia berikan, maka orang itu mempunyai tujuan lain di dalam hatinya,” lanjut perkataan Aria dalam hati.
Aria menatap ke arah Langkah kaki yang berhenti di depannya, lalu terdengar suara Kalasrenggi berkata kepada Aria Pilong yang berhenti di hadapannya.
“Ketua! Boleh aku lihat kendi kecil itu?